Oleh :
M Chairul Arifin
Penulis Senior Alumni Unair
Merebaknya virus Hanta di kapal pesiar MV Hondius menghadirkan kembali ingatan lama saya waktu anak dan remaja kecl pada era 1960-an, ketika masa malaise dan krisis pangan melanda negeri ini
Saat itu masyarakat sangat akrab dengn nazi singkong rebus tumluk -dan nasi bulgur sebagaimana makanan sehari-hari. Nasi bulgur dikenal sebagai kuahi bubur gandum yang pada awalnya lebih banyak digunakan sebagai pakan ternak.
Pemerintahan jaman itu bangkit dengan Soekarno yang kala itu menggencarkan semangat “bulgurisasi* sekaligus berupaya mengimpor beras dari Burma
Namun persoalan kemudian muncul. Beras impor tersebut diduga ikut membawa tikus beserta kotoran, air liur, dan berbagai vektor penyakit yang akhirnya memicu merebaknya wabah pes di wilayah Malang dan Surabaya persis tempat berlabuhnya kapal pembawa beras Situasi ketika itu sangat mencekam.
Dalam wawancara autobiografi almarhum Dr. Koeswardono seorang pejabat senior zoonosis dengan saya tergambar bagaimana dahsyatnya wabah tersebut. Ia menuturkan bahwa ketakutan masyarakat kala itu begitu besar hingga banyak warga meninggalkan tempat tinggalnya demi menghindari penularan penyakit.
Wabah pes bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga menghadirkan trauma sosial yang mendalam bagi bangsa Indonesia Saat ini Kini, puluhan tahun kemudian, (2026) dunia kembali dihadapkan pada ancaman zoonosis melalui merebaknya virus Hanta. Bedanya, jika dahulu penyebabnya adalah bakteri pes, maka sekarang berasal dari virus. Namun ada kesamaan yang menarik: keduanya muncul pada ruang yang relatif terbatas dan terkendali. Dahulu melalui rantai distribusi pangan, kini pada kapal pesiar modern dengan standar sanitasi dan protokol kesehatan yang sangat ketat.
Pertanyaannya, mengapa wabah justru dapat muncul di lingkungan yang dianggap aman dan terkontrol? Apakah sedang terjadi perubahan pola patogenesis zoonosis akibat tekanan ekologis yang semakin berat?
Banyak ahli menyebut deforestasi sebagai pintu masuk zoonosis. Pembukaan dan pemberian konsesi hutan, perubahan bentang alam, dan terganggunya habitat satwa liar menciptakan peluang lebih besar bagi patogen hewan melompat kepada inang manusia (spillover).
Dalam kondisi tertentu, perubahan iklim dan cekaman ekologis bahkan dapat memengaruhi pola penyebaran dan perilaku patogen itu sendiri
Gagasan Satu Bumi
Karena itu, gagasan René Dubos dalam Only One Earth terasa kembali relevan: Manusia sejatinya hidup dalam satu sistem bumi yang saling terkait.
Ketika keseimbangan ekologis terganggu, maka ancaman penyakit, krisis pangan, hingga perubahan lingkungan akan saling berkelindan dan kembali kepada manusia sendiri.
Pada akhirnya, virus Hanta maupun wabah pes bukan sekadar peristiwa kesehatan biasa. Ia adalah alarm ekologis bahwa manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari alamnya. Ketika hutan rusak, habitat satwa terganggu, dan rantai ekologi terputus, maka zoonosis dapat menjadi wajah lain dari krisis peradaban modern itu sendiri.
One Health
Dari pelajaran tentang One Health kita banyak memperoleh manfaat nya memang kesehatan manusia harus terpadu dengan kesehatan hewan dan lingkungan,
Wabah penyakit tidak lagi hanya menjadi urusan rumah sakit atau tenaga medis. Ketika seekor hewan sakit, manusia bisa ikut terancam. Ketika lingkungan rusak, risiko munculnya penyakit baru pun meningkat. Munculnya rabies, flu burung, antraks, leptospirosis, hingga Hantavirus menunjukkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung erat. Di tengah meningkatnya mobilitas manusia dan perubahan lingkungan yang semakin cepat, masyarakat perlu memahami bahwa menjaga kesehatan bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga menjaga hewan dan lingkungan sekitar. Inilah pentingnya pendekatan One Health sebagai upaya bersama untuk mencegah ancaman penyakit sejak dini.
One Health adalah pendekatan terpadu yang mengakui bahwa kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Pendekatan ini diterapkan melalui kerja sama lintas sektor, seperti tenaga medis, dokter hewan, ahli lingkungan, pemerintah, akademisi, media massa, dan masyarakat dalam melakukan surveilans penyakit, edukasi, penelitian, vaksinasi, pengendalian wabah, hingga perlindungan lingkungan. Melalui pendekatan ini, faktor risiko penyakit dapat dikenali lebih awal sehingga penyebaran penyakit zoonosis dan masalah kesehatan lainnya dapat dicegah dengan lebih efektif.
Di era globalisasi dan mobilitas manusia yang semakin tinggi, ancaman penyakit menular tidak lagi mengenal batas wilayah maupun spesies. Penyakit yang berasal dari hewan dapat dengan cepat menular kepada manusia, sementara kerusakan lingkungan dapat memperbesar risiko munculnya wabah baru
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena itu, masyarakat perlu memahami pentingnya pendekatan One Health sebagai langkah bersama dalam menjaga kesehatan dan mencegah berbagai ancaman penyakit.
Pendekatan lama yang memisahkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sering kali kurang efektif dalam menghadapi persoalan kesehatan yang kompleks. Selama bertahun-tahun, penanganan penyakit dilakukan secara terpisah antar sektor sehingga koordinasi menjadi lemah dan respons terhadap wabah sering terlambat. Padahal, banyak penyakit menular berasal dari interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan. Penyakit seperti rabies, flu burung, antraks, leptospirosis, hingga Hantavirus menjadi bukti bahwa kesehatan semua makhluk hidup saling berkaitan.
Pendekatan One Health hadir sebagai solusi yang lebih menyeluruh dan terpadu. Pendekatan ini mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling bergantung dan saling memengaruhi. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian penyakit harus dilakukan melalui kerja sama lintas sektor dan lintas disiplin ilmu. Dokter, dokter hewan, ahli lingkungan, pemerintah, akademisi, media massa, hingga masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan bersama.
Media massa memiliki peran strategis dalam menyebarkan pemahaman tentang One Health kepada masyarakat luas. Informasi kesehatan yang disampaikan melalui televisi, radio, surat kabar, portal berita, media sosial, maupun platform digital lainnya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara bersamaan. Media yang menyajikan informasi secara cepat, sederhana, dan mudah dipahami dapat membantu masyarakat mengambil langkah pencegahan yang tepat sebelum penyakit menyebar lebih luas.
Dalam edukasi masyarakat, Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) menjadi salah satu fondasi utama untuk meningkatkan pemahaman tentang Penyakit Hewan Menular Strategis dan Zoonosis (PHMSZ). KIE berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan informasi yang akurat dan terpercaya mengenai penyebab penyakit, cara penularan, gejala, pencegahan, hingga langkah pengendalian penyakit. Informasi yang benar sangat penting agar masyarakat tidak mudah percaya pada hoaks atau informasi yang menyesatkan.
Tujuan utama KIE adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penyakit menular pada hewan dan zoonosis. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat akan lebih waspada dalam menjaga kesehatan diri, keluarga, hewan peliharaan, dan lingkungan sekitar.
Edukasi yang baik juga dapat mendorong perubahan perilaku, misalnya membiasakan mencuci tangan setelah kontak dengan hewan, menjaga kebersihan kandang, melakukan vaksinasi hewan peliharaan, serta menghindari kontak langsung dengan hewan liar yang berpotensi membawa penyakit.
Selain masyarakat umum, KIE juga penting untuk memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan, seperti peternak, tenaga kesehatan hewan, tenaga medis, aparat pemerintah, dan tokoh masyarakat. Mereka memerlukan pemahaman yang baik tentang cara mengenali gejala penyakit, melaporkan kasus, dan melakukan tindakan pencegahan secara cepat dan tepat. Dengan kapasitas yang kuat, pengendalian wabah dapat dilakukan lebih efektif sehingga risiko penyebaran penyakit dapat ditekan.
KIE juga mendorong koordinasi dan kerja sama antar sektor. Pencegahan penyakit zoonosis tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi profesi, media massa, sektor swasta, dan masyarakat harus bekerja bersama untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih tangguh.
Kolaborasi ini menjadi inti dari pendekatan One Health yang menekankan pentingnya sinergi dalam menjaga kesehatan bersama.
Ketika terjadi wabah penyakit, penyebaran informasi yang cepat dan tepat menjadi sangat penting.
Dalam situasi darurat, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan untuk melindungi diri dan lingkungan sekitar. Di sinilah peran media massa dan KIE menjadi sangat vital. Informasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami dapat membantu mengurangi kepanikan sekaligus meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap langkah pencegahan.
————- *** —————-


