Kota Probolinggo, Bhirawa – Selain meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Probolinggo terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat sebagai upaya menekan angka kebakaran. Sosialisasi dilakukan hingga ke sekolah, permukiman, rumah sakit, dan perusahaan. Namun di sisi lain, petugas masih menghadapi kendala berupa laporan palsu yang menguras waktu dan tenaga personel.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP, Linmas, dan Damkar Kota Probolinggo, Tri Setyo Anggodo, mengatakan pencegahan merupakan langkah paling efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi.
Karena itu, pihaknya aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyebab kebakaran, penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), penanganan kebocoran tabung gas LPG, hingga langkah evakuasi saat terjadi kebakaran.
“Kami tidak hanya memadamkan api. Kami juga rutin memberikan sosialisasi kepada masyarakat, sekolah, rumah sakit, dan perusahaan agar mereka memahami penyebab kebakaran serta cara penanganan awal sebelum petugas datang,” katanya saat ditemui di Mako Damkar Kota Probolinggo, Rabu (22/7).
Menurut Tri, dalam beberapa pekan terakhir kegiatan sosialisasi dilakukan secara berkala di sejumlah SMA, SMK, rumah sakit, hingga lingkungan masyarakat. Bahkan warga juga dapat mengajukan permohonan pelatihan kepada Damkar. Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan pemohon, mulai dari penanganan kebakaran rumah tangga hingga simulasi evakuasi di lingkungan perusahaan.
Selain pelatihan tatap muka, Damkar juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi. Setiap selesai menangani pengaduan, petugas diarahkan membuat konten yang berisi penyebab kejadian sekaligus pesan-pesan pencegahan.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai potensi bahaya kebakaran maupun kejadian nonkebakaran.
Di balik upaya edukasi tersebut, Damkar masih dihadapkan pada persoalan laporan palsu dari masyarakat. Tri mengungkapkan, tidak sedikit laporan yang diterima melalui telepon maupun saluran pengaduan lainnya ternyata tidak terbukti setelah petugas tiba di lokasi.
“Laporan tetap harus kami tindak lanjuti. Meskipun ketika sampai di lokasi ternyata tidak ada kejadian apa pun, petugas tetap harus mengecek. Kondisi seperti ini tentu menghabiskan waktu, tenaga, dan berpotensi menghambat penanganan apabila pada saat bersamaan ada kejadian yang benar-benar membutuhkan pertolongan,” ujarnya.
Meski demikian, pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas. Damkar Kota Probolinggo menyiagakan personel selama 24 jam dengan rata-rata waktu tanggap sekitar 10 menit sejak laporan diterima. Apabila terjadi kebakaran besar, seluruh personel, termasuk yang sedang tidak bertugas, akan dikerahkan untuk membantu proses pemadaman agar api tidak meluas.
Tri menambahkan, memasuki periode Juli hingga September, seluruh personel juga meningkatkan kewaspadaan karena merupakan musim kemarau yang disertai angin kencang. Kondisi tersebut dinilai sangat berpotensi mempercepat penyebaran api, terutama pada kebakaran lahan maupun permukiman.
Ia pun mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan kebakaran dengan tidak melakukan pembakaran sembarangan, memberikan informasi yang benar saat melapor, serta segera menghubungi Damkar apabila menemukan potensi bahaya kebakaran.
“Kami berharap masyarakat menjadi mitra Damkar. Pencegahan jauh lebih baik daripada penanggulangan, sehingga keselamatan masyarakat dan kerugian akibat kebakaran dapat diminimalkan,” pungkasnya. [fir.kt]


