29.5 C
Sidoarjo
Monday, May 18, 2026
spot_img

Impor Pupuk Dengan US$

Rupiah semakin tidak bernilai. Senin sore seharga Rp 17.677,- per-US$. Seluruh pejabat tinggi bagai kehabisan kata-kata membela diri, bahwa “perekonomian Indonesia baik-baik saja.” Namun tetap saja terdapat anekdot, denga menyatakan, “rakyat di desa tidak butuh dolar.” Walau terkesan konyol (lucu) namun tergolong pembodohan publik. Karena pasti, seluruh rakyat Indonesia, di kota, dan di desa, ter-imbas pelemahan rupiah terhadap dolar. Rakyat di desa butuh pupuk, khususnya Sulfur, dan NPK yang bahannya masih harus di-impor, dari Timur Tengah dan Rusia.

Pemerintah beli bahan pupuk dengan kurs dolar Amerika (US$). Dengan mata uang lain, Rubel, Riyal, atau Dinar, tetap di-kurs setarakan dengan US$. Bukan dengan rupiah. Harga bahan pupuk NPK, niscaya menyesuaikan dengan kurs dolar Amerika (US$). Seluruh petani yang menanam tanaman pangan strategis (9 komoditas) pasti menggunakan pupuk bersubsidi NPK (Nitrogen, Phosfor, dan Kalium). Pada tahun 2026, impor bahan NPK mencapai 4,47 juta ton.

Begitu pula bahan pupuk Sulfur (belerang dalam bentuk ion Sulfat) untuk menghasilkan pupuk ZA. Masih sangat bergantung pada impor. Sekitar 75% hingga 80% kebutuhan sulfur nasional harus impor. Pada tahun 2025 nilai impor sulfur saja mencapai US$ 1,60 milyar. Ssaat ini sulfur semakin diperlukan untuk industri hilirisasi nikel. Orang desa sangat bergantung pada bahan pupuk NPK, ZA, yang di-impor dengan uang dolar Amerika!

Berita Terkait :  Kapolres Madiun Beri Penghargaan Anggota Polri dan Pemuda

Serta ingat, seluruh orang desa makan tahu dan tempe. Impor kedelai, juga dibeli dengan uang dolar Amerika. Kebutuhan konsumsi kedelai dalam negeri sebanyak hampir 3 juta ton. Sedangkan hasil kedelai domestik hanya sekitar 300 ribu ton. Sehingga harus impor 2,7 juta ton kedelai setiap tahun. Indonesia menjadi importir kedelai terbesar kedua sedunia setelah China.

Tahu dan tempe, telah menjadi menu manakan utama seluruh keluarga Indonesia. Tahu dan tempe, bagai wajib tersedia di setiap warung makan. Tak terkecuali di restoran dan hotel berbintang lima. Maka tahu dan tempe tergologn barang mewah, karena harus di-impor dari AS, bersama-sama gandum (bahan pembuat roti). Nilai impor kedelai tahun 2025 mencapai sekitar US$ 1,45 milyar.

Bahkan pekan ini berpotensi melejit ke Rp 18 ribu. Seluruh pejabat (Menteri) bidang Perekonomian, masih selalu menyatakan, “fundamendal ekonomi Indonesia, masih kuat.” Walau Rupiah terperosok semakin rendah sepanjang sejarah nilai mata uang Indonesia. Selama sebulan lebih, sejak awal April 2026, Rupiah sulit bangkit menembus Rp 17 ribu per-US$.

Gubernur Bank Indonesia menyatakan sudah “habis-habisan” mendongkrak Rupiah. Melalui intervensi besar-besaran domestik. Juga pasar internasional (Hongkok, Sinagpura, London, dan New York). Istilah Gubernur BI, bukan lagi business as usual (bisnis biasa), tapi sudah all out. Padahal cadangan devisa sudah menipis, US$ 146,2 milyar, per-akhir April 2026. Turun US$ 2-3 milyar dibanding sebulan bulan Maret. BI juga membatasi pembelian dolar AS per-bulan per-orang sebesar US$ 50 ribu. Mungkin perlu diturunkan lagi.

Berita Terkait :  Tangani Sampah, Bupati Pasuruan Gandeng Swasta Lewat Teknologi RDF

Kemerosotan nilai rupiah, tak bisa dianggap sepele. Karena terjadi secara terus menerus sejak Oktober 2024. Kini muncul pula penilaian oleh Fitch Ratings, memangkas outlook Indonesia. Terutama pembiayaan program populis tetapi banyak dikritisi mendalam oleh masyarakat luas, seperti MBG (Makan Bergizi Gratis). Diperlukan upaya lain lebih sistemik mengentas rupiah, termasuk memberlakukan nilai tukar tetap (fix exchange rate).

Indonesia pernah memiliki PP Nomor 43 Tahun 1959 Tentang Penetapan Harga Mata Uang Rupiah. Isinya, nilai US$ sebesar Rp 45,-.

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!