Sumenep, Bhirawa
Deretan kambing tampak berjajar rapi di bawah terpal sederhana di sejumlah sudut Kota Sumenep. Suara embikan bersahutan memecah suasana pagi, berpadu dengan aktivitas warga yang mulai melirik hewan kurban untuk menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Menjelang perayaan hari besar umat Islam itu, lapak-lapak penjualan hewan kurban mulai bermunculan di berbagai titik di Kabupaten Sumenep. Pemandangan tersebut menjadi penanda bahwa musim kurban kembali tiba.
Di sepanjang Jalan Payudan Barat, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan KH Mansyur, Desa Pabian, hingga Jalan Sultan Abdurrahman, Kecamatan Kota Sumenep, lapak hewan kurban mulai ramai berdiri. Puluhan kambing tampak dipajang di kandang-kandang darurat, menanti calon pembeli yang datang silih berganti.
Bagi sebagian pedagang, momentum Idul Adha bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan musim panen yang telah lama dinanti. Seperti yang dijalani Abd. Rahman, salah satu pedagang hewan kurban di kawasan Kota Sumenep. Di bawah terik matahari, ia sibuk memberi pakan kambing sembari sesekali melayani calon pembeli yang menanyakan harga dan kondisi hewan. Usaha berjualan hewan kurban, kata dia, sudah menjadi aktivitas rutin setiap menjelang Hari Raya Idul Adha.
“Hampir setiap tahun kami buka lapak. Biasanya kami siapkan sampai seratus ekor kambing untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Abd. Rahman saat ditemui di lapaknya, Minggu (17/05).
Ratusan kambing itu tidak hanya berasal dari peternak lokal Sumenep, tetapi juga didatangkan dari luar daerah untuk mengantisipasi lonjakan permintaan. Menurutnya, masyarakat biasanya mulai berburu hewan kurban beberapa pekan sebelum Idul Adha, meski puncak pembelian lazim terjadi mendekati hari pelaksanaan. “Kalau mendekati Idul Adha, pembeli semakin ramai. Banyak yang sengaja menunggu waktu dekat karena menyesuaikan kondisi keuangan,” tuturnya.
Soal harga, Abd. Rahman menjelaskan, nilai jual kambing cukup beragam, tergantung ukuran, bobot, serta kualitas fisik hewan. Saat ini, harga kambing di lapaknya berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp3,8 juta per ekor. Meski demikian, ia mengakui harga hewan kurban perlahan mulai mengalami kenaikan. Dibanding hari biasa, kenaikan rata-rata mencapai Rp200 ribu per ekor. Fenomena kenaikan harga tersebut, menurutnya, merupakan hal lumrah menjelang Idul Adha. Selain dipengaruhi meningkatnya permintaan masyarakat, ketersediaan stok hewan yang memenuhi syarat kurban juga menjadi faktor penentu. “Biasanya harga terus naik sampai H-1 Idul Adha karena permintaan meningkat. Tapi kami tetap berusaha menyediakan pilihan harga yang bisa dijangkau masyarakat,” katanya.
Di tengah geliat lapak musiman itu, kehadiran penjual hewan kurban menjadi bagian dari denyut ekonomi warga menjelang hari raya. Tidak hanya pedagang, peternak lokal pun ikut merasakan dampak meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap kambing kurban. Sementara bagi warga, memilih hewan kurban bukan hanya soal harga, melainkan juga ikhtiar menjalankan ibadah dengan hewan yang sehat dan layak. Maka, setiap bunyi hewan yang terdengar dari lapak-lapak sederhana itu seolah menjadi pertanda bahwa Idul Adha semakin dekat di Kota Keris. [sul.hel]


