30.5 C
Sidoarjo
Monday, July 20, 2026
spot_img

HUT Ke-25 Partai Demokrat, Mas Naufal Alghifari Benahi Kawasan Rawan Banjir Pasuruan

Kab Pasuruan, Bhirawa. – Ada banyak cara untuk merayakan momentum hari jadi sebuah partai politik. Bagi jajaran Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kabupaten Pasuruan, usia perak ke-25 tahun ini dimaknai secara progresif dan solutif.

Alih-alih menggelar panggung seremonial mewah, mereka memilih turun ke lapangan untuk membenahi infrastruktur alam dan mengantisipasi bencana banjir menahun yang kerap menghantui warga.

Aksi lingkungan berskala besar dengan tema ‘Gerakan Langit Biru Indonesia Asri’ ini dipimpin langsung oleh Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pasuruan, Muhammad Naufal Alghifari.

Dengan menggandeng seluruh elemen pengurus, kader, simpatisan, hingga berkolaborasi aktif dengan perwakilan Muspika Kecamatan Winongan, TNI, dan Polri setempat, mereka melakukan bersih-bersih Sungai Bandaran serta penanaman puluhan bibit pohon.

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pasuruan, Muhammad Naufal Alghifari menyampaikan aksi fisik penanganan lingkungan ini bukan sekadar inisiatif spontan.

Melainkan wujud kepatuhan terhadap garis komando partai di tingkat nasional untuk selalu hadir di tengah kesulitan mendasar yang dirasakan oleh konstituen daerah.

“Giat ini adalah instruksi langsung dari Ketua Umum DPP Agus Harimurti Yudhoyono atau Mas AHY,” ujar politisi muda milenial yang akrab disapa Mas Naufal tersebut di sela-sela memimpin aksi bersih-bersih sungai, Jumat (17/7).

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur ini menjelaskan pimpinan pusat sebenarnya memberikan dua opsi pilihan kegiatan bakti sosial untuk memperingati HUT ke-25 Demokrat, yakni gerakan bersih-bersih pasar tradisional atau normalisasi sungai.

Berita Terkait :  Terima Dubes Guatemala, Pj Gubernur Adhy Jajaki Kerjasama Ekonomi Hingga Budaya

Mengingat peta kerawanan geografis di kawasan Pasuruan yang sangat rentan terendam banjir saat curah hujan tinggi, Mas Naufal bersama seluruh pengurus DPC sepakat mengambil opsi kedua yang dinilai lebih mendesak bagi warga.

Langkah taktis memprioritaskan normalisasi aliran air ini dinilai krusial. Sebab, Sungai Bandaran kini mengalami pendangkalan dan penyempitan alur yang sudah sangat parah di beberapa titik.

Kondisi inilah yang ditengarai menjadi pemicu utama lumpuhnya mobilitas warga ketika debit air kiriman meningkat.

“Sedimentasi dan penyempitan alur sungai menjadi salah satu faktor yang membuat kawasan Winongan kerap dilanda banjir ketika curah hujan tinggi. Karena itu, selain menjaga kebersihan sungai, diperlukan langkah yang lebih menyeluruh melalui normalisasi,” papar Mas Naufal.

Persoalan banjir di Pasuruan rupanya tidak berdiri sendiri di hilir. Mas Naufal mencermati adanya benang merah dengan kerusakan ekosistem di dataran tinggi. Minimnya vegetasi pelindung membuat serapan air berkurang drastis, sehingga air permukaan mengalir tanpa hambatan ke daerah bawah.

Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, Mas Naufal memimpin penanaman puluhan bibit pohon alpukat di sepanjang tepi jalan Sungai Bandaran.

Pemilihan pohon produktif ini diharapkan memicu kesadaran warga sekitar untuk ikut merawatnya demi kelestarian alam bersama. Namun, di tengah jalannya normalisasi, fakta lapangan yang cukup memprihatinkan terkuak.

Tim di lapangan menemukan fakta bahwa mayoritas sumbatan alur sungaisekitar 70 persen disebabkan oleh tumpukan sampah domestik atau sampah rumah tangga.

Berita Terkait :  Dinsos Jatim Bebaskan Empat ODGJ Korban Pasung

Menanggapi temuan tersebut, Mas Naufal langsung mengetuk kesadaran kolektif publik agar mengubah perilaku buruk membuang sampah ke aliran air.

“Mari kita jaga lingkungan kita, agar tidak ada lagi bencana alam dan banjir di lingkungan kita,” kata Mas Naufal.

Kendati gerakan gotong royong terbukti efektif memicu kepedulian komunal, politisi muda Demokrat ini menegaskan kerja bakti berkala memiliki keterbatasan kapasitas fiskal dan teknologi.

Penuntasan masalah banjir menahun di Winongan menuntut kehadiran infrastruktur makro yang sistematis. Oleh sebab itu, Mas Naufal mendesak pemerintah daerah maupun provinsi agar tidak abai dan segera mengintervensi persoalan ini lewat kebijakan anggaran yang nyata.

Sinergi antara kepedulian kultural warga dan pembangunan struktural pemerintah adalah kunci utama menyudahi siklus banjir di Pasuruan.

“Kesadaran masyarakat untuk menjaga sungai harus terus ditumbuhkan. Tetapi pemerintah juga harus hadir melalui program normalisasi supaya kapasitas sungai kembali optimal,” jelas Mas Naufal. [hil.dre]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!