Tuban, Bhirawa – Bau menyengat kotoran sapi dan kambing yang biasanya cuma menumpuk di belakang rumah warga Desa Trutup, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, kini tak lagi dianggap sebagai pengganggu kenyamanan.
Di tangan para petani sekitar jalur pipa minyak Banyu Urip, limbah peternakan yang kadang bikin pusing itu diproses menjadi pupuk.
Melalui proses pengomposan Bokashi, pupuk organik ini menjadi penyelamat petani saat harga pupuk kimia melonjak atau pasokannya tersendat setiap kali musim tanam tiba.
Bagi Saedi dan puluhan petani lainnya di kawasan selatan Tuban, kehadiran Balai Produksi Bokashi Desa Trutup bukan sekadar bangunan untuk belajar meracik pupuk organik. Di tempat inilah semangat kemandirian petani mereka dimulai.
“Kalau ini bisa kami terapkan di lahan, produksi bisa meningkat dan biaya pupuk juga lebih ringan,” ujar Saedi kepada bhirawa, Jumat (11/9/2026).
Raut wajah Saedi mencerminkan kegelisahan klasik petani Indonesia. Dia sangat tergantung pada sarana produksi pertanian dari luar. Namun, dengan mengolah kotoran hewan (kohe) menjadi pupuk bernutrisi tinggi, beban biaya operasional mereka semakin terpangkas.
Langkah yang diambil oleh 25 petani perwakilan dari Kecamatan Palang, Rengel, Plumpang, dan Soko ini sejatinya memicu efek domino yang jauh melampaui sekadar ketersediaan pupuk.
Menurut Kepala Desa Trutup, Slamet Widodo, lingkungan di sekitar kandang yang tadinya becek, kotor, dan menjadi sarang lalat kini lebih tertata dan bersih. Bau kotoran berkurang drastis karena kohe langsung diserap untuk bahan baku produksi.
“Lingkungan desa yang lebih segar secara otomatis meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat pemukiman,” tukasnya.
Selain itu, Slamet mengungkapkan, lahan pertanian yang bertahun-tahun dihantam pupuk anorganik secara bertahap diperbaiki struktur tanahnya melalui pengembalian bahan organik. Tanah yang gembur dan kaya nutrisi menjadi fondasi utama bagi produktivitas panen yang stabil.
Kata dia, kotoran ternak yang dulunya tidak bernilai kini memiliki nilai ekonomi. Terbuka rantai aktivitas baru dari tingkat bawah. Mulai dari pengumpulan bahan baku, proses fermentasi, pengemasan, hingga distribusi.
“Ini peluang penghasilan tambahan bagi warga yang terlibat dalam rantai pasok Bokashi,” imbuhnya.
Program Pertanian Berkelanjutan dan Aman yang diinisiasi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas tersebut menjadi pemantik kemandirian para petani. Bermitra dengan Yayasan Elsal Indonesia, EMCL memberikan pendampingan dan konsultasi rutin kepada petani.
Perwakilan EMCL, Joni Wicaksono menjelaskan bahwa pendampingan pertanian ini merupakan bentuk kolaborasi saling menguatkan. Satu sisi petani semakin untung, sisi lain jalur pipa tetap aman dan selamat.
“Kami mengapresiasi dukungan para petani sekitar jalur pipa. Mereka hebat!” Ujarnya semangat.
Selain itu, kata Joni, masyarakat pun berkontribusi dalam program. Seperti dukungan dari Desa Trutup. Pemerintah Desa Trutup memberi dukungan konkret mulai dari pengurugan lahan balai, hingga penyediaan alat pencacah dan mesin diesel guna menopang skala produksi. Berkat dukungan itu, hari itu berhasil mengolah 1,6 ton bahan baku menjadi 1,2 ton Bokashi siap pakai.
Inisiatif pengolahan kohe menjadi Bokashi di Jalur Pipa Banyu Urip ini membuktikan bahwa solusi atas krisis pupuk dan degradasi lingkungan tidak selalu harus datang dari industri besar. Kadang, solusinya sudah ada di pekarangan rumah warga. Tinggal bagaimana merawat keterampilan dan konsistensinya agar terus berdampak. [hud.kt]


