Oleh :
Umar Sholahduin
Dosen Pendamping Lapngan (DPL) KKN UWKS di Desa Randupadangan, Kab. Gresik
Salah satu persoalan krusial menuju Indonesia Emas 2045 adalah ketersediaan Sumber Daya Mansia yang unggul dan kompentitif. Ada tiga aspek untuk dapat mewujudkan SDM yang unggul dan kompetitif tersebut yakni literasi dasar, karakter, dan kompentensi. Tingkat literasi anak Indonesia tahun 2024 masih menjadi tantangan serius dengan kondisi memprihatinkan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti mengatakan; 75% anak usia 15 tahun berada di bawah standar kompetensi minimum, yakni mereka mampu membaca namun kurang memahami isi bacaan(Tempo.com).
Berdasarkan data survei Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, Indonesia berada pada peringkat ke-63 dari 81 negara dalam literasi membaca. Tantangan utamanya adalah anak mampu membaca teknis, namun seringkali kesulitan memahami ide pokok teks yang panjang.Peringkat di Asia Tenggara: Indonesia berada di posisi ke-6 di Asia Tenggara dalam hal kemampuan membaca siswa. Faktor Penyebab: Terbatasnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas, perpustakaan, serta kurangnya budaya baca sejak dini menjadi penyebab utama rendahnya tingkat literasi
Jika kita komparasi, tingkat melek baca anak-anak di desa dengan di kota, masih terdapat tingkat disparitas yang tinggi. Artinya tingkat melek baca anak-anak desa lebih rendah daripada anak-anak di kota. Menurut CBS Household Labour Survey, desa yang lebih banyak berkarakter masuh dalam daerah tertinggal merupakan daerah yang memiliki angka putus sekolah atau tingkat pendidikannya lebih rendah dibanding kota. Banyak anak-anak yang bekerja setelah lulus dari sekolah dasar, tidak mampu melanjutkan sekolah lebih tinggi. Penyebanya di antaranya faktor kemiskinan, kurangnya pengaruh orang tua dalam memotivasi anak, dan sulitnya akses Pendidikan, serta minimnya perhatian pemerintah setempat dalam memperhatikan anak-anak yang ada di Desa.
Atas kondisi atas, salah satu kegiatan riil Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya di Desa Randupadangan, Kecamatan Menganti,Kabupaten Gersik adalah mengadakan sarasehan yang melibatkan sekolah, orang tua dan anak, bagaimana menumbuhkan literasiatau melek baca anak-anak di Desa Randupadangan. Secara demogafis, khususnya tingkat pendidikan berdasarkan data tahun 2024, masyarakatdiDesaRandupadanganmemilikitingkatpendidikanmasih rendah. Sebanyak 1870anak dengan Tingkat Pendidikan tamat SD/sederajat, sebanyak 757 anak Tingkat Pendidikan SLTP/sederajat, dan 576 anak Tingkat Pendidikan SLTA/sederajat. Anak yang lulus sampai pendidikan tinggi masih sangat minim. Kondisi ini tentu harus mendapat perhatian serius dari semua pemangku kepentingan untuk membenahinya.
Membangun kesadaran dan tingkat literasi anak, saah satunya melalui lembaga pendidikan yang bagus di desa. Kata mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, “pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat mengubah dunia”. Bila anak-anak Indonesia yang hidup di daerah tertinggal memiliki semangat dan akses yang tinggi untuk menempuh jenjang pendidikan dari yang terendah hingga tertinggi, mereka akan menjadi generasi emas Indonesia yang dapat membangun Indonesia dari pinggiran atau dari desa.
Mengapa Minat Baca Anak Rendah?
Mengapa minat baca di Indonesia dikataka1n rendah?. Pertama, sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dsb. Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (game online) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku, surfing di internet walaupun yang terakhir ini masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca. Hanya saja apa yang dapat dilihat di internet bukan hanya tulisan tetapi hal-hal visual lainnya yang kadangkala kurang tepat bagi konsumsi anak-anak.
Ketiga, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket. Keempat, budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orangtua, tokoh masyarakat, penguasa pada zaman dulu. Anak-anak didongengi secara lisan, diajar membuat konten dengan melihat cara memotong janur, menata buah-buahan dan lain-lainnya. Tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis. Jadi tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan.
Kelima, para ibu, saudari-saudari kita senantiasa disibukkan berbagai kegiatan upacara-upakara keagamaan serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, belum lagi harus memberi makan hewan peliharaan seperti babi, bebek, ayam (lebih-lebih kaum wanita di desa) sehingga tiap hari waktu luang sangat minim bahkan hampir tidak ada untuk membantu anak membaca buku. Keenam, sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka.
Menumbuhkan Minat Baca
Untuk meningkatkan minat baca, harus dimulai dari usia sangat dini karena minat ini tumbuh sebagai hasil kebiasaan membaca. Peran orangtua, terutama ibu, sangat penting dalam meningkatkan minat baca anak. Kalau biasanya sebelum tidur anak-anak didongengi secara verbal, mulailah sekarang mendongeng dengan membacakan sebuah buku. Jadi si anak melihat sang ibu membaca sambil mendengarkan apa yang dibaca. Kemudian mulai anak diminta membaca sendiri jika ia sudah bisa membaca.
Sebagai pembuktian si anak diminta pula menceritakan kembali apa yang telah dibacanya. Ingat, anak perlu dibatasi waktu bermainnya dengan alternatif membaca buku secara santai. Juga metode pengajaran di sekolah, dari TK sampai perguruan tinggi, harus diarahkan pada banyak membaca buku untuk mencari lebih banyak informasi/pengetahuan tentang apa yang diajarkan. Tiap sekolah apa pun jenis, jurusan atau tingkatnya harus mempunyai perpustakaan, karena perpustakaan memberi kesempatan sama kepada semua orang/murid/mahasiswa untuk menggunakan buku-buku koleksinya. Dengan cara ini, upaya meningkatkan minat baca akan sangat terbantu. Pada gilirannya, secara ekonomis sangat meringankan orangtua murid/siswa/mahasiswa yang tidak harus perlu membeli buku sendiri.
Selain itu di tiap kota perlu ada perpustakaan umum yang terbuka untuk seluruh penduduk kota itu. Orang-orang yang sejak di TK sudah dibiasakan membaca, setelah dewasa akan terus membutuhkan bacaan. Orang-orang yang ingin menambah informasi/pengetahuan akan tertolong oleh perpustakaan. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya karena buku-buku yang diperlukan telah tersedia perpustakaan umum di desa.
Perpustakaan di Indonesia jika telah tersedia baik di tiap sekolah di desa maupun dikota tentu banyak buku yang diperlukan untuk mengisi perpustakaan tersebut. Kertersedian buku bagi tiap dan semua orang di desa, menjadikan masyarakat desa makin cerdas dan kreatif. Mereka akan membuka usaha, berani mandiri, bekerja secara profesional, rame ing gawe, mampu bersaing, berdiri tegak di antara bangsa-bangsa. Untuk semua ini suatu program meningkatkan minat baca, mendirikan perpustakaan umum di desa dengan visi dan misi mencerdaskan bangsa, menjadikan negara Indonesia sejajar di antara bangsa-bangsa di dunia!
———— *** ————–


