31.7 C
Sidoarjo
Thursday, May 21, 2026
spot_img

Tingkatkan Kualitas Hidup Pasien, National Hospital Surabaya Launching Hip and Knee Center

Consultant Orthopaedic Hip and Knee Surgeon National Hospital, dr. Glen Purnomo, Sp.OT saat menjelaskan operasi penggantian sendi lutut (knee replacement) di di Auditorium Ang Kang Hoo Lantai 1, Surabaya, Kamis (21/5). Achmad Tauriq/bhirawa

Surabaya, Bhirawa
National Hospital Surabaya kembali menorehkan babak baru dalam layanan ortopedi nasional dengan meresmikan Hip and Knee Center sekaligus meluncurkan program unggulan Rapid Recovery Knee Surgery, Kamis (21/5).

Bertempat di Auditorium Ang Kang Hoo Lantai 1, peluncuran ini dihadiri oleh jajaran mitra asuransi, rekanan korporasi, awak media, serta Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) Cabang Jawa Timur periode 2025–2028, dr. Larona Ibradiator.

CEO National Hospital, Ang Hoey Tiong, mengungkapkan kehadiran Center of Excellence ini merupakan wujud komitmen rumah sakit dalam mendongkrak kualitas hidup pasien melalui teknologi medis mutakhir.

“Hari ini bukan hanya tentang peresmian layanan baru, melalui National Hip and Knee, kami menggabungkan teknik bedah ortopedi terkini, teknik minimal invasive (invasif minimal), protokol ERAS (Enhanced Recovery After Surgery), serta teknologi medis modern,” terangnya.

Ang Hoey Tiong berharap dengan teknik bedah ortopedi terkini mampu memberikan kenyamanan ekstra bagi pasien demi hasil yang optimal.

“Kami berharap kehadiran pusat layanan ini menjadi lompatan besar bagi pelayanan ortopedi di Indonesia, khususnya di Surabaya dan Jawa Timur,” jelasnya.

Berita Terkait :  Kodim 0815/Mojokerto Gelar Ketahanan Mars untuk Prajurit

Dengan melalui Rapid Recovery Knee Surgery bisa mempercepat pemulihan pasca operasi, bahkan bisa juga pasien langsung pulang.
Berbeda dengan yang terjadi selama ini, operasi penggantian sendi lutut (knee replacement) kerap dihindari karena proses pemulihannya yang lama.
Pasien biasanya harus mendekam di ruang rawat inap selama tiga hingga lima hari, bahkan sampai satu minggu ditambah lagi fisioterapi rutin.

“Sekarang, pasien hanya perlu rawat inap semalam setelah operasi. Bahkan, dalam beberapa kasus, pasien bisa langsung pulang di hari yang sama,” terang Consultant Orthopaedic Hip and Knee Surgeon National Hospital, dr. Glen Purnomo, Sp.OT.

dr. Glen menegaskan, keajaiban medis ini bisa terwujud berkat kolaborasi tim lintas disiplin yang solid, bukan hanya mengandalkan keahlian dokter bedah (surgeon factor).

Bahkan National Hospital telah membentuk tim khusus yang melibatkan perawat khusus, tim ahli, fisioterapis, hingga dokter spesialis anestesi.

Pasien, sebelum naik ke meja operasi kondisinya harus dioptimalisasi terlebih dahulu dan saat operasi berlangsung, dokter menerapkan teknik minimal invasive dengan pendekatan personalized alignment dan cruciate retaining.

Pascaoperasi, manajemen nyeri dikendalikan melalui multimodal analgesia bersama dokter anestesi untuk menekan rasa sakit seminimal mungkin.

“Karena nyerinya bisa ditekan, pasien tidak perlu terpasang kateter dan bisa langsung berdiri serta berjalan dalam hitungan jam setelah operasi. Mayoritas pasien bahkan tidak membutuhkan alat bantu jalan karena keseimbangan mereka sudah kembali,” paparnya.

Berita Terkait :  Generasi Muda Kota Probolinggo Didorong Jadi Duta Moderasi dan Toleransi

Selain itu, sakit sendi lutut pemicu utamanya adalah pergeseran gaya hidup modern yang kurang bergerak (sedentary lifestyle) sehingga terjadi pengapuran sendi (osteoarthritis).

“Banyak yang berat badannya berlebih dan kurang aktif bergerak, misalnya hanya menonton TV dan tidur. Ini menyebabkan otot melemah sehingga beban bertumpu berat pada sendi lutut,” tuturnya.

dr. Glen mengatakan bahwa operasi merupakan opsi terakhir dan penanganan pengapuran sendi selalu dimulai dari tahap non-operatif, seperti penurunan berat badan, latihan fisik dan fisioterapi.

“Pada kasus yang berat di mana kualitas hidup pasien sudah sangat menurun, opsi terbaiknya adalah knee replacement, baik itu penggantian sebagian (partial) maupun total (total knee replacement),” ujarnya.

Terkait faktor usia, dr. Glen menegaskan bahwa usia bukanlah penentu utama seorang pasien bisa mengikuti program pemulihan kilat ini. Penentu utamanya adalah jumlah penyakit penyerta (komorbid).

“Makin banyak komorbidnya, kita harus makin selektif. Kuncinya adalah periode optimalisasi sebelum operasi. Jika kondisi komorbidnya berhasil kita kendalikan hingga optimal, maka pasien tersebut tetap menjadi kandidat yang aman untuk menjalani rapid recovery ini,” pungkasnya. [riq.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!