27.5 C
Sidoarjo
Tuesday, July 21, 2026
spot_img

Wakili Indonesia ke Ajang Internasional, Ghifara Denok Butuh Dukungan Pemkot Surabaya

DPRD Surabaya, Bhirawa. – Kebanggaan sekaligus harapan besar menyelimuti keluarga Ghifara Denok Prameswari setelah pelajar asal Surabaya itu dinobatkan sebagai Juara Puteri Kebaya Indonesia 2026 pada ajang pemilihan tingkat nasional yang digelar di Sleman, Yogyakarta, Juli 2026.

Di balik keberhasilan tersebut, orang tua Ghifara, Lilik Anani, mengungkapkan perjalanan panjang yang telah ditempuh putrinya sejak usia dini hingga berhasil meraih prestasi di tingkat nasional.

Saat ditemui di salah satu ruang Gedung DPRD Surabaya bersama Anggota Komisi C DPRD Surabaya sekaligus Ketua Harian Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Surabaya, Siti Mariyam, Lilik berharap Pemerintah Kota Surabaya dan Dinas Pendidikan dapat memberikan perhatian kepada putrinya yang dalam waktu dekat akan mewakili Indonesia pada ajang internasional di Malaysia.

Lilik, yang berprofesi sebagai guru TK di Dupak Timur, mengatakan dirinya dan sang suami yang merupakan guru SD selama ini membiayai sendiri seluruh proses pembinaan dan pengembangan bakat putrinya.

“Kami hanya seorang guru. Harapan kami kepada Pemerintah Kota Surabaya dan Dinas Pendidikan adalah adanya perhatian, baik berupa dukungan maupun bantuan finansial. Selama satu tahun menjabat sebagai Puteri Kebaya Indonesia, putri kami tentu akan menerima banyak undangan dari berbagai daerah yang membutuhkan biaya transportasi dan kebutuhan lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, dukungan pemerintah sangat penting agar anak-anak berprestasi dari keluarga sederhana tetap dapat mengembangkan potensinya tanpa terkendala biaya.

Berita Terkait :  Wali Kota Eri Cahyadi Sidak 800 Tempat Usaha Berantas Jukir Liar di Kota Surabaya

Lilik menuturkan, perjalanan Ghifara menuju prestasi nasional bukanlah sesuatu yang instan. Sejak masih duduk di bangku playgroup, putrinya telah dikenalkan dengan berbagai kegiatan pengembangan bakat.

“Karena dia anak satu-satunya, sejak kecil kami masukkan ke sanggar tari di Cak Durasim sampai kelas dua SD. Setelah itu dia ingin mencoba bidang lain, sehingga kami mengikutkan les piano, keyboard, vokal di Purwacaraka selama sekitar empat tahun. Selanjutnya dia memilih memperdalam modeling, public speaking, dan bahasa Inggris,” jelasnya.

Ia mengatakan proses panjang tersebut dijalani dengan penuh kesabaran hingga akhirnya membuahkan hasil sebagai Puteri Kebaya Indonesia 2026.

Lilik juga berharap keberhasilan putrinya dapat menjadi perhatian pemerintah terhadap anak-anak berbakat yang berasal dari kawasan pinggiran Kota Surabaya.

“Kami tinggal di kawasan Asemrowo, dekat rel kereta api. Mudah-mudahan pemerintah bisa lebih memperhatikan anak-anak yang memiliki potensi seperti putri kami agar mendapatkan kesempatan mengembangkan prestasi dan pendidikan yang lebih baik,” katanya.

Sementara itu, Ghifara Denok Prameswari mengaku masih tidak menyangka berhasil membawa nama Surabaya dan Jawa Timur menjadi juara nasional.

“Pastinya sempat deg-degan, tetapi alhamdulillah bisa mewakili Surabaya dan Jawa Timur di tingkat nasional, lalu berhasil menjadi juara pertama,” ungkapnya

Untuk menghadapi kompetisi tingkat internasional di Malaysia, Ghifara mengaku telah menjalani berbagai persiapan selama sekitar enam bulan, terutama dengan mengikuti pelatihan modeling dan public speaking secara intensif.

Berita Terkait :  Pastikan Kondisi Aman, Karutan Kelas IIB Situbondo Intens Gelar Sidak

Menurutnya, penilaian dalam ajang Puteri Kebaya Indonesia tidak hanya mengutamakan penampilan fisik, tetapi juga wawasan, karakter, serta kemampuan peserta.

“Yang dinilai bukan cuma cantik. Pengetahuan tentang kebaya, attitude, cara memperlakukan orang lain, sampai bakat juga menjadi penilaian utama,” ujar pelajar kelas VIII SMP Negeri 3 Surabaya.

Pada kompetisi nasional tersebut, Ghifara menampilkan bakat seni tradisional berupa bermain gamelan dan menyinden yang menjadi salah satu nilai lebih hingga berhasil meraih gelar juara.

Di tengah kesibukan sebagai pelajar, Ghifara mengaku telah terbiasa mengatur waktu sejak kecil karena mengikuti berbagai kegiatan nonakademik, mulai dari tari, musik, vokal, hingga kini modeling dan public speaking.

Selain aktif mengikuti berbagai pelatihan, ia juga terlibat dalam organisasi sekolah sehingga harus mampu menentukan prioritas antara kegiatan belajar dan pengembangan diri.

“Kalau membagi waktu sebenarnya tinggal pintar menentukan prioritas. Orang tua juga selalu membantu mempertimbangkan mana kegiatan yang lebih penting. Ayah selalu bilang, kalau ingin menuju kesuksesan, kadang kita harus rela mengorbankan satu hal untuk mendapatkan yang lebih besar,” tuturnya.

Ghifara mengungkapkan motivasi terbesarnya berasal dari kedua orang tuanya yang selama ini telah memberikan dukungan penuh, baik tenaga, pikiran, maupun biaya demi mewujudkan cita-citanya.

“Orang tua sudah berjuang luar biasa untuk saya. Itu yang membuat saya ingin terus memberikan yang terbaik. Impian saya adalah menjadi puteri di tingkat internasional,” pungkasnya. [dre.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!