Gresik, Bhirawa – Kondisi hanggar di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Ngipik, Kabupaten Gresik, memprihatinkan. Bangunan yang digunakan sebagai gudang penyimpanan, sekaligus bengkel perbaikan peralatan persampahan itu mengalami kerusakan di sejumlah bagian.
Kondisi atap bocor, sebagian penutup seng hilang, hingga tiang penyangga yang mulai keropos dan bengkok. Kondisi dikhawatirkan membahayakan keselamatan petugas, maupun peralatan yang berada di dalamnya. Terlebih, hanggar itu menampung berbagai perlengkapan persampahan, mulai alat berat hingga bak sampah yang menunggu perbaikan maupun yang telah selesai diperbaiki.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Gresik Abdullah Hamdi, menilai kondisi bangunan tersebut perlu mendapat perhatian serius. Sebab, kerusakan pada tiang penyangga berpotensi membuat bangunan tidak aman, terutama ketika hujan turun.
“Kita lihat kondisinya sangat rawan, itu tiang sudah bengkok, kalau kena hujan bisa ambles,”ujar Hamdi.
Selain kondisi tiang yang keropos, sebagian penutup atap berbahan seng juga sudah hilang. Akibatnya. Air hujan berpotensi masuk ke dalam hanggar, dan mengenai peralatan persampahan yang sedang dalam proses perbaikan. Ancaman kerusakan tidak hanya menyangkut peralatan, tetapi juga keselamatan petugas yang bekerja di lokasi.
“Tidak hanya alatnya, tapi kalau pas ada petugas di sini juga membahayakan. Tapi ini akan diperbaiki di tahun depan,”ungkapnya.
Sementara Kepala UPT TPST Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik Purwaningtyas Noor Mariansyah, bahwa hanggar tersebut selama ini dimanfaatkan sebagai tempat perbaikan bak sampah. Bak mobil sampah yang mengalami kebocoran, atau berlubang diperbaiki dengan cara ditambal di lokasi tersebut. Kondisi bangunan yang mulai mengalami kerusakan, membuat aktivitas perbaikan perlu mendapat perhatian dari sisi keselamatan.
“Bak mobil sampah, yang bolong-bolong itu kita tambal di sini. Memang kondisinya sudah rawan, tiangnya sudah keropos,”tegasnya.
Dengan kondisi tersebut, perbaikan hanggar menjadi kebutuhan penting. Agar kegiatan pemeliharaan sarana persampahan, tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan petugas.
“Kepastian penanganan kerusakan, juga diperlukan untuk mencegah risiko yang lebih besar. Terhadap bangunan maupun peralatan, yang disimpan di dalamnya,”pungkasnya. [kim.kt]




