30.2 C
Sidoarjo
Monday, May 11, 2026
spot_img

Bukan Sekadar Formalitas, Tapi Jembatan Relevansi Mahasiswa

Di tengah gempuran digitalisasi dan tuntutan dunia kerja yang semakin teknis, muncul sebuah pertanyaan retoris di kalangan akademisi maupun mahasiswa: Apakah Kuliah Kerja Nyata (KKN) masih relevan? Beberapa pihak menganggap KKN sebagai program kuno yang membuang waktu dan biaya. Namun, jika kita menelisik lebih dalam, KKN justru merupakan instrumen paling vital dalam menjaga marwah Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian masyarakat.

Pertama, KKN adalah laboratorium sosial yang nyata. Di ruang kuliah, mahasiswa dijejali teori-teori idealis tentang perubahan sosial atau pembangunan ekonomi. Namun, hanya melalui KKN mereka berhadapan langsung dengan kompleksitas masalah di lapangan-mulai dari birokrasi desa yang unik, resistensi budaya, hingga keterbatasan infrastruktur. Di sinilah soft skills seperti kepemimpinan, negosiasi, dan empati diuji. Kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving) secara kolektif di tengah masyarakat yang heterogen tidak bisa digantikan oleh simulasi digital manapun.

Kedua, KKN berperan sebagai katalisator inovasi desa. Mahasiswa generasi Z dan Alpha saat ini lahir dengan literasi teknologi yang tinggi. Kehadiran mereka di pelosok daerah membawa angin segar bagi digitalisasi desa. Program-program seperti pembuatan sistem informasi desa, edukasi pemasaran digital untuk UMKM lokal, hingga pengenalan teknologi pertanian tepat guna, adalah bukti nyata bahwa KKN telah bertransformasi mengikuti zaman. Mahasiswa berperan sebagai “penerjemah” teknologi bagi masyarakat yang belum tersentuh modernisasi sepenuhnya.

Berita Terkait :  Atap SDN Gunung Rancak Sampang Ambruk, Siswa Belajar di Teras

Ketiga, KKN melatih kepekaan kemanusiaan. Pendidikan tinggi di Indonesia tidak boleh hanya mencetak robot-robot korporat yang cerdas secara intelektual tetapi buta secara sosial. KKN memaksa mahasiswa keluar dari zona nyaman “menara gading” kampus untuk melihat realitas kemiskinan, stunting, hingga masalah sanitasi secara langsung. Pengalaman emosional saat tinggal bersama warga akan membentuk karakter intelektual yang membumi dan memiliki integritas untuk membangun negerinya sendiri.

Tentu, format KKN perlu terus dievaluasi agar tidak terjebak pada program fisik seremonial belaka seperti sekadar mengecat gapura. Fokus harus dialihkan pada pemberdayaan berkelanjutan yang berbasis ilmu pengetahuan.

Bambang Subagyo
Mahasiswa PTS di Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!