28 C
Sidoarjo
Wednesday, September 23, 2026
spot_img

Pahlawan Lokal Pembentuk Jangkar Karakter

Oleh:
Heri Surahman
Pengajar di SMAN 2 Jorong Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Di tengah deru arus digitalisasi yang begitu deras, generasi muda kita saat ini hidup dalam dua dunia yang sering kali bertolak belakang. Di satu sisi, mereka terhubung dengan informasi global melalui gawai pintar; di sisi lain, akar sejarah dan identitas lokal mereka perlahan-lahan terkikis oleh hiruk-pikuk konten instan.

Sebagai seorang pendidik di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, saya menyaksikan fenomena ini setiap hari di ruang kelas. Siswa-siswa kita sangat cakap secara teknologi, namun seringkali abai ketika ditanya tentang siapa saja tokoh-tokoh besar yang telah berjuang membangun tanah tempat mereka berdiri sekarang.

Kondisi ini bukanlah sebuah kesalahan siswa, melainkan sebuah tantangan pedagogis yang harus kita jawab dengan bijak. Alih-alih melihat gadget sebagai musuh, kita perlu menyadari bahwa ketertarikan siswa terhadap dunia digital sebenarnya adalah peluang. Namun, agar peluang ini tidak menjebak mereka dalam kekosongan identitas, kita memerlukan sebuah “jangkar”. Jangkar tersebut adalah pendidikan sejarah lokal melalui muatan lokal yang kuat, relevan, dan menarik.

Kabupaten Tanah Laut memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa, khususnya terkait peran para pahlawan daerah dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan wilayah. Nama-nama tokoh pejuang lokal, yang area perjuangannya mencakup sebagian Kalimantan Selatan, seharusnya menjadi bahan bakar utama dalam pembentukan karakter siswa. Sayangnya, narasi sejarah sering kali disajikan sebagai hafalan tahun dan peristiwa, bukan sebagai kisah inspiratif yang menyentuh emosi dan logika siswa.

Berita Terkait :  Kebakaran di Taman Hutan Rakyat Raden Soerjo Kabupaten Pasuruan Padam

Oleh karena itu, pengembangan muatan lokal yang mengangkat pahlawan daerah Tanah Laut menjadi sangat mendesak. Pertama, materi ini harus dikemas secara naratif. Siswa perlu diajak memahami mengapa seorang pahlawan rela berkorban, apa nilai-nilai keberanian, kejujuran, dan cinta tanah air yang mereka tanamkan, serta bagaimana relevansi nilai-nilai tersebut dengan kehidupan modern.

Ketika siswa memahami bahwa pahlawan bukan sekadar patung di alun-alun, melainkan manusia nyata dengan pergulatan batin dan tekad baja, maka sejarah akan menjadi hidup.

Kedua, integrasi muatan lokal ini harus bersifat multidisiplin. Sejarah pahlawan Tanah Laut tidak hanya milik pelajaran Sejarah atau IPS.

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa bisa diminta membuat esai atau puisi tentang perjuangan tokoh tersebut. Dalam pelajaran Seni Budaya, mereka bisa menciptakan karya visual atau pertunjukan teater mini berbasis kisah pahlawan lokal. Bahkan dalam pelajaran Teknologi Informasi, siswa bisa diajak membuat konten digital positif, seperti video pendek atau infografis, yang menceritakan kembali jejak pahlawan daerah mereka. Dengan cara ini, gadget yang selama ini dianggap sebagai pengalih perhatian justru diubah menjadi alat untuk melestarikan sejarah.

Ketiga, pendekatan pembelajaran harus melibatkan komunitas. Sekolah dapat mengundang tetua adat, sejarawan lokal, atau keluarga dari keturunan pahlawan daerah untuk berbagi cerita langsung. Interaksi tatap muka ini memberikan dimensi emosional yang tidak bisa digantikan oleh layar kaca. Siswa akan merasa bangga karena mengetahui bahwa di lingkungan mereka sendiri terdapat sosok-sosok hebat yang layak dijadikan teladan. Rasa bangga inilah yang akan membentuk identitas diri yang kuat, sehingga mereka tidak mudah terbawa arus budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa.

Berita Terkait :  Golkar Gresik Targetkan 9 Kursi DPRD di Pemilu 2029, Bangkit dari Penurunan Hasil Pemilu Sebelumnya

Penting untuk ditegaskan bahwa pengusulan muatan lokal ini bukan berarti menolak kemajuan atau mengabaikan kurikulum nasional. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk memperkaya Kurikulum Merdeka yang memang memberikan ruang bagi penguatan profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi “Berkebinekaan Global” dan “Bergotong Royong”. Dengan mengenal sejarah lokalnya, siswa justru akan lebih siap menghadapi dunia global karena mereka memiliki fondasi karakter yang kokoh. Mereka tahu dari mana mereka berasal, sehingga mereka lebih yakin ke mana arah tujuan mereka.

Sebagai aparatur sipil negara dan pendidik, tugas kita bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai. Di Kabupaten Tanah Laut, kita memiliki modal sosial berupa sejarah perjuangan yang agung. Jika kita mampu mengolahnya menjadi materi pembelajaran yang menarik, maka kita tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademis, tetapi juga siswa yang berakar kuat pada budayanya.

Mari kita jadikan sejarah pahlawan daerah sebagai kompas moral bagi generasi muda Tanah Laut. Biarkan mereka tetap melek teknologi, namun hati dan pikiran mereka tetap tertambat pada nilai-nilai luhur para pendahulu. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat, sedangkan karakter adalah pengendali. Dan karakter terbaik sering kali lahir dari pemahaman mendalam terhadap sejarah tanah kelahiran sendiri.

————– *** —————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!