35.9 C
Sidoarjo
Thursday, October 22, 2026
spot_img

Remaja Asal Kediri Kembangkan Jemuralert, Teknologi untuk Bantu Petani Antisipasi Hujan

Kediri, Bhirawa – Persoalan sederhana saat menjemur gabah menjadi titik awal Jocelyn Cheryl Setiobudi mengembangkan Jemuralert.com. Platform digital tersebut dirancang untuk membantu pengguna menentukan waktu yang lebih sesuai dalam menjalankan aktivitas berdasarkan prakiraan cuaca di lokasi tertentu.

Gagasan itu muncul dari kondisi petani yang masih banyak mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan hasil panen. Ketika hujan turun tiba-tiba, gabah yang sedang dijemur harus segera diamankan agar tidak kembali basah dan mengalami penurunan kualitas.

Berbeda dari layanan prakiraan cuaca yang hanya menyajikan informasi umum, Jemuralert mencoba mengolah data tersebut menjadi rekomendasi yang berkaitan langsung dengan aktivitas pengguna.

“Jemuralert kami buat dari persoalan yang sederhana tetapi sangat dekat dengan aktivitas masyarakat, khususnya petani. Ketika seseorang ingin menjemur padi, yang dibutuhkan bukan hanya informasi apakah hari itu akan hujan atau tidak, tetapi informasi yang lebih spesifik, seperti kapan hujan diperkirakan turun di lokasi tersebut,” kata Jocelyn, Kamis (22/10/2026).

Menurut Jocelyn, pengembangan platform tersebut berangkat dari riset mengenai efisiensi pengeringan hasil pertanian. Pada industri pengolahan padi berskala menengah dan besar, proses pengeringan dapat menggunakan mesin dryer yang memungkinkan pengaturan temperatur dan kadar air.

Namun, fasilitas semacam itu belum dapat diakses seluruh petani. Pengeringan secara alami dengan memanfaatkan panas matahari masih menjadi pilihan bagi banyak petani sehingga prosesnya sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Situasi tersebut menjadi lebih rumit ketika petani mengelola lahan di beberapa lokasi. Mereka harus memantau kondisi cuaca masing-masing wilayah sekaligus memastikan hasil panen yang dijemur tidak kehujanan.

Berita Terkait :  Diplomasi Lingkungan Indonesia di Panggung Regional

Jemuralert dikembangkan untuk membantu persoalan tersebut. Pengguna cukup menentukan lokasi, tanggal, serta aktivitas yang hendak dilakukan. Data tersebut kemudian diproses sistem untuk membaca prakiraan cuaca pada waktu dan lokasi yang dipilih.

“Pengguna tidak harus memahami koordinat atau data teknis. Prinsipnya, mereka cukup menentukan lokasi yang ingin digunakan, memilih tanggal dan aktivitas. Setelah itu sistem yang bekerja di belakang untuk mengolah data tersebut menjadi informasi yang lebih sederhana,” jelasnya.

Dalam rancangan platform, data lokasi dan waktu dipadukan dengan informasi prakiraan cuaca. Salah satu sumber data yang digunakan berasal dari layanan prakiraan cuaca terbuka Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Parameter seperti kondisi cuaca, suhu, kelembapan, kecepatan dan arah angin, serta tutupan awan kemudian diolah agar lebih mudah dipahami pengguna.

“Kami ingin mengubah data cuaca yang biasanya terasa teknis menjadi sebuah keputusan yang mudah dipahami. Jadi output-nya bukan sekadar angka suhu atau persentase kelembapan, tetapi informasi seperti kapan sebaiknya mulai menjemur dan kapan hasil jemuran perlu diamankan,” terangnya.

Salah satu fitur yang dikembangkan adalah rekomendasi waktu serta peringatan ketika terdapat potensi hujan. Dengan pendekatan tersebut, pengguna diharapkan dapat melakukan antisipasi sebelum hujan turun.

“Misalnya sistem membaca ada potensi hujan pukul 13.00. Kami ingin pengguna langsung mendapatkan rekomendasi yang bisa dilakukan, misalnya padi sebaiknya sudah diamankan sebelum pukul 12.30. Jadi teknologi ini membantu mengambil keputusan berdasarkan data, bukan menggantikan keputusan pengguna,” tutur Jocelyn.

Berita Terkait :  Jagongan Bareng Warga, Anggota DPRD Kota Malang Soroti BPJS PBI hingga RT Berkelas

Meski demikian, rekomendasi Jemuralert tetap bukan jaminan kondisi cuaca. Prakiraan memiliki tingkat ketidakpastian sehingga informasi yang diberikan diposisikan sebagai bahan pertimbangan bagi pengguna dalam mengambil keputusan.

Pengembangan platform tersebut saat ini masih berada pada tahap pengenalan dan penyempurnaan prototipe. Jocelyn melibatkan komunitas petani untuk memperoleh masukan mengenai kebutuhan di lapangan serta fitur yang dinilai paling bermanfaat.

Sejumlah kelompok tani dari Ngawi, Kediri, dan wilayah sekitarnya telah dilibatkan dalam pengenalan platform. Pemanfaatannya juga disebut telah menjangkau sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk Ngawi dan Jombang.

Ke depan, Jemuralert juga diarahkan untuk dapat membantu pengguna yang memiliki aktivitas atau lahan di beberapa lokasi. Kondisi cuaca dari sejumlah titik dapat dipantau dalam satu tampilan sehingga pengguna tidak harus memeriksa prakiraan secara terpisah.

Jocelyn mengatakan konsep tersebut tidak terbatas pada aktivitas penjemuran gabah. Selama sebuah kegiatan dipengaruhi kondisi cuaca, sistem serupa berpotensi dikembangkan untuk memberikan rekomendasi waktu yang lebih sesuai.

“Ke depannya, konsepnya tidak harus berhenti pada jemur padi. Selama aktivitas tersebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca, sistem bisa dikembangkan untuk memberikan rekomendasi yang relevan. Namun, fokus awal kami adalah membuat solusi yang benar-benar sederhana dan berguna bagi pengguna,” paparnya.

Di balik pengembangan Jemuralert, dukungan keluarga juga menjadi salah satu dorongan bagi Jocelyn untuk membuat inovasi yang memiliki manfaat bagi masyarakat.

Berita Terkait :  KAI Daop VII Madiun Sapa Pelangggan KA dan Bagikan Souvenir

Ibu Jocelyn, Afriana Tanri Sudarno, mengatakan keluarga selalu mendorong agar kemampuan yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Kita selalu berpesan gitu intinya jadi manusia itu sebaik-baiknya itu berfaedah gitu kan. Jadi apa yang bisa kita lakukan selain kalau yang pintar itu banyak gitu ibaratnya tapi apa faedah yang bisa kita kontribusikan kepada society gitu,” ujar Afriana.

Jocelyn kini menempuh pendidikan di Hwa Chong International School, Singapura, pada jenjang IB2 atau setara kelas 12 di Indonesia. Ia juga mendapatkan beasiswa merit di sekolah tersebut.

Di tengah pendidikannya, ia memilih mengembangkan gagasan yang berangkat dari persoalan nyata, terutama kebutuhan petani dalam menghadapi ketidakpastian cuaca saat mengeringkan hasil panen.

Melalui Jemuralert, data prakiraan cuaca yang selama ini cenderung bersifat informatif coba diterjemahkan menjadi rekomendasi yang lebih praktis. Pengembangannya masih akan terus dilakukan melalui masukan pengguna, penyempurnaan data, serta penambahan fitur sesuai kebutuhan di lapangan.

“Kami ingin Jemuralert bukan hanya menjadi aplikasi yang menampilkan prakiraan cuaca, tetapi menjadi alat bantu untuk membuat keputusan yang lebih tepat berdasarkan kondisi di lokasi masing-masing,” pungkas Jocelyn. [van.nov.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!