27 C
Sidoarjo
Tuesday, October 13, 2026
spot_img

Kepala Bakorwil III Malang Paparkan Fondasi Malang Raya Menuju Megapolitan


Kota Malang, Bhirawa – Pembangunan kawasan Malang Raya menuju megapolitan tidak boleh hanya bertumpu pada ekspansi kawasan perkotaan, fisik infrastruktur, maupun konektivitas antardaerah semata. Transformasi kewilayahan harus menempatkan integrasi potensi desa dan kota sebagai kunci utama pemerataan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Kepala Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) III Malang, Asep Kusdinar, saat hadir sebagai dosen praktisi di hadapan mahasiswa Program Doktor (S3) Departemen Ilmu Pertanian, Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya (UB), Selasa (13/10).

Asep memaparkan, Malang Raya memiliki karakteristik geografis dan sektoral yang saling melengkapi. Kota Malang mengakar kuat pada sektor pendidikan, perdagangan, jasa, dan ekonomi kreatif.

Kota Batu unggul di sektor pariwisata dan pertanian dataran tinggi, sementara Kabupaten Malang memiliki bentang teritorial luas dengan kekuatan pertanian, perkebunan, industri, kelautan, serta pariwisata.

“Megapolitan tidak boleh dimaknai sekadar pertumbuhan kota. Kota dan desa harus saling menguatkan. Kota berperan sebagai pusat inovasi, jasa, dan teknologi, sementara desa adalah kekuatan produksi pangan, sumber daya alam, dan ekonomi lokal. Keduanya harus tumbuh bersama dalam satu ekosistem terpadu,” terang Asep.

Menurutnya, desa harus diposisikan secara strategis, bukan sekadar wilayah penyangga penyedia logistik perkotaan. Sektor pertanian, perkebunan, peternakan, hingga perikanan desa perlu dihilirisasi melalui penerapan teknologi, akses permodalan, dan jaringan distribusi agar menghasilkan nilai tambah.

Berita Terkait :  Warga Desa Pagerwojo, Buduran, Pesimis Program Pasang Baru PDAM Sidoarjo

Peluang tersebut, lanjut Asep, kian terbuka dengan kehadiran 67 perguruan tinggi negeri maupun swasta di Malang Raya. Kolaborasi riset terapan dan digitalisasi usaha dari kampus dapat langsung diaplikasikan untuk mendongkrak produktivitas desa.

Lebih jauh, Asep menguraikan potensi green economy dan blue economy di Malang Raya. Sektor ekonomi hijau bertumpu pada pertanian berkelanjutan serta komoditas unggulan seperti apel, kopi robusta, jeruk siam, hortikultura, hingga konservasi lingkungan. Sementara ekonomi biru difokuskan pada optimalisasi kawasan pesisir Malang Selatan melalui perikanan tangkap terintegrasi dan wisata bahari berkelanjutan.

Terkait konektivitas, akses seperti Jalan Tol Pandaan-Malang dan kelanjutan Jalur Lintas Selatan (JLS) dinilai krusial membuka isolasi wilayah. Kendati demikian, infrastruktur fisik tersebut menuntut kesiapan kelembagaan desa agar tidak sekadar menjadi jalur perlintasan.

“JLS membuka peluang besar, tetapi desa harus siap menjadi penggerak ekonomi dengan produk unggulan, UMKM yang tangguh, dan layanan wisata memadai. Infrastruktur harus menghadirkan pemerataan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat desa,” pungkasnya. [mut.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!