Pemprov Jatim, Bhirawa – Jawa Timur kembali mengemban tanggung jawab besar sebagai penyumbang produksi gula terbesar di Indonesia. Dalam Rapat Koordinasi Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota se-Jawa Timur Bidang Perkebunan yang digelar di Ruang Binaloka Adhikara, Kamis (10/9/2026) sore, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, menegaskan bahwa capaian target tebu tahun ini menjadi kunci utama kedaulatan pangan nasional.
Heru menyebut bahwa saat ini derajat kehormatan Jawa Timur berada pada posisi tertinggi di Indonesia terkait hasil alam, khususnya komoditas tebu. Jika target produksi tahun 2026 terpenuhi, Jawa Timur diproyeksikan menyumbangkan total produksi tebu hingga 3,18 juta ton.
Angka ini krusial untuk mencapai target gula kristal putih (GKP) atau gula konsumsi nasional sebesar 2,84 juta ton, yang menandakan Indonesia resmi mencapai swasembada gula konsumsi.
“Jangan sampai program CPCL (Cek Potensi dan Calon Lokasi) Bongkar Ratoon yang tidak terpenuhi menghambat capaian Jawa Timur menuju swasembada tebu,” tegas Heru di hadapan para pejabat daerah.
Dalam paparannya, Heru mengakui bahwa realisasi di lapangan masih menyisakan pekerjaan rumah yang berat. Secara rasional, laporan sementara menunjukkan adanya kekurangan realisasi sekitar 29,79 persen dari target yang ditetapkan. Meskipun angka ini dinilai lebih baik dibandingkan tahun lalu, Heru menekankan bahwa bagi Jawa Timur tidak ada istilah tidak mencapai target.
Beberapa kabupaten sentra tebu diidentifikasi masih mengalami kesulitan signifikan dalam memenuhi target penanaman. Daerah-daerah seperti Mojokerto, Jombang, dan Probolinggo disebut masih tertinggal. Sementara itu, Kabupaten Malang, Kediri, dan Blitar juga menjadi sorotan karena kontribusinya yang sangat vital bagi total produksi provinsi.
“Kami sudah bertemu dengan Bupati Sidoarjo dan beberapa kepala daerah lainnya. Ada komitmen penambahan luasan, misalnya di Madiun dan Ngawi yang bersedia menambah target hingga 10.000 hektare,” ujar Heru seraya menyebutkan bahwa pemerintah pusat siap membantu memfasilitasi kebutuhan benih dan pendampingan.
Pemerintah menetapkan batas waktu ketat hingga 30 September 2026 untuk memastikan target tercapai. Heru mengungkapkan bahwa beberapa provinsi lain seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY, dan Banten sudah lebih dulu menutup target mereka, bahkan ada yang kelebihan luasan. Kondisi ini berbeda dengan Jawa Timur yang masih harus mengejar ketertinggalan, serta Lampung yang masih kekurangan sekitar 4.500 hektare.
Untuk mengakselerasi pencapaian, Kementerian Pertanian bersama Pemprov Jatim melakukan beberapa langkah strategis. Diantaranya, optimalisasi CPCL Bongkar Ratoon, hampir seluruh lahan yang masuk dalam data CPCL sudah dikontrak, meskipun masih terdapat kendala teknis di beberapa daerah seperti Kediri. Kontrak ini dilakukan lebih awal untuk menjamin ketersediaan benih bagi petani.
Fleksibilitas mekanisme tanam mengingat ketergantungan pada curah hujan, pemerintah membuka opsi penggunaan mekanisme bank garansi bagi pekerjaan yang mungkin selesai melewati batas waktu kalender, asalkan realisasi tanam tetap terjadi pada September-Oktober.
Distribusi benih bersertifikat, ketersediaan benih dijamin melalui dua sumber utama, yaitu dari hasil perbanyakan sendiri (setara pelengkin) dan dari KBD (Kebun Benih Dasar). Pemetaan kebutuhan benih per kabupaten telah dilakukan untuk menghindari kelangkaan di tingkat petani.
Keberhasilan Jawa Timur memenuhi target 97.970 hektare bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan fondasi ekonomi nasional. Dengan asumsi rendemen yang terjaga, produksi 3,18 juta ton tebu dari Jatim akan berkontribusi signifikan terhadap target nasional 3,02 juta ton gula pada 2026.
Heru mengingatkan bahwa momentum ini tidak boleh terlewat. “Kalau nanti misalnya Lampung bisa kelebihan, berarti beban Jatim bisa dikurangi. Tapi prinsipnya, siapa yang punya potensi, itu yang kita eksekusi,” pungkasnya.
Dengan sisa waktu kurang dari satu bulan, sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota menjadi penentu utama apakah Jawa Timur mampu mengibarkan bendera swasembada gula Indonesia pada tahun ini. [aya.kt]


