28.4 C
Sidoarjo
Wednesday, July 22, 2026
spot_img

Kementan Bidik Benih Jagung ITS, Berpeluang Jadi Kontrak Rp100 Miliar


Surabaya, Bhirawa – Benih jagung unggulan hasil riset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membuka potensi ekonomi besar setelah diapresiasi Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman.

Kementerian Pertanian (Kementan) RI memastikan membeli 200 ton benih jagung senilai Rp10 miliar dan membuka peluang peningkatan nilai kerja sama hingga Rp100 miliar dalam 10 tahun ke depan apabila produktivitas benih mampu dipertahankan.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan RI dan PT ITS Tekno Sains di Kampus ITS Buncitan, Sidoarjo, Rabu (22/7).

Benih jagung yang dikembangkan dosen Departemen Biologi ITS, Mukhammad Muryono SSi MSi PhD, dinilai mampu menghasilkan produksi hingga 10 ton per hektare dan dapat memenuhi kebutuhan tanam di lahan seluas 13.000 hektare.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, apabila hasil pendampingan distribusi dan riset benih tersebut mampu mempertahankan produktivitas rata-rata 10 ton per hektare, Kementan siap meningkatkan nilai pembelian hingga sepuluh kali lipat.

“Kalau itu terjadi, artinya dapat meningkatkan produksi jagung nasional tanpa menambah lahan, dan ini yang kita butuhkan,” tegas Amran.

Menurut Amran, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Ia menegaskan, dukungan terhadap inovasi kampus juga merupakan arahan Presiden RI agar produk dalam negeri mendapat prioritas.

Berita Terkait :  Keunikan Event Ayam Sap Sap di Pasir Putih Situbondo

Selain benih jagung, Kementan juga memborong sejumlah alat dan mesin pertanian hasil inovasi ITS, yakni traktor listrik, alat pemanjat kelapa Mocits, dan mesin listrik penanam padi Ropatama yang telah melalui serangkaian uji coba lapangan.

Amran menilai sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri atau konsep Triple Helix menjadi kunci dalam mempercepat hilirisasi inovasi. Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak hanya mempercepat lahirnya teknologi tepat guna, tetapi juga mampu mendukung target swasembada pangan nasional.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD mengapresiasi kepercayaan yang diberikan Kementan terhadap inovasi yang dihasilkan sivitas akademika ITS.

Menurutnya, dukungan tersebut menjadi motivasi bagi ITS untuk terus menghasilkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Kami berkomitmen untuk terus bersinergi menyukseskan program swasembada pangan,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, seluruh produk yang dibeli Kementan saat ini masih dalam tahap uji lapangan. Jika hasilnya sesuai harapan, ITS siap memasuki tahap produksi massal dengan menggandeng mitra industri.

“Kampus tidak mungkin bekerja sendiri membangun industri. Karena itu kami harus bergandengan dengan industri sebagai pengembang manufaktur agar inovasi ini bisa diproduksi secara luas,” katanya.

Jika ditujukan untuk media cetak seperti Bhirawa, berita ini sudah menempatkan potensi ekonomi benih jagung ITS (Rp10 miliar menuju Rp100 miliar) sebagai fokus utama, sementara informasi tentang alsintan menjadi pendukung konteks hilirisasi riset. [ina.gat]

Berita Terkait :  Kontes Ternak Domba Desa Binaan Tahun 2024 UPT PT dan HMT Jember

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!