28 C
Sidoarjo
Wednesday, September 2, 2026
spot_img

Aktivitas Positif Krusial bagi Mahasiswa Baru

Menjadi mahasiswa baru (maba) adalah salah satu fase paling krusial dalam transisi kehidupan seorang remaja menuju kedewasaan. Sayangnya, banyak maba yang terjebak dalam euforia kebebasan akademik, sehingga mengabaikan pentingnya menyusun agenda hidup yang terstruktur. Padahal, dunia perkuliahan bukan sekadar tentang mengejar indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi, melainkan sebuah laboratorium sosial untuk membangun karakter, memperluas jejaring, dan mengasah keterampilan non-teknis (soft skills). Oleh karena itu, investasi waktu pada aktivitas positif sejak semester pertama menjadi sebuah keharusan, bukan pilihan.

Fase awal kuliah sering kali diwarnai oleh fenomena culture shock. Perubahan sistem belajar dari sekolah menengah yang cenderung disuapi menjadi sistem perguruan tinggi yang menuntut kemandirian penuh, kerap membuat maba kehilangan arah. Tanpa adanya jangkar berupa aktivitas yang produktif, waktu luang yang melimpah pasca-kelas sangat rentan dialihkan pada hal-hal yang kurang bermanfaat, atau bahkan merusak, seperti kecanduan game online, gaya hidup konsumtif, hingga pergaulan bebas. Di sinilah pentingnya keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan, unit kegiatan mahasiswa (UKM), komunitas sosial, atau proyek penelitian.

Aktivitas positif di luar kelas bertindak sebagai suplemen yang tidak didapatkan dari papan tulis dosen. Melalui organisasi, maba dipaksa untuk keluar dari zona nyaman. Mereka belajar bagaimana berkomunikasi secara efektif, mengelola konflik, memimpin tim, dan mengambil keputusan di bawah tekanan. Karakter-karakter inilah yang dicari oleh industri kerja modern, jauh melampaui selembar ijazah formal. Mahasiswa yang aktif sejak dini akan memiliki tingkat resiliensi (daya dorong bangkit) yang lebih tinggi saat menghadapi kegagalan akademik maupun persoalan hidup.

Berita Terkait :  Menjaga Esensi Perjuangan Mahasiswa di Tengah Gelombang Demonstrasi

Selain itu, membangun portofolio kegiatan positif sejak awal membantu maba memetakan minat dan bakat mereka secara konkret. Banyak sarjana yang kebingungan setelah lulus karena mereka tidak tahu apa yang benar-benar mereka kuasai. Dengan mencoba berbagai hal baru di kampus-mulai dari kompetisi debat, kegiatan kerelawanan, hingga pelatihan wirausaha-mahasiswa dapat menguji teori yang mereka pelajari di kelas dan menyelaraskannya dengan realitas lapangan. Ini adalah langkah awal yang strategis untuk merancang rekam jejak karier yang cemerlang.

Bambang Dwi Saputro
Warga Semolowaru, Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!