Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair
Dalam konteks kesehatan, kesehatan jiwa merupakan sisi yang takterpisahkan dalam membentuk kondisi sehat bagi seseorang. Sehat bukan hanya sisi fisik, spiritual, sosial saja namun faktor psikis atau jiwa juga menjadi unsur pembentuk definisi sehat pada seseorang dimana sebuah kondisi kesejahteraan secara komprehensif dan holistik di mana seseorang menyadari potensinya, mampu mengatasi tekanan hidup sehari-hari, bekerja secara produktif, serta mampu berkontribusi pada lingkungannya. Sebenarnya makna kesehatan jiwa melampaui sekadar ketiadaan penyakit atau gangguan mental. Ini mencakup keselarasan fisik, mental, spiritual, dan sosial. Oleh karena itu, peran strategis komunikasi dalam kesehatan jiwa adalah sebagai sarana utama untuk membangun empati, memberikan dukungan emosional, serta memfasilitasi proses pemulihan pasien melalui komunikasi terapeutik (upaya penyembuhan).
Harus diakui bahwa komunikasi merupakan salah satu strategis dan vital dalam upaya membangun kesehatan jiwa seseorang terutama yang bersifat empati dimana seseorang mampu memvalidasi emosi, mereduksi stres, dan membangun rasa aman bagi seseorang untuk terbuka. Membangun komunikasi menjadi pendengar aktif artinya atensi dan fokus sepenuhnya pada pembicara tanpa terganggu hal-hal lain misalnya gawai atau terburu-buru memotong pembicaraan. Di sisi lain adalah mampu pemvalidasi perasaan atau emosi seseorang dengan kalimat-kalimat yang bersifat empatik tanpa meremehkan masalah seseorang serta mampu menghindari menghakimi dengan memberikan respon yang lembut dan tunjukkan kepedulian tulus tanpa langsung memberikan nasihat atau menggurui. Tema peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunai kali ini adalah “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” yakni Pengalaman Hidup yang Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata.
Membangun komunikasi yang efektif dan empatik berupa bentuk percakapan tentang kesehatan mental sangatlah penting dan kian bermakna jika kita mendengarkan pengalaman orang lain. Selain itu pendekatan mendengarkan adalah keterampilan penting – terutama saat mendukung seseorang dalam hal kesehatan mental. Tujuan peringatan tersebut adalah memberikan kesempatan untuk berinteraksi secara bermakna dengan orang-orang yang memiliki pengalaman langsung (People with Lived Experience / PWLE) terkait kondisi kesehatan mental. Harus diakui bahwa membicarakan kesehatan mental bisa terasa sulit, membutuhkan kesabaran dan keuletan tinggi. Terkadang banyak dari kita khawatir mengatakan hal yang salah, dan itu bisa menghentikan percakapan sebelum dimulai. Tetapi percakapan ini penting dan upaya untuk mereduksi masalah yang terjadi secara mental seseorang. Setidaknya dapat menyalurkan semua uneg-uneg dan kegundahan hati. Sekali lagi mendengarkan adalah keterampilan penting terutama saat mendukung seseorang dalam hal kesehatan mental. Oleh karena itu kita harus mempelajari lebih lanjut tentang mendengarkan aktif dan cara menerapkannya secara nyata.
Fakta
Kesehatan mental merupakan komponen penting dari kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan. Akan tetapi, gangguan kesehatan mental telah lama distigmatisasi dan disalahpahami, yang menyebabkan kurangnya kesadaran, sumber daya yang tidak memadai, dan terbatasnya akses ke perawatan yang diperlukan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar satu dari empat orang di seluruh dunia akan terpengaruh oleh gangguan mental atau neurologis di beberapa titik dalam hidup mereka. Hal ini menjadikan kesehatan mental sebagai masalah global yang signifikan yang memerlukan perhatian segera. Selain itu berdasarkan laporam, National Adolescent Mental Health Survei tahun 2022 merilis bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental/jiwa dalam 12 bulan terakhir (atau setara dengan 15,5 juta jiwa). Kondisi ini diprediksi dari tahun ke tahun akan meningkat seiring dengan perkembangan zaman dan masifnya digiltalisasi yang menyebabkan perilaku instan dan gaya hidup hedonisme.
Dari laporan tersebut hanya 2,6 persen yang mengakses layanan konselling atau fasilitas layanan kesehatan mental, 62 persen lebih banyak bercerita pada keluarga, 42 persen bercerita terhadap teman. Oleh karena itu, orang terdekat sering menjadi tempat bercerita (curhat) pertama sehingga mendengar merupakan kata kunci dan tidak terburu-buru untuk menasehatinya. Selain itu kita juga jangan ragu menyapa dan menanyakan kabar, menghindari menghakimi atau meremehkan perasaan orang lain, memberikan dukungan kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan serta mengingatkan bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Dengan demikian satu perhatian kecil dari kita mungkin sangat berarti bagi seseorang. Mendengar merupakan bentuk komunikasi yang sangat esensial yang terkadang tidak terlalu dominan dibandingkan dengan berbicara misalnya namun dalam konteks kesehatan jiwa mendengar merupakan salah satu kata kunci dan pintu akses untuk mengurai permasalahan kesehatan mental agar tidak berlanjut pada kondisi yang bertambah buruk.
———— *** ————–






