27.8 C
Sidoarjo
Sunday, July 19, 2026
spot_img

Air Mata Shafa dan Janji Kemandirian di SR

Pemkab Pasuruan, Bhirawa. – Ruangan serbaguna terbuka itu mendadak hening. Di atas panggung Open House Sekolah Rakyat (SR0 Kota Pasuruan, Jumat (17/7), seorang anak perempuan berusia 12 tahun berdiri dengan bahu yang bergetar. Namanya Mai Nur Shafa. Baru saja ia menyelesaikan bait-bait puisinya, air matanya luruh.

Menteri Sosial, H Saifullah Yusuf yang duduk di barisan depan langsung menangkap momen emosional itu. Pria yang akrab disapa Gus Ipul tersebut mendekat, lalu bertanya dengan nada kebapakan tentang alasan di balik tangis sang bocah. “Karena kangen kedua orang tua,” ucap Shafa lirih, suaranya tercekat.

Jawaban jujur itu membuka lembaran kisah pilu sekaligus ketegaran seorang anak marjinal. Sejak kelas 1 SD, Shafa sudah harus berpisah dengan ayah dan ibunya yang pergi merantau demi menyambung hidup. Praktis, sejak usia dua tahun, ia hanya diasuh oleh neneknya.

Di tengah kerinduan yang membuncah, Sekolah Rakyat menjadi pelipur lara sekaligus ruang baginya merajut mimpi besar. “Saya akan belajar sungguh-sungguh biar bisa bertemu kedua orang tuaku. Aku ingin membahagiakan mereka,” kata Shafa, menatap lurus ke depan dengan raut muka penuh harapan.

Gadis kecil itu bercita-cita menjadi dokter. “Padahal belum bertemu orang tuanya, tapi tetap ingin membahagiakan mereka. Luar biasa Shafa ini,” puji Gus Ipul, matanya berkaca-kaca menatap bangga ke arah Shafa. Kisah Shafa hanyalah satu dari sekian banyak potret anak-anak di Sekolah Rakyat Kota Pasuruan yang sedang berjuang melawan keterbatasan.

Berita Terkait :  Suka Duka Dua Dokter UB Menjadi Relawan Jalur Gaza

Ada juga Muhammad Dafa Maulana (16), remaja yang sempat kehilangan hak belajarnya karena putus sekolah sejak kelas 2 SD. Kini, lewat Sekolah Rakyat, Dafa kembali mengejar ketertinggalannya. Ada pula Rachmad Albi Fakhri (15), komandan baris variasi yang tersenyum semringah karena akhirnya menemukan lingkungan belajar yang hangat dan menerima dirinya apa adanya.

Bagi Gus Ipul, kehadiran Sekolah Rakyat yang juga menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar tentang mendirikan bangunan fisik atau ruang kelas baru. Lebih dari itu, ini adalah proyek kemanusiaan untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia yang lahir dari keluarga kurang beruntung. “Di Sekolah Rakyat, tidak ada anak yang dianggap gagal. Tidak ada anak yang dianggap bodoh. Setiap anak memiliki kelebihan dan potensi masing-masing,” tegas Gus Ipul memotivasi para siswa.

Sebuah slogan baru pun digaungkan siang itu. Ketika Gus Ipul meneriakkan “Siswa Sekolah Rakyat!”, dengan serempak dan lantang anak-anak menjawab: “Setiap siswa berharga!”. Namun, misi besar ini tidak akan lengkap tanpa peran serta orang tua. Di sela-sela acara, sebuah momen penting terjadi. Gus Ipul mengajak seluruh orang tua siswa yang hadir untuk berdiri dan berikrar. Bukan sekadar janji di atas kertas, melainkan komitmen untuk berubah.

Secara serentak, para orang tua mengikuti ucapan Mensos yang berkomitmen untuk ikut serta dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi yang disiapkan pemerintah, dengan satu tujuan besar. Yakni, secepatnya mandiri dan lepas dari ketergantungan bantuan sosial (bansos).

Berita Terkait :  HCML Gelar Festival Pesisir di Pulau Giligenting Sumenep

Pemerintah menyadari, memutus rantai kemiskinan harus dilakukan dari dua sisi. Yakni, menyekolahkan anaknya dan memberdayakan orang tuanya. Langkah maju ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Wali Kota Pasuruan, H Adi Wibowo. Bersama jajaran Pemkot Pasuruan, Mas Adi sapaan akrabnya berkomitmen penuh menyukseskan kolaborasi pusat dan daerah ini.

Saat ini, di Kota Pasuruan telah terbangun fasilitas Sekolah Rakyat mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Perubahan karakter dan kepercayaan diri anak-anak yang tampil hari itu mulai dari pertunjukan tari Onclang Kidang hingga pidato tiga bahasa yang menjadi bukti nyata bahwa kesempatan yang sama bisa mengubah segalanya. “Bisa dipastikan bahwa Sekolah Rakyat ini memberikan kontribusi besar bagi anak-anak kita yang selama ini tidak bisa merasakan indahnya suasana sekolah,” kata Mas Adi penuh optimisme.

Saat ini, halaman sekolah baru itu kini tidak lagi sepi. Sebab, ia telah menjelma menjadi laboratorium harapan bagi anak-anak marjinal untuk menatap masa depan yang lebih cerah.[hil.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!