28 C
Sidoarjo
Thursday, September 24, 2026
spot_img

UB Dorong Riset Agroforestri Lintas Negara Demi Ketahanan Pangan dan Iklim


Malang, Bhirawa – Universitas Brawijaya (UB) memperkuat perannya dalam mitigasi krisis iklim global melalui penyelenggaraan The 2nd International Conference on Tropical Agroforestry in Indonesia (ICTAFI) 2026.

Konferensi bertaraf internasional yang dihelat secara hibrid di Oryza Sativa Guest House UB Malang, 23-25 September 2026, ini membedah integrasi kesehatan tanah, restorasi lanskap ekologis, hingga penguatan ketahanan pangan tropis.

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, menegaskan bahwa perguruan tinggi memikul mandat moral agar setiap karya ilmiah bermuara pada solusi konkret atas persoalan riil di tengah masyarakat.

“Penelitian tidak cukup berhenti pada publikasi jurnal, melainkan harus memberi dampak langsung bagi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Lewat ICTAFI, UB memperluas simpul kerja sama ilmiah lintas batas negara demi menjawab tantangan perubahan iklim global,” ujar Prof. Widodo saat membuka forum ilmiah serangkaian Dies Natalis ke-64 UB tersebut.

Sementara itu Dekan Fakultas Bio-industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) UB, Prof. Mangku Purnomo, menggarisbawahi bahwa pengelolaan agroforestri tidak bisa lagi dipandang secara parsial. Lanskap tropis menuntut keterpaduan multidisiplin-mulai dari konservasi tanah dan air, dinamika sosial ekonomi petani, hingga kelembagaan rantai pasok.

“Agroforestri bukan sekadar memadukan tanaman semusim dengan tegakan pohon, melainkan menyangkut ekosistem yang kompleks. Butuh pendekatan terintegrasi antara sains, kebijakan, dan praktik lapangan agar memberi dampak berjangka panjang,” terang Prof. Mangku.

Berita Terkait :  SISI, Virtual Assistant Hasil Pengembangan Dosen dan Mahasiswa Sistekin Untag Surabaya

Ketua Komite ICTAFI 2026, Rika Ratna Sari, Ph.D., memaparkan kegiatan tahun ini mengusung tema “Rooted Futures: Bridging Soil Wisdom, Agroforestry, and Regenerative Landscapes for Healthy People and Planet”. Agenda yang digagas Departemen Tanah FBiPK UB ini menyedot perhatian 159 ilmuwan dan praktisi dari sembilan negara, termasuk keikutsertaan lebih dari 60 mahasiswa Indonesia, India, dan Malaysia dalam ajang poster ilmiah serta fotografi lingkungan.

“Persoalan tanah tropis terlalu luas untuk diselesaikan satu disiplin ilmu atau satu generasi saja. Regenerasi pemikiran melalui keterlibatan aktif mahasiswa inilah yang ingin kita rawat,” jelas Rika.

Konferensi ini menghadirkan sederet pakar agraria terkemuka dunia, seperti Prof. Ken Giller (Wageningen University & Research) yang mengupas sistem regeneratif tanah, pakar agroforestri UB Prof. Kurniatun Hairiah, serta perwakilan dari ICRAF, CIFOR, Göttingen University, hingga CIRAD Prancis.

Selain presentasi paralel yang membedah sekuestrasi karbon dan valuasi pasar vanili berkelanjutan, forum dua hari ini ditargetkan melahirkan riset kolaboratif terapan guna membentengi ekosistem pertanian dari ancaman degradasi lahan yang makin kritis. [mut.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!