Sidoarjo, Bhirawa
Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sidoarjo, lembaga pendidikan nonformal di Kecamatan Tulangan, kembali menggelar program bermanfaat bagi masyarakat. Mulai tanggal 7 hingga 22 Mei 2026, lembaga ini menyelenggarakan pelatihan menjahit dasar yang terbuka untuk umum, sepenuhnya tanpa dipungut biaya alias gratis.
Program ini berjalan di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, dan ditujukan bagi warga kurang mampu maupun masyarakat luas yang ingin menambah keterampilan.
Kepala UPT SKB Sidoarjo, Indra Mulya, menegaskan bahwa seluruh kegiatan di lembaganya dibiayai sepenuhnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sehingga peserta tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun. “Semua kegiatan di sini gratis, nol rupiah, karena sudah didukung anggaran dari pemerintah daerah,” ujarnya saat ditemui pada Senin (11/5).
Menurut Indra, pelatihan keterampilan kerja seperti ini bertujuan utama membekali masyarakat dengan keahlian praktis, yang diharapkan dapat membantu menekan angka pengangguran di Kabupaten Sidoarjo. Langkah ini juga selaras dengan 14 program prioritas Bupati Sidoarjo yang menargetkan penciptaan 100.000 lapangan kerja baru.
“Dengan memiliki keterampilan ini, nanti saat mereka terjun ke dunia kerja sudah memiliki bekal, atau bahkan bisa membuka usaha wirausaha sendiri,” jelasnya.
Saat ini, pelatihan menjahit dasar diikuti oleh 25 peserta yang berlatih langsung menggunakan 20 unit mesin jahit. Dalam kurikulumnya, mereka diajarkan teknik dasar hingga mampu membuat pakaian seperti rok dan blus. Indra menambahkan, setiap tahun jenis pelatihan akan berganti sesuai kebutuhan masyarakat dan program yang disusun. Ke depannya, jadwal pelatihan sudah disiapkan: pelatihan tata rias pengantin dan pangkas rambut pada Juli, serta pelatihan membatik pada Agustus 2026.
Selain pelatihan keterampilan, SKB Sidoarjo juga menyelenggarakan pendidikan akademis nonformal setara PAUD, SD, SMP, hingga SMA. Program ini diperuntukkan bagi warga dari keluarga kurang mampu, maupun mereka yang tidak memiliki waktu bersekolah di pagi hari karena harus bekerja. Kegiatan belajar mengajar berlangsung Senin hingga Jumat, mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB.
“Karena ini pendidikan nonformal, jumlah siswa per kelas tidak banyak, di bawah 10 orang. Ada yang dari keluarga kurang mampu, ada juga yang bekerja sehingga hanya bisa belajar siang hari. Bahkan ada peserta yang sudah berusia 50 tahun namun tetap semangat menuntut ilmu,” ungkap Indra.
Pembelajaran tidak hanya dilakukan secara tatap muka di kelas, namun juga tersedia metode daring bagi peserta yang tempat tinggalnya cukup jauh dari lokasi, seperti warga Kecamatan Sedati yang berada di wilayah timur kabupaten, sementara SKB berlokasi di Kecamatan Tulangan, wilayah tengah.
Berdiri sejak tahun 2017, SKB Sidoarjo telah meluluskan banyak peserta didik dari berbagai program pendidikan dan pelatihan. Meski demikian, Indra mengakui masih banyak warga yang belum mengetahui keberadaan lembaga ini, padahal tujuannya jelas: memberikan akses pendidikan dan keterampilan bagi siapa saja yang membutuhkan.
Hal senada juga disampaikan oleh Diyah, salah satu pengajar di SKB Sidoarjo, yang berharap keberadaan lembaga ini membawa dampak positif yang luas. “Selain ilmu akademis, keterampilan yang kami berikan semoga benar-benar bermanfaat. Bekal ini bisa menjadi modal berharga bagi masa depan mereka, baik untuk bekerja maupun berwirausaha,” ujar guru Pendidikan Kewarganegaraan dan Kimia tersebut. [kus.mg5]


