28 C
Sidoarjo
Wednesday, September 2, 2026
spot_img

Jaga Postur Tubuh Ideal, Mahasiswa UB Ciptakan Spatch


Malang, Bhirawa – Inovasi kreatif kembali lahir dari kalangan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Tim mahasiswa lintas disiplin ilmu UB berhasil meloloskan karya mereka bernama Spatch (Spine Aware Biofeedback Patch) dalam tahap pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa skema Kewirausahaan (PKM-K).

Tim tersebut digawangi oleh Rizka Amalia Putri Ramadhani dari Program Studi Kedokteran (Angkatan 2025), bersama empat mahasiswa Program Studi Bioteknologi (Angkatan 2025) yakni Siti Alisyah Hujjatul Syahadah, Aminatuzzahra, Sesilia Awanda Sulistyana, dan Bilqis Athaillah Ali As’ad.

Spatch hadir sebagai plester inovatif berbasis teknologi micro-pressure point yang dirancang khusus untuk meningkatkan kesadaran pengguna dalam menjaga postur tubuh ideal. Gagasan pembuatan alat ini berangkat dari realitas aktivitas perkuliahan sehari-hari.

“Teman-teman bioteknologi sering mengerjakan laporan praktikum dan duduk berjam-jam di depan laptop. Dari situ muncul keluhan nyeri pinggang, bahkan ada yang mengalami skoliosis. Akhirnya, kami terpikir untuk membuat alat koreksi postur tubuh,” jelas Ketua Tim, Rizka Amalia.

Secara mekanis, Spatch bekerja menggunakan prinsip biofeedback. Saat posisi tubuh mulai membungkuk atau tidak ideal, micro-pressure point pada plester memberikan rangsangan tekanan halus. Stimulus ini menjadi pengingat spontan bagi pengguna untuk segera memperbaiki posisi duduk atau berdirinya.

Pengembangan inovasi ini mengombinasikan keahlian antaranggota tim. Mahasiswa Bioteknologi bertugas memastikan standar produksi, sterilisasi, hingga kelayakan komponen. Sementara mahasiswa Kedokteran mengawal kesesuaian fungsi medis dan aspek keamanan alat kesehatan.

Berita Terkait :  Cegah Stunting, BKKBN Jatim Gandeng UKM Kependudukan Unigoro

Keunggulan Spatch terletak pada kepraktisannya. Desainnya jauh lebih tipis ketimbang korset medis (brace) konvensional, tanpa komponen elektronik, sehingga tidak memerlukan daya listrik. Produk ini juga dikemas ringkas dalam pouch khusus.

“Kami ingin membuat inovasi yang relate dengan mahasiswa. Pemakaiannya mudah, praktis dibawa ke mana saja, dan harganya terjangkau,” tambah Rizka.

Satu paket Spatch dipasarkan seharga Rp35.000, berisi satu micro-pressure board yang dapat dipakai berulang kali, tiga buah plester sekali pakai, serta dua buah alcohol swab.

Proses riset dan pengembangan (R&D) SPATCH sempat menghadapi tantangan, terutama dalam penentuan material dan desain ideal karena belum ada produk sejenis di pasaran. Dalam perjalanannya, tim didampingi dosen pembimbing Agwin Fahmi Fahanani dari Fakultas Kedokteran UB, yang memberikan pengarahan aspek teknis serta penyusunan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Usai meraih pendanaan PKM-K, tim UB ini menargetkan SPATCH mampu menembus Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) sekaligus dikembangkan lebih lanjut menjadi produk alat kesehatan terstandardisasi. [mut.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!