KAB. MALANG, Bhirawa – Penerapan teknologi modern mulai mengubah lanskap atau bentangan lahan industri perkebunan tebu di Indonesia. Para petani tebu kini beralih meninggalkan metode tebang manual, dan mulai memanfaatkan teknologi mesin pemanen tebu kombinasi (combine harvester) untuk menggenjot efisiensi produksi dan mempercepat pengiriman bahan baku ke pabrik gula. Langkah mekanisasi ini diambil sebagai solusi atas lambatnya proses tebang manual yang selama ini kerap terkendala cuaca dan kelangkaan tenaga kerja saat musim panen raya tiba.
Menurut, salah satu petani tebu asal Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang Muhammad Sanusi, Minggu (19/7), kepada Bhirawa, bahwa mesin pemanen combine harvester sebagai solusi percepat dalam menebang tebu, karena bekerja secara simultan dengan memotong pangkal tebu, memisahkan daun dari batang, hingga mencacah tebu menjadi bagian-bagian kecil (billets) dalam satu waktu. Proses yang terintegrasi tersebut membuat durasi kerja di ladang menjadi jauh lebih efisien.
“Jika menebang tebu dengan tenaga manual, proses dari menebang itu harus membersihkan daun, sampai mengikat, dan itu butuh waktu lama. Namun, dengan menggunakan teknologi mesin, tebu langsung dipotong, dicacah, dan dimuat ke bak truk dengan cepat,” ujarnya.
Dikatakan, kecepatan proses dalam menebang tebu dengan menggunakan teknologi mesin langsung berdampak pada aspek finansial petani. Sehingga hal itu juga berdampak pada kualitas kadar gula atau rendemen tebu sangat bergantung pada kecepatan giling setelah tebu ditebang. Karena semakin cepat tebu sampai di pabrik gula, semakin tinggi rendemen yang didapat, yang otomatis meningkatkan harga jual tebu milik petani. Meski menawarkan efisiensi tinggi, penerapan mekanisasi ini bukan tanpa tantangan. Karena pengoperasian Sugarcane Harvester menuntut standarisasi lahan yang ketat.
Pihak pabrik gula dan penyedia jasa mesin, kata Sanusi, kini gencar mengedukasi petani agar menata lahan mereka secara searah dan meratakan permukaan tanah. Hal ini penting agar roda mesin tidak merusak keprasan atau tunas baru yang akan menjadi tanaman tebu pada musim berikutnya.
“Untuk itu, dirinya berharap agar ada sinergi penataan lahan dan adopsi teknologi. Sehingga modernisasi pertanian diharapkan tidak hanya menguntungkan petani dari segi waktu dan biaya operasional saja, tetapi juga memastikan petani tebu bisa mendapatkan harga jual yang optimal dari pabrik gula berkat kualitas rendemen yang tetap terjaga tinggi,” tuturnya. [cyn.kt]


