Oleh :
Budi Raharjo, SE, MSi
Staf Ahli Gubernur Bidang Kesejahteran Masyarakat dan SDM
Selama puluhan tahun, paradigma pembangunan ekonomi dibangun dengan logika yang relatif linear: pertumbuhan ekonomi meningkat, investasi bertambah, industri berkembang, maka lapangan kerja ikut meluas dan pengangguran menurun.
Pola tersebut cukup relevan ketika industri masih padat karya, otomatisasi belum masif, dan perubahan teknologi berlangsung lebih lambat dibanding hari ini.
Namun pasar kerja modern mulai bergerak jauh lebih kompleks. Ekonomi bisa tumbuh minim penyerapan tenaga kerja besar, industri tetap berekspansi tetapi perekrutan melambat, investasi meningkat tetapi lebih bersifat capital-intensive.
Produktivitas naik karena digitalisasi dan teknologi, sementara kebutuhan tenaga kerja justru menjadi semakin selektif. Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tenaga kerja tidak lagi berjalan linear seperti sebelumnya.Karena itu, membaca kondisi pasar kerja hari ini tidak lagi cukup hanya melihat angka pengangguran semata. Pasar kerja perlu dibaca lebih dalam, lebih kontekstual, dan lebih adaptif terhadap perubahan struktur ekonomi dan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Paradoks Pertumbuhan
Triwulan I-2026 memperlihatkan kontradiksi yang semakin nyata antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kerja. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur masih berada di atas angka 50 yang berarti aktivitas industri berada pada fase ekspansi.
Aktivitas produksi meningkat dan dunia usaha tetap bergerak. Namun, peningkatan produksi tersebut ternyata tidak otomatis diikuti dengan peningkatan perekrutan tenaga kerja. Indeks penambahan tenaga kerja pada bulan Maret 2026 dibawah 50 persen ( 48.76%). Artinya banyak perusahaan memilih meningkatkan output tidak menambah tenaga permanen yang baru tetapi melalui efisiensi proses, optimalisasi tenaga kerja yang sudah ada, digitalisasi sistem kerja, hingga otomatisasi produksi.
Di sisi lain, ketidakpastian global dampak perang USA-Iran mulai memengaruhi perilaku dunia usaha. Tekanan geopolitik internasional, perlambatan ekonomi global, kenaikan biaya logistik, volatilitas energi, hingga kehati-hatian pasar membuat perusahaan lebih selektif dalam membuka tenaga kerja baru.
Akibatnya, muncul fenomena baru di berbagai sektor industri. Banyak perusahaan tetap melakukan ekspansi bisnis dan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi tidak diikuti dengan ekspansi tenaga kerja dalam jumlah besar. Lowongan kerja masih tersedia, namun jauh lebih selektif dan cenderung mencari pekerja dengan kompetensi yang lebih spesifik serta siap pakai.
Kebutuhan industri perlahan bergeser dari sekadar tambahan jumlah pekerja menuju tenaga kerja yang mampu menghasilkan produktivitas lebih tinggi dan cepat beradaptasi dengan perubahan teknologi. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak pencari kerja-terutama lulusan baru-merasakan pasar kerja semakin kompetitif meskipun indikator ekonomi terlihat stabil.
Pasar kerja Indonesia kini mulai bergerak dari pola padat karya menuju pola berbasis produktivitas. Perusahaan tidak lagi hanya mencari tambahan jumlah pekerja, tetapi mencari pekerja yang mampu menghasilkan output lebih tinggi, adaptif terhadap teknologi, dan dapat langsung berkontribusi
Menuju “Intelligent Labour Market Interpretation”
Rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) tentang kondisi ketenagakerjaan Februari 2026 menunjukkan situasi yang sekilas tampak positif. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur turun menjadi 3,55 persen dari sebelumnya 3,61 persen pada Februari 2025. Jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 24,25 juta orang atau bertambah sekitar 388 ribu orang dibanding tahun sebelumnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga naik menjadi 74,78 persen.
Kondisi dan capaian yang harus diapresiasi ditengah ketidakpastian global. Namun di tengah rilis statistik yang terlihat baik tersebut, banyak masyarakat justru merasakan kondisi berbeda. Mencari pekerjaan terasa semakin sulit, proses rekrutmen makin panjang, dan perusahaan semakin selektif membuka tenaga kerja baru.
Di berbagai kawasan industri, dunia usaha tetap berproduksi dan bertumbuh, tetapi perekrutan tidak lagi berlangsung seagresif beberapa tahun sebelumnya. Fenomena ini memperlihatkan satu hal penting: pasar kerja Indonesia sedang berubah. Karena itu, membaca pasar kerja hari ini tidak lagi cukup hanya melihat angka pengangguran atau pertumbuhan ekonomi semata.
Ada paradoks baru yang mulai muncul: ekonomi tumbuh dan aktivitas industri meningkat, tetapi penyerapan tenaga kerja tidak bergerak secepat sebelumnya. Situasi inilah yang perlu dipahami secara lebih hati-hati agar pembacaan terhadap pasar kerja tidak terjebak pada optimisme statistik semata. Kita mulai memasuki fase baru, yaitu pergeseran dari statistical labour market reading menuju intelligent labour market interpretation.
Membaca Data dengan Memahami Periode Survey
Salah satu hal penting yang sering luput dalam membaca data ketenagakerjaan adalah memahami timing dan periode survei itu sendiri. Banyak orang membaca angka pengangguran hanya dari hasil akhirnya, padahal memahami kapan survei dilakukan sangat penting untuk membaca konteks ekonomi dan dinamika pasar kerja.
Secara metodologi, Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari lebih banyak digunakan untuk melihat dinamika semester awal dan kondisi awal tahun. Sementara Sakernas Agustus biasanya menjadi rujukan tahunan karena jumlah sampelnya lebih besar dan detail datanya dapat dibaca lebih luas hingga level kabupaten dan kota tertentu. Artinya, data Februari pada dasarnya merupakan snapshot kondisi pasar kerja pada saat survei berlangsung. Data tersebut belum sepenuhnya menangkap berbagai tekanan ekonomi dan perubahan strategi dunia usaha yang berkembang lebih kuat beberapa bulan setelahnya.
Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional Februari 2026 turun menjadi 4,68 persen atau sekitar 7,24 juta orang. Di Jawa Timur, TPT juga turun menjadi 3,55 persen dengan jumlah penduduk bekerja mencapai sekitar 24,25 juta orang dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) meningkat menjadi 74,78 persen. Capaian tersebut tentu perlu diapresiasi. Namun kondisi pasar kerja setelah Maret hingga Mei 2026 mulai menunjukkan dinamika berbeda.
Perlambatan permintaan global, ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, tekanan efisiensi industri, hingga percepatan otomatisasi dan AI mulai memengaruhi pola perekrutan perusahaan. Banyak dunia usaha memasuki fase hiring freeze ringan, optimalisasi tenaga kerja existing, penguatan multi-tasking pekerja, efisiensi struktur organisasi, dan digitalisasi proses kerja.
Fenomena seperti ini sering belum langsung tertangkap dalam data Februari karena shock global dan perubahan strategi perusahaan baru terasa beberapa bulan sesudah survei berlangsung. Karena itu, membaca data pasar kerja tidak cukup hanya melihat angka statistiknya, tetapi juga harus memahami konteks waktu dan perubahan ekonomi yang sedang bergerak.
Paradoks lain yang cukup menarik muncul dari data pendidikan tenaga kerja. Di tengah penurunan angka pengangguran Jawa Timur, lulusan perguruan tinggi justru menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi. Data BPS Februari 2026 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka lulusan universitas mencapai sekitar 6,04 persen, lebih tinggi dibanding lulusan SMA maupun SMK. Fenomena ini menarik karena menunjukkan bahwa struktur pasar kerja mulai mengalami perubahan. Selama bertahun-tahun, lulusan SMK dikenal sebagai kelompok paling rentan menganggur karena besarnya pasokan tenaga kerja vokasi yang tidak selalu seimbang dengan kapasitas penyerapan industri.
Sementara itu, lulusan sarjana relatif memiliki peluang lebih besar masuk ke sektor formal. Namun kondisi tersebut mulai bergeser. Dunia usaha kini semakin selektif merekrut fresh graduate, terutama untuk pekerjaan administratif dan entry-level yang mulai terdigitalisasi. Otomatisasi, penggunaan AI, serta efisiensi organisasi membuat industri tidak lagi hanya membutuhkan ijazah, tetapi tenaga kerja yang siap pakai, adaptif, dan memiliki pengalaman praktis
Di sisi lain, sebagian lulusan SMA dan SMK justru mulai terserap pada sektor operasional, logistik, manufaktur, sales, jasa lapangan, hingga pekerjaan berbasis gig economy yang lebih fleksibel.
Sebaliknya, lulusan sarjana menghadapi tantangan baru berupa tingginya ekspektasi terhadap pekerjaan formal, proses rekrutmen yang lebih panjang, persaingan yang semakin ketat, serta menyempitnya pasar kerja entry-level formal. Karena itu, fenomena meningkatnya pengangguran sarjana pada Februari 2026 tidak bisa dibaca sekadar sebagai kenaikan angka pengangguran biasa, tetapi sebagai sinyal bahwa hubungan antara pendidikan tinggi dan pasar kerja sedang mengalami perubahan struktur yang cukup mendasar.
———– *** ————


