32.9 C
Sidoarjo
Tuesday, October 13, 2026
spot_img

Seen, Diam, Hilang: Ketika “Ghosting” Berubah Menjadi SebuahPesan Dalam Interaksi Digital

Artikel opini:

Adinda Ovi Ramadhania
Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJ)

Pada dasarnya ketidakpastian selalu mengikuti manusia, dalam kegiatannya, kehidupannya, bahkan bisa sampai pada proses komunikasinya. Kemarin masih intens berkirim pesan, menanyakan kabar, saling berbagi rasa, tapi bisa jadi, hari ini dia hilang. Pesan hanya dibaca, pergi tanpa adanya
kata ”pisah”, stop saling bertukar kabar, bahkan seperti seseorang yang enggan lagi untuk saling mengenal. Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Apakah tidak dijawabnya pesan tadi berarti tidak ada komunikasi?

Berkembangnya teknologi dan dunia digital memicu pula perkembangan komunikasi digital yang bisa memunculkan fenomena komunikasi tanpa pesan seperti “ghosting”. Ghosting sendiri mengacu pada tindakan seseorang yang tiba-tiba menghentikan komunikasi dengan seseorang. Ghosting sebenarnya tidak terbatas pada hubungan romantis saja, tetapi juga bisa terjadi dalam relasi pertemanan lingkungan kerja, bahkan di lingkungan keluarga sekalipun. Menurut kamus Cambridge, ghosting didefinisikan sebagai cara mengakhiri hubungan secara mendadak dengan menghentikan seluruh bentuk komunikasi. Fenomena ini jadi semakin umum di era digital, karena komunikasi menjadi praktis dengan tersedianya banyak platform yang memudahkan kita untuk berkomunikasi dimana saja , dan kapan saja. Ghosting menciptakan kondisi dimana ketika seseorang berada dalam situasi intrapesonal yang tidak pasti, ia akan cenderung mencari informasi untuk memahami orang lain dan memprediksi perilaku orang lain tersebut. Pesan sudah di “seen” dan tidak dibalas, lalu beberapa hari tidak ada komunikasi, yang menjadi masalah adalah tidak adanya informasi mengenai mengapa balasan itu tidak diberikan.

Ghosting, komunikasi yang menambah ketidakpastian?

Mungkin bagi para pelaku Ghosting, ini merupakan cara yang cepat dan praktis untuk mengakhiri sebuah hubungan. terutama jika seseorang enggan menghadapi konflik tau merasa tidak nyaman ketika harus berkomunikasisecara langsung. Tapi apakah “Ghosting” inisekedar komunikasi yang berhenti tanpa adanya makna? Sedangkan bagi korban, ini mungkin bisa berdampak pada
psikologisnya, bahkan pada studi “The Journal of Social Psychology:Emotional Experiences of
Ghosting” terhadap 80 partisipan yang pernah menjadi “ghoster” dan “ghostee”, orang yang menjadi korban ghosting cenderung lebih banyak meng-ekspresikan kesedihan dan hurt feelings. Seseorang yang baru saja di ghosting pasti memiliki pertanyaan di kepalanya seperti “kenapa?”, “aku salah apa ya?”, “dia masih interest sama aku nggak ya?”, “harus aku hubungi lagi nggak ya?”, “ apa dia udah suka sama yang lain?”, kondisi ini memunculkan ketidakpastian yang lebih besar sehinga individu makin terdorong untuk melakukan pencarian informasi untuk menghilangkan ketidakpastiannya dan
ketidaknyamanannya. Diam pada ”ghosting” mampu menghasilkan interpretasi. Padahal sejatinya manusia saling berkomunikasi untuk mengurangi ketidakpastian, tapi yang kita lihat di fenomena ini, dua manusia bertemu lalu berkomunikasi dan ketidakpastiannya menjadi semakin besar atau bertambah. Beda dengan pemutusan hubungan lainnya, ghosting menciptakan situasi dimana pihak yang “dighosting” tidak diberikan kesempatan untuk memahami alasan pemutusan komunikasi tersebut.

Berita Terkait :  Generasi Muda Bersatu untuk Kesehatan Bangsa

Sebelum “dighosting”, komunikasi membuat informasi semakin bertambah dan uncertainty
semakin berkurang. Tapi setelah “dighosting”, komunikasi berhenti, informasi yang didapat pun
berkurang dan uncertainty atau ketidakpastian semakin meningkat. Pada interaksi digital, kita disuguhkan dengan banyaknya tanda tambahan. Ketika seseorang baru saja mengalami fenomena “ghosting”, orang tersebut cenderung mencari-cari informasi untuk mengurangi ketidakpastiaannya,
dia akan mulai meliat-lihat aktivitas digital pasangannya, mulai dari melihat story di instagramnya, tiktoknya,status Whatsapp nya, bahkan sampai melihat-lihat followingnya, bertanya pada teman atau mencari informasi dari orang lain, tidak jarang juga ada yang mengirim pesan lagi untuk meminta penjelasan, sebagai strategi pengurangan ketidakpastian. Lalu munculah pemikiran “dia masih bisa upload instagram story, tapi kok gak bales chatku ya?”. Ironisnya, makin banyak informasi yang tersedia di media sosial, belum tentu memperkecil ketidakpastian yang kita rasakan. Media digital menjadi ruang untuk mengurangi ketidakpastian sekaligus ruang yang bisa menghasilkan ketidakpastian baru. Kita mungkin tau dia sedang berada dimana, dengan siapa, sedang melakukan apa, tapi kita tidak benar-benar tau bahwa “kenapa sebenarnya dia tidak membalas chat saya?”. Jadi banyaknya informasi yang kita peroleh tidak selalu bisa membuat kita menjadi yakin atau tahu mengenai kebenaran suatu situasi. “Seen” mungkin memang hanya sebuah fitur teknis, tetapi dalam realita interaksi sosialnya, fitur ini memiliki makna.

Berita Terkait :  "No Kings," Anti Trump

Ghosting, komunikasi tanpa kata untuk mengakhiri hubungan.

Bisa dikatakan bahwa “ghosting” menunjukkan perubahan cara manusia dalam mengakhiri atau menghindari interaksi di era digital. Kalau dulu mungkin seseorang harus berkata “saya rasa kita cukup sampai disini” tapi di era digital saat ini, seseorang hanya cukup tidak membalas untuk
mengakhiri suatu inteaksi atau hubungan. Tapi apakah orang yang berhenti membalas pesan itu
sudah pasti melakukan “ghosting”?, ya belum tentu juga, mungkin saja seseorang sedang membutuhkan ruang pibadi untuk dirinya, atau memang sedang tidak memiliki kapasitas untuk
melanjutkan komunikasi. Persoalannya bukan tentang “ghosting” itu salah, melainkan tentang apa yang sebenarnya terjadi secara komunikatif ketika seseorang memilih untuk menghilang tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan apapun dibandingkan menyampaikan persoalan dan penjelasan secara jelas.

Pada akhirnya, fenomena ini mengajarkan bahwa komunikasi tidak harus selalu hadir dalam
kata-kata, justru terkadang pesan itu bisa muncul dari sesuatu yang tidak dikatakan atau disampaikan, dalam hal ini “ghosting” juga bisa dikatakan sebagai sebuah komunikasi. Bukan lagi berpikir alasan mengapa seseorang itu tidak membalas pesan, tapi yang sebenarnya sedang dimaknai adalah apa sih yang sebenarnya sedang dikomunikasian oleh “diam” tersebut. Ghosting dapat dipersepsikan sebagai pesan bahwa seseorang tidak ingin melanjutkan sebuah interaksi, tetapi karena pesan tidak disampaikan secara eksplisit, menyebabkan penerima harus menafsirkan maknanya dan memperbesar ketidakpastiannya. Diam pada “ghosting” sebenarnya merupakan sebuah komunikasi yang memiliki pesan tersirat didalamnya.

Berita Terkait :  Politik Luar Negeri, Sekadar Penonton di "Gray Zone Warfare"

Dalam interaksi digital, ghosting tidak hanya menciptakan “diam”, tapi juga diikuti dengan ketidakpastian. Sejatinya, ketika individu menghadapi ketidakpastian dalam hubungan intrapersonal, mereka cenderung mencari informasi untuk memahami dan memprediksi perilaku orang lain. Tapi, ruang lingkup digital membuat proses ini jadi lebih kompleks. Fitur seperti “seen”, status online, upload-an story,da aktivitas-aktivitas lainnya di media sosial menyediakan banyak tanda yang bisa diamati, tapi tanda-tanda ini tidak selalu bisa memberikan kepastian. Hal ini mendorong penerima “ghosting” untuk menafsirkan berbagai jejak digital ini sebagai petunjuk tentang maksud seseorang yang tiba-tiba menghilang. Oleh karena itu, dalam hal ini “diam” berubah menjadi pesan, bukan karena ghoster mengatakan sesuatu secara eksplisit tapi karena ketidakhadiran respons ditafsirkan sebagai komunikasi oleh penerimanya. *

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!