29.3 C
Sidoarjo
Thursday, July 9, 2026
spot_img

Impor Jawa Timur Melonjak, di Dorong Migas dan Pupuk pada Periode Januari–Mei 2026

Surabaya, Bhirawa – Jawa Timur mencatat lonjakan nilai impor yang signifikan pada periode Januari–Mei 2026, mendorong defisit perdagangan provinsi terutama disebabkan oleh impor migas dan pupuk.

Data sementara yang dikemukakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dr. Iwan S.Hut yang diwakili oleh Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jatim, Lucky, menunjukkan ekspor Januari–Mei tercatat sebesar 10,91 miliar USD, sementara impor menembus 13,70 miliar USD, kenaikan impor mencapai 14,36 persen dibanding periode sebelumnya.

Menurut Lucky, Ada tiga faktor pendorong kenaikan nilai Impor di Jatim. Pertama, impor migas menjadi kontributor terbesar defisit. Kenaikan harga minyak dunia dan kebutuhan impor migas yang tinggi membuat beban impor membesar. Permasalahan pasokan terlihat nyata di tingkat ritel, termasuk antrean di sejumlah SPBU beberapa minggu terakhir.

Kedua, sambung Lucky, adalah pupuk. Nilai impor pupuk naik sekitar 27 persen, terdorong kenaikan harga global, nilainya sekitar 51 persen dan ketergantungan bahan baku impor seperti nafta dan sulfur dari negara pemasok, seperti negara-negara Timur Tengah, Rusia, Kanada dan Cina.

Lucky menjelaskan, faktor ketiga, adalah pelemahan rupiah. “Depresiasi nilai tukar memperbesar nilai impor dalam rupiah sehingga nilai moneter impor meningkat meskipun volume belum sepenuhnya diketahui,” cetus Lucky, Kamis (9/7/2026).

Sementara itu, kenaikan impor juga terlihat pada beberapa komoditas terkait, sementara penurunan impor tercatat pada buah-buahan tertentu, bungkil kedelai, dan gandum pakan karena kebijakan pembatasan impor baru yang mewajibkan persetujuan kementerian.

Berita Terkait :  Harga Cabai di Kediri Raya Meroket Petani Tak Rasakan Untung

Komposisi impor dan dinamika volume juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi. Kebutuhan pupuk nasional mencapai sekitar 13 juta ton. Jawa Timur mengimpor sekitar 6,3 juta ton dari total tersebut, pemasok utama antara lain Cina, Rusia, dan Kanada.

Meski nilai impor meningkat, Lucky menekankan pentingnya analisis volume untuk menentukan apakah kenaikan nilai disebabkan volume riil naik atau semata efek nilai tukar dan harga internasional.

“Rincian volume masih menunggu data lebih terperinci dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang biasanya dirilis belakangan. Nanti kita cocokan dan dalami dengan cacatan kita,” katanya menutup.

Keberhasilan keseimbangan ekspor dan impor Jawa Timur pada semester berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan mengurangi impor migas, stabilisasi nilai tukar, pelaksanaan pembatasan impor strategis, serta upaya peningkatan daya saing ekspor sektor nonmigas. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!