Sekolah seantero propinsi Banten, dan DKI Jakarta, dilakukan secara daring (jarak jauh dari rumah), untuk menghindari paparan abu vulkanik. Walau intensitas erupsi gunung Anak Krakatau telah menurun, tetapi masih mengeluarkan material debu vilkanik. Termasuk abu silikon (kaca), yang sangat berbahaya. Karena ukurannya yang mikroskopik (sangat kecil, antara 10 hingga 2.000 mikron), dan enteng melayang di udara terserap pernafasan. Bisa masuk hidung hingga terbawa ke paru-paru. Menyebabkan iritasi tenggorokan, dan radang paru.
Pemerintah Propinsi DKI Jakarta menetapkan seluruhproses belajar – mengajar, dilakukan di rumah. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Bisa diselenggarakan pada saat pembelajaran secara tatap muka (regular) tidak dapat dilakukan. Realitanya, PJJ menjadi kebiasaan (normalisasi) pola Pendidikan pada saat pandemi sejak 16 Maret 2020. Untuk pertama kalinya dikenal model daring (dalam jaringan, online). Daring dilakukan menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet, dan WhatsApp grup.
Belum terdapat catatan vesarnya volume debu yng dimuntahkan gunung Anak Krakatau saat erupsi pada akhir pekan pertama September 2026. Gemuruhnya disertai suara keras dentuman, selama 25 jam berturut-turut. Berhenti pada 6 September dinihari. Ukuran gunung menyusut, karena longsor dan letusan (muntahan debu). Pada erupsi Desember 2018 silam, tubuh gunung Anak Krakatau, tercatat mengalami penyusutan volume sekitar 150 sampai 180 juta meter kubik.
Erupsi gunung Anak Krakatau pada awal September 2026, sesungguhnya tidak lebih besar. Namun semburan abu “di-edar-kan” oleh angin kemarau kering. Ada pergerakan angin membawa debu Anak Krakatau ke arah timur, sampai Bandung sejauh 260 kilometer. Juga abu yang “di-edar-kan” oleh angin ke arah barat sampai Muara Enim, sejauh 328 kilometer. Sedangkan secara vertical erupsi menyemburkan material debu vulkanik, bisa sampai setinggi 15 kilometer (sekitar 50 ribu kaki).
Ketinggian semburan erupsi Anak Krakatau, sangat membahayakan penerbangan. Merupakan jalur krusial bagi penerbangan domestik dan internasional. Sangat berbahaya karena abu vulkanik kaya kandungan silika (SiO2). Bisa masuk ke dalam mesin jet pesawat, sampai meleleh, dan membeku di bilah turbin. Dalam jumlah banyak bisa menyebabkan mesin mati total di udara. Sehingga hamper tiga ribu penerbangan dibatalkan. Sebanyak 341 penumpang tertahan, terdampak penutupan 8 Bandara.
Keamanan Penerbangan menjadi prioritas nomor satu operasional seluruh Bandara, dan maskapai, tanpa bisa ditawar. Diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan. Pada pasal 264 ayat (2), dinyatakan, “Pada Kawasan udara berbahaya … dilakukan pembatasan kegiatan penerbangan yang bersifat tudak tetap dan tidak menyeluruh sesuai dengan kondisi alam.” AirNav Indonesia telah memberikan warning berdasar rekomendasi BMKG, dan PVMBG.
Keamanan udara, bukan sekadar warning untuk pesawat terbang. Melainkan juga kepada seluruh masyarakat. Terutama Kawasan yang terpapar debu vulkanik. Realitanya, muntahan gunung Anak Krakatau, juga mengeluarkan abu kaca (silika). Bahkan Gubernur Banten, Jakarta, dan sebagian Bupati di Jawa Barat telah membagikan masker.
Penutupan Bandara sudah dinyatakan berakhir. Walau PT Angkasa Pura Indonesia (sekarang menjadi InJourney Airports) tetap waspada. Namun keamanan udara, bukan sekadar warning untuk pesawat terbang. Melainkan juga kepada seluruh masyarakat. Tak terkecuali Lembaga Ke-pendidikan, khususnya kawasan yang terpapar debu vulkanik. Abu kaca vulkanik bisa menggores kornea mata. Sehingga anak-anak tidak aman berada di luar rumah.
Tetapi muntahan abu kaca vulkanik dalam bentuk batu besar, sering disebut obsidian, sangat popular dijadikan batu cincin yang indah.
——— 000 ———


