Jombang, Bhirawa – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk memperkuat persatuan bangsa pada momentum peringatan Hari Santri Nasional tahun 2026 yang digelar di Lapangan Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Kamis (22/10/2026).
Pesan kebangsaan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin pada apel peringatan Hari Santri Nasional tahun 2026.
Apel ini juga dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan para pengurus PBNU lainnya, seperti Wakil Ketua PBNU, H. Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul, dan juga Sekjen PBNU, Gudfan Arif Ghofur.
Gus Kikin menegaskan bahwa peringatan Hari Santri tidak boleh hanya dipandang sebagai agenda seremonial tahunan semata, namun juga harus dijadikan momentum krusial untuk merefleksikan kembali rekam jejak perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Salah satu fondasi sejarah paling fundamental yang menjadi landasan penetapan Hari Santri adalah dicetuskannya Resolusi Jihad oleh para ulama Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945.
Peristiwa bersejarah tersebut menjadi bukti nyata kontribusi besar kaum sarungan bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Gus Kikin menyampaikan, Resolusi Jihad lahir di tengah situasi genting ketika kekuatan kolonial kembali mengancam kedaulatan Indonesia.
Saat itu, pasukan Inggris yang membonceng sekutu dan Belanda berupaya menguasai kembali tanah air yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Sebelum Resolusi Jihad resmi disepakati, seruan perlawanan melalui Fatwa Jihad telah lebih dulu disuarakan oleh Pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Seruan moral dan keagamaan tersebut berhasil membakar semangat serta memobilisasi massa dari berbagai daerah untuk bergerak mempertahankan kemerdekaan.
“Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa Indonesia sudah merdeka, tetapi kemerdekaan itu harus terus dijaga,” kata Gus Kikin.
“Para leluhur kita telah memberikan keteladanan nyata bagaimana mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan,” ujar Gus Kikin.
Gus Kikin menyampaikan, keputusan Resolusi Jihad merupakan wujud ketegasan sikap moral dan politik para ulama NU dalam merespons situasi darurat pasca kemerdekaan.
Melalui maklumat tersebut, seluruh kaum muslimin dipanggil untuk wajib hukumnya membela tanah air dari cengkeraman penjajah.
Semangat perjuangan tersebut perlu diterjemahkan secara kontekstual sesuai dengan tantangan zaman saat ini. Jika generasi terdahulu berjuang angkat senjata melawan penjajah, maka generasi saat ini dituntut melakukan perjuangan melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan pembinaan persatuan.
“Jihad kita sekarang adalah jihad keilmuan,” tandas Gus Kikin.
“Kita harus memperdalam ilmu karena keilmuan menjadi salah satu instrumen paling efektif untuk membangun persatuan dan membuat Indonesia semakin kuat ke depan,” tandasnya lagi.
Sebagai rangkaian peringatan Hari Santri 2026, digelar pula kegiatan napak tilas sejarah menuju pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Salah satu agenda utamanya yakni Kirab Resolusi Jihad yang membawa prasasti sejarah dan simbol-simbol kebesaran NU.
Rombongan kirab terjadwal menempuh rute sejarah mulai dari Mojokerto hingga Kota Surabaya. Rute ini sengaja dipilih untuk mengenang kembali pergerakan pasukan santri dan rakyat menjelang berakhirnya ultimatum pasukan Inggris pada November 1945 silam.
Sebanyak 99 personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang mengendarai sepeda motor dikerahkan untuk mengawal pelepasan kirab tersebut. Pelepasan rombongan dilakukan secara resmi dari Pesantren Tebuireng Jombang.
Gus Kikin berharap, momentum ini tidak sekadar menjadi aksi simbolis, namun mampu memantik kembali kesadaran kolektif seluruh warga bangsa, khususnya generasi muda.
Gus Kikin mengimbau seluruh pihak untuk aktif merawat keutuhan NKRI di tengah keberagaman suku, agama, dan pandangan politik.
“Persatuan itulah yang mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia hingga saat ini,” tutur Gus Kikin.
“Pesan dan keteladanan dari para kiai serta leluhur kita pada masa itu harus terus kita pelajari, hayati, dan terapkan dalam kehidupan berbangsa saat ini,” pungkas Gus Kikin. [rif.kt]





Hai, terima kasih telah membagikan artikel yang informatif ini. Saya merasa penjelasan yang Anda berikan sangat bermanfaat dan mudah dipahami. Poin-poin yang Anda bahas memberikan wawasan berharga bagi para pembaca yang ingin memahami topik ini dengan lebih baik. Saya juga mempunyai website tentang travel umroh bandung ,beri tahu saya jika ada artikel lain yang sangat bermanfaat.