Kediri, Bhirawa – Pemkab Kediri belum memutuskan penerapan lima hari sekolah. Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri masih mengkaji sejumlah alternatif, termasuk dampaknya terhadap kegiatan mengaji siswa di lingkungan tempat tinggal.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin mengatakan, ada tiga opsi yang disiapkan. Yakni lima hari sekolah tidak diterapkan, langsung diterapkan, atau terlebih dahulu dilakukan uji coba di sejumlah sekolah.
“Nanti kami akan mengajukan alternatif-alternatif. Misalnya dari kajian, dari pendapat publik itu bisa diajukan alternatif pertama misalnya kegiatan lima hari sekolah tidak jadi, atau jadi langsung dilaksanakan, atau melalui uji coba,” kata Muhsin, Rabu (23/9/2026).
Ketiga opsi tersebut disusun berdasarkan hasil kajian dan pendapat publik, termasuk survei terhadap siswa dan orang tua. Hasilnya akan dilaporkan kepada pimpinan sebagai bahan pertimbangan sebelum keputusan diambil.
Jika uji coba dipilih, penerapannya tidak langsung dilakukan di seluruh sekolah. Kesiapan masing-masing satuan pendidikan akan menjadi pertimbangan dalam menentukan sekolah yang ditunjuk.
Persoalan kegiatan mengaji menjadi salah satu perhatian. Sejumlah organisasi masyarakat sebelumnya menyampaikan kekhawatiran bahwa sekolah hingga sore dapat membuat siswa kelelahan sehingga mengurangi aktivitas mengaji di lingkungan tempat tinggal.
Muhsin mengatakan, Dinas Pendidikan telah mendata kegiatan mengaji siswa, termasuk waktu pelaksanaannya. Sebagian besar siswa SMP mengikuti kegiatan mengaji setelah Magrib. Sementara siswa SD memiliki waktu mengaji yang lebih beragam, mulai sekitar pukul 15.00 WIB, 16.00 WIB hingga 17.00 WIB.
Data tersebut akan dianalisis untuk melihat dampak perubahan jam sekolah terhadap kegiatan mengaji siswa.
“Untuk anak-anak yang kelas rendah kan yang ngajinya biasanya siang. Nah, ini nanti akan kita analisis berpengaruh enggak jam sekolah mereka dengan pelaksanaan ngaji dan itu nanti akan kita komunikasikan dengan semua pemangku kepentingan,” jelasnya.
Sebagai salah satu opsi, Dinas Pendidikan juga menyiapkan layanan guru ngaji di sekolah. Skema ini ditujukan untuk memastikan siswa tetap mendapatkan layanan pendidikan agama, baik yang selama ini sudah mengikuti kegiatan mengaji maupun yang belum.
“Kita juga akan siapkan guru-guru ngaji di sekolah, sehingga anak-anak yang lima hari sekolah itu benar-benar yang sudah ngaji tetap mendapat layanan ngaji, yang belum ngaji di masyarakat nanti malah ngaji,” ujarnya.
Dinas Pendidikan telah mendata siswa yang sudah dan belum mengikuti kegiatan mengaji. Data tersebut akan menjadi dasar penyusunan pola layanan jika lima hari sekolah nantinya diterapkan.
Muhsin menegaskan, layanan pendidikan agama tetap diberikan kepada seluruh siswa sesuai agama masing-masing. Program pembiasaan keagamaan melalui sekolah berbudaya religi juga akan terus diperkuat.
“Ini kita upayakan terus nanti menjadi bagian dari layanan pendidikan untuk anak-anak, berapa pun hari sekolahnya,” katanya.
Hingga kini belum ada target waktu pelaksanaan uji coba. Dinas Pendidikan masih melakukan komunikasi dan menyiapkan berbagai kebutuhan sebelum memberikan rekomendasi.
“Enggak ada target. Kita mengalir saja, sambil mencari solusi, perbaikan-perbaikan, persiapan sesuai dengan keinginan masyarakat,” pungkasnya.
Muhsin menambahkan, hasil kajian dan berbagai masukan tersebut nantinya akan disampaikan kepada Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Keputusan mengenai penerapan lima hari sekolah selanjutnya akan diumumkan oleh Bupati Kediri. [van.nov.kt]

