Kota Batu, Bhirawa
Curah hujan dengan intensitas tinggi terjadi di Kota Batu dalam beberapa waktu terakhir, menyebabkan peningkatan kadar air dan kejenuhan tanah pada area lereng perkebunan mawar hingga menyebabkan tanah longsor. Material longsor juga menimbun sebagian kebun mawar milik warga hingga menyebabkan tanaman mawar menjadi rusak dan gagal panen.
Kalaksa BPBD Kota Batu, Suwoko mengatakan, tanah longsor ini terjadi di Desa Gujungsari, Kecamatan Bumiaji, tepatnya di Jl Raya Brumbung RW02 Dusun Pagergunung. ”Tanah longsor ini terjadi akibat menurunnya daya ikat antar partikel tanah yang dipicu hujan dengan itensitas tinggi pada akhir pekan kemarin,” ujarnya, Selasa (19/5).
Dan kondisi ini mengakibatkan kondisi tanah di lereng perbukitan yang merupakan kawasan pertanian warga menjadi jenuh dan labil. Akibatnya, terjadi longsor pada area perkebunan mawar dengan dimensi lebar kurang lebih 7 meter, tinggi tebing sekitar 8 meter, serta panjang material longsoran mencapai 25-30 meter.
Material tanah longsor juga turut menimbun serta merusak sebagian tanaman mawar milik warga yang ada di bawahnya serta menutup sebagian area persawahan. Tak hanya itu, saluran irigasi persawahan juga ikut tertutup total. Akibatnya, aliran air tidak dapat mengalir dengan normal dan melimpas atau merembes melalui lahan pertanian milik warga di bagian bawah lereng.
”Kita mengimbau kepada warga di sekitar lokasi tanah longsor untuk tetap waspada. Karena kondisi ini berpotensi menyebabkan erosi lanjutan, kerusakan lahan pertanian, serta longsor susulan apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali berlangsung,” imbau Suwoko.
Namun BPBD Kota Batu memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam musibah ini. Mereka bersama OPD terkait kini fokus mengembalikan fungai aluran irigasi yang tertutup material longsor. Upaya juga dilakukan untuk membantu petani menormalisasi lahan perkebunan yang ikut tertutup material longsor.
Diketahui, Desa Gunungsari merupakan salah satu Desa Wisata yang diandalkan Kota Batu untuk bisa menarik kunjungan wisatawan. Desa ini mengangkat potensi lokal pertaniannya dengan membuat paket Wisata Petik Mawar.
Paket wisata ini kini lebih dikenal dengan nama lebih dikenal dengan nama Dewi Gumur yang kepanjangan dari Desa Wisata Gunungsari Makmur. Desa Gunungsari sendiri memiliki luas wilayah 1.318 hektar dimana wilayah hutannya hampir mencapai 1.000 hektar
Awal mula Dewi Gumur sendiri berawal dari keberadaan jantung desa yang berupa lahan pertanian yang dikelilingi pemukiman penduduk. Kemudian warga mengembangkan potensi budidaya bunga potong mawar dengan lahan budidaya yang cukup luas.
Budidaya ini didukung Kelompok Tani Bunga Potong Mawar untuk memaksimalkan pasca panen bunga mawar warga. Akhirnya, dengan dengan pembiayaan berasal dari swadaya masyarakat khususnya anggota kelompok tani akhirnya terbentuklah Dewi Gumur.
Kini Desa Gunungsari memiliki potensi budidaya bunga potong mawar dengan cakupan luas lahan mencapai lebih dari 60 hektar. Dan Desa ini juga merupakan desa pemasok bunga mawar potong terbesar di seluruh Indonesia. Ada beberapa jenis mawar potong yang ditanam petani di desa ini. Di antaranya, mawar Pergiwo Pergiwati, Holland, Cerry Brandy, Havalan, Luciana, Marbel, Red Holland, serta beberapa varietas lain yang kini sedang dikembangkan. [nas.fen]


