29.6 C
Sidoarjo
Monday, May 11, 2026
spot_img

Psikolog Unair Dorong Well Being di Sekolah


Surabaya, Bhirawa
Masalah kesehatan mental pada remaja menuntut perhatian serius dari seluruh elemen pendidikan saat ini. Di Asia Tenggara, tantangan tersebut semakin kompleks dengan adanya stigma tinggi, keterbatasan akses layanan, hingga maraknya kasus perundungan (bullying). Merespons realitas tersebut, Dr Wiwin Hendriani SPsi MSi Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR) menyampaikan tanggapannya.

Ketua Program Studi Magister Psikologi UNAIR membedah tuntas tentang gagalnya program kesejahteraan (well being) di sekolah yang memberikan dampak jangka panjang.

Dalam paparannya, Dr. Wiwin mengungkapkan data mengkhawatirkan di mana 1 dari 7 remaja secara global mengalami gangguan mental, dan kawasan Asia Pasifik menampung 60 persen dari populasi remaja dunia tersebut. Bahkan, bunuh diri menjadi salah satu penyebab utama kematian remaja di peringkat 3 hingga 5 besar secara global.

“Kesejahteraan dalam pendidikan bukanlah isu sampingan, ini adalah isu sentral. Di Asia Tenggara, kita menghadapi tantangan besar bukan hanya soal prevalensi, tetapi juga soal visibilitas dan akses. Masih banyak stigma yang membuat perilaku mencari bantuan (help-seeking behavior) sangat rendah,” jelasnya.

Dr. Wiwin menyoroti bahwa akar masalah di banyak sekolah bukanlah kurangnya program, melainkan kesalahan dalam desain implementasinya. Sering kali, wellbeing hanya diperlakukan sebagai program tambahan (add-on), bersifat jangka pendek, dan sangat bergantung pada individu tertentu (guru atau penggerak tertentu) tanpa tertanam dalam rutinitas harian sekolah.

Berita Terkait :  Sambut Bulan Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional, Formula Indonesia Gelar Donasi Sikat Gigi

Kondisi ini menyebabkan adanya celah kritis antara kesadaran akan kesejahteraan dengan praktik kesejahteraan yang berkelanjutan.

“Kita harus berhenti berpikir dalam kerangka intervensi yang terisolasi dan mulai berpikir dalam kerangka ekosistem. Jika kita ingin inisiatif kesejahteraan ini bertahan lama, pendekatannya harus terintegrasi di semua level, mulai dari ruang kelas hingga kebijakan sekolah,” tambahnya.

Sebagai solusi, Dr. Wiwin mendorong sekolah-sekolah untuk membangun pendekatan yang terukur, dapat beradaptasi, dan responsif terhadap konteks lokal. Menurutnya, kesuksesan berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui sinergi antara kualitas program, etika, dan konsistensi dalam praktik sehari-hari.

Workshop tersebut harapannya dapat menjadi pemantik bagi para pendidik dan pemangku kebijakan untuk mulai merancang sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi tempat yang aman dan mendukung tumbuh kembang mental siswa secara utuh. [ina.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!