

Seniman Cak Kartolo dan Ning Kastini saat hadir dan menyaksikan pementasan Wayang Orang dengan lakon “Gatutkaca Kolo Joyo” di Gedung Balai Budaya Surabaya.
Surabaya, Bhirawa
Semangat pelestarian seni dan budaya tradisional terus bergema di Kota Surabaya melalui program “Ruang Kota Panggung Seni” yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar). Ratusan pasang mata dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari penikmat seni senior hingga generasi muda, memadati Gedung Balai Budaya Surabaya untuk menyaksikan langsung pementasan Wayang Orang dengan lakon “Gatutkaca Kolo Joyo”.
Pertunjukan non-komersial yang disajikan secara gratis oleh grup kesenian Suryo Budoyo ini menyedot antusiasme tinggi. Tingginya animo penonton sudah terlihat sejak area registrasi dan pintu masuk gedung dibuka pada pukul 18.00 WIB, sebelum tirai panggung utama resmi dibuka pada pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Pementasan ini menjadi bukti nyata bahwa apresiasi masyarakat Surabaya terhadap seni tradisi Wayang Orang tetap membara di tengah gempuran hiburan modern.
Atmosfer pementasan malam itu terasa semakin berkesan dan sakral dengan kehadiran tokoh legendaris ludruk Jawa Timur, Cak Kartolo beserta Ning Tini, yang duduk di deretan bangku penonton. Kehadiran dua ikon budaya tersebut tidak hanya menyedot perhatian khalayak, tetapi juga memberikan suntikan moral dan dorongan semangat yang besar bagi para pemeran Wayang Orang yang tengah beraksi di atas panggung.
Di atas panggung megah Balai Budaya, para pemain Suryo Budoyo tampil penuh totalitas membawakan lakon “Gatutkaca Kolo Joyo”. Gerak tari yang gagah, balutan busana adat wayang yang megah, serta dialog ketoprak-wayang yang kuat berhasil memukau para pengunjung hingga akhir acara.
Sunjoyo, salah satu penggiat seni sekaligus pemeran Wayang Orang dalam pementasan tersebut, mengungkapkan bahwa keberadaan seni Wayang Orang dan Ketoprak saat ini berada pada kondisi yang cukup langka di Surabaya.
Situasi ini dinilainya cukup kontras jika dibandingkan dengan seni ludruk yang masih memiliki iklim pertunjukan serta jaringan komunitas yang lebih luas.
Menurut Sunjoyo, bentuk dukungan nyata terhadap keberlangsungan seniman tradisi tidak cukup sekadar diwujudkan melalui ruang diskusi formal maupun pidato apresiasi belaka. Ia menegaskan bahwa ruang hidup utama bagi para seniman adalah intensitas tampil di panggung pertunjukan.
“Tempat ‘oksigen’ seniman itu ada di panggung. Seniman bukan hanya butuh untuk diapresiasi lewat kata-kata, tapi butuh panggung tempat bernapas. Bukan sekadar sarasehan, diskusi, atau pidato melestarikan budaya, tetapi harus dilaksanakan secara nyata melalui pertunjukan,” ujar Sunjoyo dengan penuh penekanan usai pementasan.
Ia menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kota Surabaya dan pihak penyelenggara agar kegiatan seperti Ruang Kota Panggung Seni tidak berhenti sebagai agenda incidental. Sunjoyo mengusulkan agar panggung seni tradisi dapat difasilitasi secara konsisten setidaknya dua hingga tiga kali dalam sebulan.
Di samping frekuensi pementasan, Sunjoyo turut menyoroti pentingnya optimalisasi publikasi dan sosialisasi program. Menurut pengamatannya, potensi minat warga Kota Surabaya untuk menonton pementasan budaya sangat tinggi, namun sering kali terkendala oleh minimnya jangkauan informasi.
“Sosialisasinya perlu diperluas lagi, khususnya memanfaatkan media sosial serta kanal-kanal media digital yang aktif. Warga Surabaya dan para penikmat seni sebenarnya masih sangat berkenan, antusias, dan rindu akan pertunjukan seni tradisi,” tambahnya.
Melalui komitmen berkelanjutan dari pemerintah kota dan penguatan strategi publikasi media, pementasan Wayang Orang diharapkan dapat terus menjaga denyut nadinya di Kota Surabaya, sekaligus menjadi sarana edukasi dan regenerasi budaya bagi generasi muda di masa mendatang. mg06.wwn
Penulis: Arvin


