Tulungagung, Bhirawa. – Perum Jasa Tirta I (PJT I) memastikan ketersediaan air Waduk Wonorejo, Kabupaten Tulungagung, masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan wilayah hilir hingga akhir Desember 2026. Meskipun elevasi muka air mengalami penurunan seiring puncak musim kemarau, kondisi tampungan waduk saat ini masih berada di atas target pola operasi yang telah ditetapkan.
Berdasarkan hasil pemantauan pada Senin (12/10) pukul 15.00 WIB, elevasi muka air Waduk Wonorejo tercatat sebesar 161,95 meter. Di tengah kondisi kemarau, elevasi tersebut mengalami tren penurunan sekitar 8 sentimeter per hari. Namun, angka tersebut masih berada 1,29 meter di atas target elevasi pola operasi hari ini, yaitu 160,66 meter. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan air waduk masih berada dalam batas operasional yang direncanakan.
Kepala Subdivisi Pengelolaan SDA WS Brantas 2 PJT I, Nina Meita Sari, menyampaikan bahwa penurunan elevasi muka air telah diantisipasi melalui perencanaan dan pengaturan operasi waduk secara terukur. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan air di waduk dan pemenuhan kebutuhan di wilayah hilir.
“Berdasarkan perhitungan teknis kami, pasokan air untuk memenuhi kebutuhan wilayah hilir masih aman hingga akhir Desember. Sebagai langkah mitigasi, pengoperasian waduk terus kami pantau dan sesuaikan dengan Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) dan Rencana Tata Operasi Waduk (RTOW),” jelas Nina.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah pengaturan pelepasan air melalui pola hold and release atau tahan dan lepas. Melalui strategi ini, pelepasan air diatur dengan mempertimbangkan kebutuhan utama di wilayah hilir, khususnya untuk irigasi pertanian, serta kondisi tampungan waduk. Dengan demikian, ketersediaan air dapat dikelola secara efisien untuk menjaga keberlanjutan pemenuhan kebutuhan selama musim kemarau.
Pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Wonorejo juga disesuaikan dengan kondisi ketersediaan air. Saat ini, pembangkitan difokuskan sekitar lima jam per hari, yakni pada pukul 17.00-21.00 WIB, untuk mendukung pemenuhan kebutuhan listrik pada periode beban puncak. Pengaturan tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan pemanfaatan air waduk sekaligus menjaga keandalan pasokan energi. “Langkah operasional yang adaptif ini bertujuan menjaga ketersediaan air tetap optimal selama musim kemarau, sekaligus mendukung penyaluran energi listrik dari PLTA pada periode beban puncak,” tambah Nina.
Melalui pemantauan dan pengaturan operasi yang terukur, PJT I terus menjaga ketersediaan air Waduk Wonorejo agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Pemenuhan kebutuhan air baku dan irigasi tetap menjadi prioritas, sejalan dengan upaya mendukung ketahanan air, ketahanan pangan, dan ketahanan energi bagi masyarakat.[rac,wed.hel]






