28.4 C
Sidoarjo
Sunday, May 17, 2026
spot_img

Langkah Kaki Damai di Kota Pahlawan, Perjalanan 57 Bhikkhu Menuju Borobudur

Surabaya, Bhirawa.
Mentari Surabaya belum begitu terik, namun aspal di sudah mulai menghangat, ditengah deru mesin kendaraan kota metropolitan, tampak sekelompok pria berkepala pelontos dengan jubah kuning jingga khas (kasaya) berjalan beriringan, langkah kaki mereka konstan, tenang, dan berirama.

Mereka adalah 57 Bhikkhu peserta Indonesia Walk for Peace (IWPF) 2026, berasal dari empat negara ASEAN Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia para pemuka agama Buddha ini sedang melakukan laku spiritual berjalan suci dari Bali menuju Candi Borobudur dan mereka membawa pesan toleransi, kedamaian universal dan harmoni sosial dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak 2026.

Rute yang biasanya dipadati kendaraan roda dua dan roda empat itu berhasil mereka taklukkan dengan jalan kaki, sebuah ketahanan fisik yang lahir dari kedisiplinan batin yang kuat. Jumat, (15/5).

Sepanjang perjalanan, para bhikkhu ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, anak-anak melambaikan tangan di tepi jalan, pedagang kecil menawarkan minuman, hingga warga lintas agama turut memberikan dukungan dan doa. Sesampainya di Lobby Balai Kota Surabaya, rombongan disambut hangat Pemerintah Kota Surabaya dan masyarakat, Senyum warga, sapaan ramah, hingga antusiasme masyarakat yang mengabadikan momen menjadi pemandangan yang mengiringi kedatangan para bhikkhu.

Mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Staf Ahli Wali Kota Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Dedik Irianto, mengatakan rasa hormat atas perjalanan panjang yang ditempuh para bhikkhu demi menyebarkan pesan perdamaian.

Berita Terkait :  Dari Rumah BUMN ke Pasar Internasional, SIG Dukung INACRAFT Majukan UMKM

”Kehadiran saudara-saudara sekalian menjadi sebuah kehormatan sekaligus membawa pesan yang sangat mulia bagi masyarakat, yakni pesan tentang perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan,” ujarnya.

Dedik menjelaskan, langkah para bhikkhu bukan cuman perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang mengajarkan kesederhanaan, disiplin, ketekunan, dan cinta kasih terhadap sesama manusia, nilai-nilai itulah yang menurutnya penting dirawat di tengah keberagaman bangsa Indonesia.

”Surabaya dibangun di atas fondasi gotong royong dan kebhinekaan, kehadiran para Bhikkhu menjadi pengingat sekaligus inspirasi, terutama bagi generasi muda, untuk terus merawat harmoni sosial di tengah perbedaan,” ucapnya.

Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace Jawa Timur, Irwan Pontoh, mengungkapkan kekagumannya dengan semangat para bhikkhu yang mampu menempuh rute panjang berjalan kaki dengan penuh ketenangan.

”Kami sendiri cukup terkejut sekaligus kagum, rute biasanya ditempuh menggunakan kendaraan itu berhasil dilalui para bhikkhu dengan berjalan kaki secara lancar dan penuh semangat,” ungkapnya.

Irwan menyampaikan, rombongan telah memulai perjalanan sejak tiba di Denpasar pada 7 Mei 2026, mereka akan melintasi 10 kabupaten/kota di Jawa Timur selama 11 hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan akhirnya tiba di Candi Borobudur untuk mengikuti rangkaian Hari Raya Waisak Nasional 2026.

”Di balik langkah panjang sejauh 40 sampai 50 kilometer per hari, tersimpan perjuangan yang tidak ringan, rasa lelah dan sakit jadi bagian dari perjalanan, dukungan masyarakat Indonesia menjadi energi tersendiri bagi para bhikkhu untuk terus berjalan,” jelas Irawan

Berita Terkait :  62 Pejabat Tinggi Pratama Kabupaten Mojokerto Ikuti Retreat di Trawas

Ketua rombongan, Bhante Phanarin Sumetho dari Thailand, menceritakan Walk for Peace bertujuan membangun perdamaian antarumat beragama dan antarnegara di kawasan ASEAN. ”Berharap melalui kegiatan ini dapat terjalin persatuan, kasih sayang, dan persaudaraan sehingga dunia menjadi tempat yang lebih damai dan nyaman untuk ditinggali,” katanya.

Bhante Phanarin menuturkan, para bhikkhu tidak berjalan demi keuntungan duniawi, mereka melangkah untuk menebarkan nilai kebajikan, kepedulian, dan persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat modern yang semakin sibuk dan individualistis.

”Saya terharu dengan sambutan masyarakat Indonesia yang dinilai begitu hangat dan penuh toleransi, perjalanan memperlihatkan bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk saling membantu dan menghormati,” tandasnya

Bagi para bhikkhu, perjalanan menuju Borobudur bukan hanya tentang mencapai tujuan akhir, setiap langkahnya, mereka ingin mengingatkan bahwa kehidupan sejatinya sederhana, dan yang akan tertinggal dari manusia hanyalah kebaikan yang pernah diberikan kepada sesama.

Di tengah panas matahari dan panjangnya perjalanan, langkah-langkah tenang para bhikkhu itu seakan membawa pesan sederhana bagi dunia, perdamaian selalu dimulai dari hati yang penuh kasih. [ren.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!