Budaya membaca di kalangan generasi muda Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang sangat besar. Kehadiran gawai dan media sosial yang menawarkan hiburan instan secara perlahan menggeser minat anak-anak kita terhadap buku. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa adanya intervensi yang serius, kita akan menghadapi ancaman nyata berupa penurunan kualitas daya kritis dan kemampuan analisis pada generasi penerus bangsa.
Di tengah situasi yang cukup mengkhawatirkan ini, sekolah memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar. Sekolah tidak boleh hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan akademis semata, tetapi juga harus mampu bertransformasi menjadi pelopor utama dalam gerakan literasi. Lembaga pendidikan formal adalah ekosistem paling strategis untuk menyemai kembali benih-benih kecintaan membaca sejak usia dini secara terstruktur.
Sebagai langkah awal yang nyata, pihak sekolah wajib menghidupkan kembali fungsi perpustakaan. Perpustakaan sekolah tidak boleh lagi dibiarkan menjadi ruangan yang sepi, gelap, berdebu, atau sekadar tempat menyimpan buku pelajaran yang membosankan. Ruang baca harus didesain ulang menjadi tempat yang sangat nyaman, modern, dan ramah anak. Koleksi buku yang disediakan juga perlu divariasikan, tidak hanya terbatas pada buku teks wajib, tetapi juga mencakup novel sastra, komik edukatif, majalah sains, dan buku populer lainnya yang mampu memantik rasa ingin tahu siswa.
Selain fasilitas fisik, program pembiasaan juga memegang peranan yang sangat krusial. Kebijakan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit sebelum memulai aktivitas kelas harus diterapkan secara konsisten dan diawasi dengan baik. Untuk memberikan dampak yang lebih mendalam, kegiatan ini bisa dikembangkan menjadi program diskusi buku berkala, lomba menulis resensi, atau pembuatan mading kelas yang diperbarui setiap minggu. Melalui aktivitas kreatif tersebut, siswa tidak hanya diajak membaca, tetapi juga dirangsang untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan menuangkan ide mereka ke dalam bentuk tulisan.
Tentu saja, keberhasilan gerakan ini tidak akan tercapai tanpa adanya keteladanan dari para pendidik. Guru dan kepala sekolah harus memosisikan diri mereka sebagai role model literasi yang nyata. Sangat sulit mengharapkan siswa gemar membaca jika mereka tidak pernah melihat guru mereka memegang dan membaca buku di area sekolah. Ketika para guru aktif membaca dan membagikan cerita inspiratif dari buku yang mereka baca kepada siswa, atmosfer literasi di lingkungan sekolah akan terbentuk dengan sendirinya secara alami.
Melalui surat pembaca ini, saya ingin mengetuk kesadaran seluruh pengelola.
Rian Cahyadi
Pemerhati Pendidikan dan Budaya Bertempat tinggal di Kertajaya, Surabaya


