27 C
Sidoarjo
Wednesday, March 25, 2026
spot_img

Konflik Timur Tengah, Sekolah Daring Berisiko Turunkan Kualitas Belajar


Surabaya, Bhirawa
Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) merespon pembelajaran daring menjadi cara mudah akibat gejolak harga minyak dunia dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Konflik peprangan di timur tengah mendorong sejumlah negara di Asia menerapkan kebijakan penghematan, termasuk sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH), Indonesia mulai mempertimbangkan langkah efisiensi serupa di berbagai sektor, termasuk pendidikan dengan rencana pembelajaran daring, Rabu (25/3).

Pakar Pendidikan Universitas UMSURA, Achmad Hidayatullah Ph.D., mengatakan pembelajaran daring menjadi cara paling mudah yang dapat upayakan pemerintah untuk menghadapi situasi krisis, baik krisis ekonomi maupun keamanan.

“Pemerintah tidak cukup mengeluarkan instruksi pelaksanaan pembelajaran lewat WFH di sekolah, sebaiknya tidak hanya sekadar memberi instruksi pembelajaran daring, tapi membuat regulasi dan pedoman yang efektif, comtoh bagaimana konsep deep learning atau pembelajaran mendalam bisa diterapkan dalam pembelajaran daring,” jelasnya.

Lanjut Hidayatullah mengukapkan pengalaman saat pandemi menunjukkan pembelajaran daring tidak dirancang dengan baik bahkan dapat menurunkan kualitas pembelajaran, itu berdampak pada perkembangan kemampuan siswa yang menjadi lebih lambat.

“Pembelajaran daring saat pandemi covid-19 benar-benar menurunkan kualitas pembelajaran, siswa jadi bosan dan dampaknya terlihat hingga sekarang, masih ada siswa SMP yang kesulitan membaca dan menghitung,” ujarnya.

Terkait rencana Kementerian yang membagi sistem pembelajaran, yakni materi teori dilakukan secara daring sementara praktikum tetap dilaksanakan secara tatap muka, Hidayatullah menilai kebijakan tersebut sudah tepat.

Berita Terkait :  APK Paslon Dirusak OTK, Riyadi Minta Pendukung Tak Terprovokasi.

“Materi teori dilakukan melalui dialog daring dan kegiatan membaca yang membutuhkan keterampilan regulasi diri, sementara praktik memerlukan aktivitas fisik dan pengalaman langsung, sehingga sulit dilakukan secara online,” tutur Hidayatullah.

Hidayatullah menambahkan supaya pemerintah memberi kelonggaran bagi mahasiswa sedang menyelesaikan penelitian tugas akhir seperti skripsi, tesis, maupun disertasi untuk datang ke kampus.

“Mahasiswa mengerjakan tugas akhir harusnya tetap diperbolehkan mengakses perpustakaan, penelitian membutuhkan literatur yang kuat, dan sering kali sumbernya ada pada buku-buku yang belum tersedia dalam bentuk digital, serta kebijakan serupa juga diterapkan oleh banyak perguruan tinggi di luar negeri saat pandemi, yang mana mahasiswa melakukan praktikum dan penelitian tetap diizinkan mengakses laboratorium dan perpustakaan dengan pengaturan tertentu,” imbuhnya. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!