28 C
Sidoarjo
Thursday, September 24, 2026
spot_img

Rekonstruksi Nilai Patriotisme di Kampus Merah Putih

Judul Buku : Buku Strategi Pencapaian Kampus Patriotik
Penanggung Jawab : Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T. (Rektor Universitas 17 Agustus 1945
Surabaya)
Penerbit : PercetakanUntag Surabaya
Tahun Terbit : Agustus 2026
Peresensi : Wahyu Kuncoro, Dosen mata kuliah Patriotisme di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Pendidikan tinggi sering kali terjebak dalam arus pragmatisme global. Institusi kampus berlomba-lomba mengejar metrik internasional, keunggulan teknokratis, dan digitalisasi, namun terkadang melupakan jangkar moral dan filosofis dari eksistensinya. Di tengah dinamika peradaban abad ke-21 yang serba digital, kecerdasan buatan (AI), dan tantangan globalisasi, pertanyaanmendasarkembalimengemuka, bagaimanalembaga pendidikan tinggi dapat mencetak lulusan yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki rasa cinta yang mendalam terhadap tanah airnya?
Buku berjudul Buku Strategi Pencapaian Kampus Patriotik hadir sebagai jawaban metodologis atas kegelisahan tersebut. Buku ini bukan sekadar dokumen administratif atau kumpulan regulasi internal perguruan tinggi. Lebih dari itu, karya kolektif yang diinisiasi oleh Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya-yang populer dengan julukan Kampus Merah Putih-merupakan sebuah manifesto kebudayaan dan cetak biru (blueprint) mengenai bagaimana nilai-nilai patriotisme diinternalisasikan secara substantif ke dalam seluruh sendi kehidupan akademik. Melalui pendekatan yang integratif, buku ini berusaha mendekonstruksi pemahaman patriotisme klasik yang sering kali dipersempit dalam batas-batas militeristik, lalu merekonstruksinya menjadi tindakan praksis yang kontekstual dengantantangan zaman modern.

Mengakar pada Sejarah, Menatap Masa Depan

Sistematika buku ini disusun secara runtut dalam lima bab utama, diawali dengan eksplorasi historis dan filosofis pada Bab I. Memahami sejarah Untag Surabaya berarti memahami denyut nadi perjuangan pasca-kemerdekaan Indonesia. Didirikan pada 17 Agustus 1954 atas inspirasi dari pemikiran Presiden Soekarno, kampus ini sejak awal diproyeksikan untuk memutus pola pikir kolonial yang masih tersisa di dunia birokrasi dan usaha. Buku ini menceritakan kembali betapa Untag Surabaya lahir dari keterbatasan prasarana-pernah menumpang di berbagai gedung sekolah dasar dan menengah-namun ditopang oleh tekad baja para pendirinya untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berita Terkait :  Semarak HUT ke-81 RI, Bakorwil Bojonegoro Gelar Voli Antarbidang

Landasan filosofis ini kemudian dikristalisasikan ke dalam lima basis nilai utama: Kejujuran (Honesty), Kecerdasan (Smart), Kebangsaan (Nationality), Kreativitas (Creativity), dan Kesadaran akan Keberagaman (Diversity Awareness). Kelima basis nilai ini tidak berdiri sendiri, melainkan melekat dan menjiwai Catur Dharma Perguruan Tinggi yang dianut Untag Surabaya, yaitu pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan patriotisme. Menariknya, pencantuman “patriotisme” sebagai dharma keempat menegaskan bahwa komitmen kebangsaan bukanlah program pelengkap atau sekadar jargon musiman, melainkan sebuah kewajiban institusional yang mengikat.

Inti daribukuini terletak pada Bab II yang mengelaborasi enam bentuk nilai utama patriotisme kampus. Penulis tim penyusun secara cerdas mengaitkan setiap pilar nilai dengan refleksi sejarah perjuangan bangsa, menjadikannya pijakan moral yang kuat bagi civitas akademika.

1.Pilar pertama adalah aktif secara keilmuan pada penalaran isu nasional dengan semangat persatuan. Bagian ini merefleksikan keberanian intelektual Bung Karno pada masa pergerakan nasional yang aktif menulis dan berpidato kritis, meski harus menghadapi risiko penjara dan pembuangan. Dalam konteks kampus modern, nilai ini diterjemahkan sebagai dorongan bagi dosen dan mahasiswa untuk mengembangkan tradisi literasi dan diskursus akademik yang solutif terhadap ketimpangan sosial, kedaulatan ekonomi, dan dinamika demokrasi.
2.Pilar kedua, berani dan berintegritas dalam berinovasi sebagai solusi tantangan bangsa. Inspirasi nilai ini diambil dari heroisme Arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November 1945. Buku ini menekankan bahwa inovasi tanpa landasan integritas-tanpa kejujuran data dan keterbukaan metode-tidak memiliki nilai akademik maupun nilai kebangsaan. Semangat “Merdeka atau Mati” bertransformasi menjadi “Berkarya atau Diam”.
3.Pilar ketiga adalah komitmen terhadap gerakan 4A: Anti Korupsi, Anti Intoleransi, Anti Perundungan, dan Anti Kekerasan Seksual. Buku ini menyajikan data empiris yang cukup mengejutkan, seperti tren korupsi dari ICW, peningkatan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan berdasarkan data JPPI, serta tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dari Komnas Perempuan. Dengan berani menampilkan realitas sosial yang kelam ini, buku ini menegaskan bahwa kampus harus menjadi zona integritas dan ruang aman bagi semua individu.
4.Pilar keempat, kelima, dan keenam berturut-turut membahas penjunjungan tinggi multikulturalisme, kesadaran ekologis (lingkungan yang berkelanjutan), serta peran kampus sebagai penggerak kearifan lokal dan pelestarian kebudayaan. Ketiga pilar terakhir ini memperluas spektrum patriotisme ke ranah global dan universal, menyelaraskannya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB 2030, sekaligus menjaga agar identitas lokal tidak tergerus oleh arusglobalisasi.

Berita Terkait :  Babinsa Jajaran Kodim 0830/Surabaya Utara Siap Amankan Nataru

Operasionalisasi dan Metrik Capaian
Sebuah buku strategi sering kali dikritik karena terlalu teoritis. Namun, buku ini berhasil menepis anggapan tersebut pada Bab III dan Bab IV yang membahas Indikator dan Strategi Internalisasi. Proses internalisasi diukur secara kuantitatif dan kualitatif melalui tiga level: Patriotisme Kebijatis (PK), Patriotisme Kelembagaan (PL), dan Patriotisme Mahasiswa (PM).

Buku ini menampilkan tabel target capaian yang sangat spesifik dari tahun 2026 hingga 2030. Sebagai contoh, integrasi nilai patriotisme dalam kurikulum ditargetkan meningkat dari 15% pada tahun 2026 menjadi 75% pada tahun 2030. Ada pula metrik mengenai jumlah mata kuliah berbasis Case-based Learning (CBL) dan Project-based Learning (PJBL) yang mengintegrasikan isu nasional, persentase dosen yang tersertifikasi pengajar bela negara, hingga jumlah mahasiswa KKN di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Keberadaan instrumen pemantauan berkala melalui Audit Mutu Internal oleh Badan Penjaminan Mutu (SPMI) memastikan bahwa strategi ini dievaluasi secara konsisten, transparan, dan akuntabel.

Kelebihanutamadaribuku ini terletak pada keberhasilannya membumikan konsep patriotisme. Penulis tidak terjebak pada retorika nasionalisme yang usang. Dengan menyertakan isu-isu kontemporer seperti transformasi digital, etika penggunaan kecerdasan buatan (AI), keramahan infrastruktur bagi penyandang disabilitas (Universal Design), serta gerakan anti kekerasan seksual, buku ini membuktikan bahwa patriotisme adalah nilai yang hidup, dinamis, dan inklusif. Buku ini juga sangat kaya akan data, menjadikannya sebuah karya ilmiah-strategis yang valid dan objektif, bukan sekadar bukupanduan moral biasa.Namundemikian, tantanganterbesar dari buku panduan setebal ini berada pada tataran eksekusi. Metrik kuantitatif yang dipaparkan dalam indikator internalisasi menuntut komitmen kerja yang luar biasa tinggi dari seluruh elemen universitas-mulai dari rektorat, dekanat, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Terdapat risiko di mana indikator-indikator tersebut dinilai secara administratif belaka demi memenuhi target audit mutu, sehingga esensi substantif dari perubahan perilaku dan karakter justru terabaikan. Oleh karena itu, konsistensi dalam mengawal strategi budaya jauh lebih penting daripada sekadar pengisian dokumen checklist di atas kertas.

Berita Terkait :  Waspada, DBD di Tulungagung di Awal Januari 2025 Sudah Tembus 32 Kasus

Secarakeseluruhan, Buku Strategi Pencapaian Kampus Patriotik merupakan sebuah terobosan literatur manajemen pendidikan tinggi yang sangat berharga. Buku ini menjadi oase di tengah gersangnya internalisasi nilai karakter di menara gading akademik yang kian pragmatis. Karya ini membuktikan bahwa perguruan tinggi dapat bertumbuh menjadi pusat keunggulan teknologi dan humaniora tingkat global tanpa harus menanggalkan akar kebangsaannya.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh para pengelola institusi pendidikan, pengamat kebijakan pendidikan, sosiolog, serta masyarakat luas yang peduli terhadap arah pembentukan karakter generasi penerus bangsa. Melalui cetak biru yang ditawarkan oleh Untag Surabaya, kita diajak untuk meyakini kembali bahwa dari ruang-ruang kelas perguruan tinggi, masa depan Indonesia yang cerdas secara intelektual dan kokoh secara moral-patriotik dapat diwujudkan.

————- *** —————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!