Oleh:
Dr. Elinda Rizkasari, S.Pd., M.Pd.
Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Kita sedang menyaksikan sebuah ironi dalam dunia pendidikan. Anak-anak diminta menjauhkan gawai demi menyelamatkan masa depan mereka. Namun, pada saat yang sama, tidak sedikit orang dewasa yang justru semakin sulit melepaskan pandangan dari layar ketika anak membutuhkan perhatian. Kita sibuk mengkhawatirkan berapa lama anak bermain telepon pintar, tetapi jarang mempertanyakan berapa lama kita benar-benar hadir dalam kehidupan mereka.
Ironi ini menemukan momentumnya ketika Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan pada Juli lalu. Kebijakan tersebut bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman, meningkatkan konsentrasi, memperkuat interaksi sosial, dan membangun budaya digital yang sehat.
Langkah ini patut diapresiasi. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: setelah gawai dijauhkan, apakah anak-anak otomatis terbebas dari kesepian?
Kesepian di Tengah Keluarga
Bayangkan seorang anak yang pulang sekolah membawa cerita tentang pertengkaran dengan temannya. Ia ingin didengarkan, tetapi ayah masih sibuk dengan pekerjaan dan ibu sedang menyelesaikan berbagai urusan. Ketika kesempatan bercerita tak kunjung datang, anak memilih membuka telepon pintar. Di sana tersedia permainan, video, dan percakapan yang seolah tidak pernah kehabisan waktu.
Situasi tersebut merupakan gambaran reflektif, bukan kisah satu keluarga tertentu. Namun, persoalan yang diangkatnya nyata: teknologi dapat mengisi waktu anak, sementara kebutuhan akan kedekatan emosional tetap memerlukan kehadiran manusia.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2024 menunjukkan penggunaan media sosial bermasalah di kalangan remaja pada wilayah surveinya meningkat dari 7 persen pada 2018 menjadi 11 persen pada 2022. Penelitian yang melibatkan hampir 280.000 remaja usia 11, 13, dan 15 tahun di 44 negara dan wilayah itu juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan teman sebaya bagi kesejahteraan psikologis.
Temuan tersebut bukan gambaran langsung seluruh anak Indonesia. Meski demikian, ia memberikan peringatan bahwa persoalan digital tidak cukup dipahami sebagai urusan perangkat dan durasi penggunaan. Kualitas hubungan sosial juga perlu mendapat perhatian.
Anak yang terlihat sibuk dengan gawai belum tentu mengalami kesepian. Sebaliknya, anak yang tidak memegang gawai belum tentu memiliki hubungan sosial yang sehat. Mengurangi waktu layar tidak otomatis menambah kedekatan emosional.
Ketika Orang Tua Ikut Terjebak Layar
Persoalan menjadi semakin rumit ketika orang dewasa menuntut kedisiplinan digital tanpa memberikan keteladanan. Dalam kajian psikologi, dikenal istilah parental phubbing, yakni perilaku orang tua yang mengalihkan perhatian kepada telepon pintar ketika sedang berinteraksi dengan anak.
Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan pada 2023 dan terindeks PubMed, mencakup 42 penelitian dengan 56.275 anak di China, menemukan hubungan antara parental phubbing dan berbagai persoalan penyesuaian sosial-emosional anak. Perilaku tersebut berkorelasi dengan meningkatnya masalah emosional dan perilaku serta rendahnya sejumlah indikator kompetensi sosial-emosional.
Penelitian lain yang dipresentasikan dalam European Psychiatry pada 2025 juga menemukan hubungan antara parental phubbing dan gejala emosional anak. Meskipun hasil penelitian observasional tersebut tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, pesannya penting: penggunaan teknologi oleh orang tua sendiri merupakan bagian dari persoalan pengasuhan digital.
Di sinilah letak kontradiksi yang perlu direnungkan. Kita melarang anak bermain gawai ketika makan bersama, tetapi masih membalas pesan pekerjaan di meja makan. Kita meminta anak bercerita tentang pengalamannya di sekolah, tetapi perhatian kita terpecah oleh notifikasi. Anak-anak belajar bukan hanya dari aturan, melainkan dari perilaku yang mereka saksikan setiap hari.
Sekolah Tanpa Gawai Belum Tentu Ramah Anak
Dalam pendidikan dasar, interaksi sosial merupakan bagian penting dari proses belajar. Melalui permainan, diskusi, kerja kelompok, dan penyelesaian konflik sederhana, anak mengembangkan empati, kemampuan berkomunikasi, serta kemandirian. Karena itu, pembatasan gawai seharusnya menjadi pintu masuk untuk memperkuat pengalaman belajar, bukan sekadar menambah daftar larangan.
Sekolah yang berhasil mengurangi penggunaan gawai belum tentu berhasil menciptakan lingkungan yang membuat setiap murid merasa diterima. Anak yang tersisih dari kelompok bermain, mengalami perundungan, atau kesulitan menyampaikan pendapat tetap membutuhkan perhatian meskipun tidak lagi membawa telepon pintar.
Kebijakan pembatasan gawai sebenarnya telah menempatkan peningkatan interaksi sosial sebagai salah satu tujuannya. Tantangannya terletak pada penerjemahan tujuan tersebut menjadi pengalaman nyata dalam keseharian sekolah.
Guru perlu memiliki ruang untuk mengenali kebutuhan sosial-emosional murid, bukan hanya mengejar ketuntasan materi. Sekolah juga perlu memastikan bahwa waktu tanpa gawai diisi dengan kegiatan yang memberi kesempatan kepada anak untuk bergerak, bermain, berkolaborasi, dan membangun persahabatan.
Menghadirkan Kembali Orang Dewasa
Ada tiga langkah yang dapat dilakukan agar pembatasan gawai tidak berhenti sebagai kebijakan administratif.
Pertama, keluarga dapat membangun Gerakan Satu Jam Hadir, yakni komitmen menyediakan waktu kebersamaan tanpa gangguan gawai. Bentuknya dapat berupa makan bersama, membaca cerita, bermain, atau sekadar mendengarkan pengalaman anak. Satu jam bukan ukuran ilmiah yang berlaku bagi semua keluarga, melainkan ajakan praktis untuk memprioritaskan interaksi yang berkualitas.
Kedua, sekolah dasar perlu mengembangkan ruang interaksi yang bermakna melalui permainan kolaboratif, pembelajaran berbasis proyek, kegiatan literasi bersama, dan pendampingan sosial-emosional. Keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur melalui capaian akademik, tetapi juga melalui kemampuan anak membangun hubungan yang sehat.
Ketiga, pemerintah perlu memastikan bahwa evaluasi pembatasan gawai tidak berhenti pada kepatuhan terhadap aturan. Perubahan kualitas interaksi sosial, rasa aman murid, keterlibatan orang tua, dan literasi digital juga perlu diperhatikan.
Teknologi bukan musuh pendidikan. Anak tetap membutuhkan kecakapan digital untuk menghadapi masa depan. Yang harus dibangun adalah kemampuan menggunakan teknologi secara bijaksana, bukan ketakutan terhadap teknologi itu sendiri. Pada akhirnya, perdebatan mengenai gawai seharusnya mengantarkan kita pada pertanyaan yang lebih penting: sudahkah keluarga dan sekolah menjadi tempat yang cukup hangat bagi anak untuk tumbuh?
Jangan sampai kita berhasil menjauhkan gawai dari tangan anak, tetapi gagal mendekatkan hati mereka kepada keluarga dan sekolah. Sebab, anak-anak tidak hanya membutuhkan dunia dengan lebih sedikit layar. Mereka membutuhkan dunia dengan lebih banyak kehadiran manusia. Barangkali yang paling mereka rindukan bukan kebebasan menggunakan gawai, melainkan orang dewasa yang benar-benar bersedia mendengarkan.
————— *** —————–






