Judul Buku : Julie, Memoir of a Journey
Penulis : Dr. Ni Njoman Juliasih, dr., M.Kes
Penerbit/ Tahun : Padmedia/ 2026
Tebal : 168 halaman + xii
Peresensi : Prihandari Satvikadewi, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Untag Surabaya yang meminati bidang komunikasi kesehatan dan komunikasi sains. Bisa dijumpai di akun medsos @vikawisnu.
Indonesia juara se-ASEAN dalam hal buruknya sistem layanan kesehatan. Peringkat ke-8 dari 9 negara dalam hal rasio dokter terhadap jumlah penduduk, salah satu paling rendah soal kompetensi tenaga medis di level layanan primer, terdepan perkara rumitnya birokrasi. Belum lagi jamaknya perilaku nakes yang nir-empati, seperti yang viral di medsos beberapa waktu lalu. Di tengah carut marut itu, sebuah buku hadir meresonansikan sisi manusiawi dari seorang profesional di bidang kesehatan. Buku itu berjudul Julie, Memoir of a Journey, ditulis oleh Dr. Ni Njoman Juliasih, dr., M.Kes., yang biasa disapa dr. Julie.
Meski penulisnya adalah praktisi public health, sekaligus akademisi fakultas kedokteran pada kampus terkemuka di Surabaya, buku ini tidak berbicara sistem layanan kesehatan dengan gaya serius ala artikel ilmiah, melainkan memotret persoalan-persoalan tentang kesehatan masyarakat dalam jarak dekat, dari kacamata seorang dokter. Karya setebal 168 halaman yang diterbitkan oleh Padmedia ini berisi sepuluh bab perihal momen-momen penting dan keseharian penulis yang personal dan reflektif.
Gaya tuturnya bersahaja. Pembaca disuguhi kisah kehidupan yang saling berkelindan antara profesi penulis sebagai dokter, aparatur sipil negara, kepala humas rumah sakit, peneliti dan akademisi. Isu-isu seputar layanan kesehatan ditampilkan sebagai bagian dari catatan perjalanan pribadi. Mulai dari persoalan ketimpangan akses kesehatan dan rendahnya perlindungan keselamatan kerja di kalangan masyarakat kelas bawah, kesehatan mental nakes, hingga kesenjangan teknologi yang sedemikian jauh antara Indonesia dan Jepang. Keresahan-keresahan yang tak bisa diabaikan, sekalipun direkamnya dari atas bis wisata saat reuni bersama teman-teman alumni FKUA, dari aktivitas sehari-hari di rumah sakit, atau saat business trip mendampingi suami konferensi.
Dengan cara itu, kritisisme mengambil bentuk sebagai pengalaman subjektif yang jauh dari kesan menggurui. Tentang kualitas kinerja nakes sebagai ujung tombak layanan kesehatan, misalnya, menurut dr. Julie kuncinya ada pada kualitas leadership para pemimpinnya. Diceritakan, saat menjabat sebagai RSUD dr. Soebandi Jember, dr. Julie menginisiasi kegiatan senam SKJ bersama staf dan manajer, serta line dance bersama ibu-ibu Dharma Wanita. Aktivitas fisik ringan namun menjadi sebuah strategi komunikasi yang brilian. Dalam suasana informal, sekat antara karyawan dan pejabat struktural melebur. Diskusi tanpa jarak menjadi wadah mitigasi dini bagi berbagai persoalan rumah sakit sebelum berkembang menjadi konflik internal.
“Para karyawan dan karyawati setiap hari menghadapi pasien sakit, gawat, tidak punya uang, bahkan marah-marah. Tekanan itu tentu menguras tenaga dan emosi. Maka harus ada penyeimbang -hal-hal yang mengisi nurani dan rohani. Sebuah lagu, gerakan indah, atau sekedar tawa bersama bisa menjadi obat yang tak kalah penting dari resep dokter” (hal. 43). Adalah tugas pemimpin untuk menciptakan suasana kondusif bagi seluruh tenaga kesehatan, karena selain harus menjalankan tugas profsionalnya, nakes juga dibebani target administratif yang tidak sedikit.
Bagaimana dengan masyarakat yang berkesadaran rendah tentang menjaga kesehatan dan mencegah penyakit? Tentu banyak variabel yang menjadi faktor kondisi tersebut. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang dokter di luar ruang praktiknya? Dalam sebuah agenda pengmas, dr. Julie berjumpa dengan seorang kepala desa yang luar biasa ramah dan mengesankan. Sepanjang pertemuan, sang kades tak bisa sejenak pun lepas dari rokok. Ironisnya, ia mengaku baru saja sembuh dari stroke. Dr. Julie tidak menegurnya di depan forum, tapi bicara dari hati ke hati dengan hati-hati, dan betapa lega ketika Pak Kades memutuskan berhenti.
Memoar ini menerapkan pendekatan sekuensial dengan sisipan ilustrasi foto pada setiap bagian, menjadikannya tidak membosankan. Mulai dari masa kecil yang nostaljik, kenangan pilu ditinggal wafat sang ibu, perjuangan beradaptasi dengan lingkungan tugas baru, fase kesulitan finansial saat mendampingi suami menjalani pendidikan spesialis, perjalanan dinas ke luar negeri, liburan bersama sejawat dan keluarga, hingga kesepian yang menghinggapi saat masa purna tugas tiba, sementara anak-anak telah beranjak dewasa. Penempatan latar belakang penulis di bagian awal buku, memudahkan pembaca membayangkan akar dari ketajaman radar empatinya.
Sebagai pendidik yang berangkat dari praktisi, dr. Julie mendapati lanskap ruang kelas kedokteran hari ini telah bergeser jauh; kurikulum berubah, metode ajar melompat maju, dan mahasiswa tumbuh dengan mentalitas yang berbeda dibanding zamannya dahulu. Namun baginya, esensi dokter sejati terangkum dalam sebuah laku hidup. Tulisnya, “Menjaga kesehatan bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan sebuah ikhtiar matang untuk memberi teladan bagi orang lain”.
————— *** ——————

