Surabaya Bhirawa — Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga Provinsi Jawa Timur menanam 1.000 pohon asam di ruas jalan provinsi secara serentak, termasuk di Jalan Akses Puspa Agro, Surabaya, Kamis (8/10/2026) pagi.
Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Timur yang ke-81, dengan melibatkan 11 Unit Pelaksana Teknis (UPT) DPU Bina Marga di seluruh Jawa Timur.
Kegiatan utama dipusatkan di Jalan Akses Puspa Agro, Surabaya, yang dihadiri langsung oleh Kepala DPU Bina Marga Jatim, Edy Tambeng Widjaja. Sementara itu, penanaman di wilayah lain dilakukan secara virtual melalui Zoom oleh masing-masing UPT di wilayahnya.
Edy Tambeng Widjaja menjelaskan bahwa pohon asam dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan dibanding jenis pohon lain. Pertama, pohon asam memiliki umur panjang sehingga tidak perlu sering diganti. Kedua, pohon ini tahan terhadap cuaca ekstrem, baik panas maupun dingin. Ketiga, tajuknya yang lebar mampu memberikan keteduhan bagi pengguna jalan.
“Kenapa kita tanam bibit pohon asam? Karena pohon asam ini yang pertama umurnya panjang, jadi tidak ganti-ganti gitu ya umurnya panjang tidak cepat mati. Kemudian yang kedua, dia kuat terhadap cuaca panas maupun dingin, kemudian ketiga, tajuknya ini tajuknya bisa meneduhkan jalan, jadi bagi pengguna jalan bisa memberikan kenyamanan,” ujar Edy ketika diwawancarai Bhirawa usai acara.
Selain itu, secara ekologis pohon asam mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, sehingga berkontribusi terhadap perbaikan kualitas udara di sekitar ruas jalan.
Selain manfaat ekologis, penanaman pohon asam juga dimaksudkan sebagai penanda identitas ruas jalan provinsi. Edy mengakui bahwa hingga kini masih banyak masyarakat yang kesulitan membedakan antara jalan provinsi dan jalan kabupaten.
“Di samping itu, nanti dengan penanaman pohon asam ini nanti mudah-mudahan bisa menjadi identitas bahwa ini adalah merupakan ruas provinsi, sehingga kalau kita melalui jalan paling tidak ada tanda apa sih yang kita lalui dengan jalan provinsi atau kabupaten,” katanya.

Ia menambahkan bahwa daun pohon asam yang kecil juga tidak akan menyumbat saluran drainase di kanan-kiri jalan, sehingga tidak mengganggu sistem pembuangan air.
Edy berharap, dalam 5–10 tahun ke depan, ketika pohon-pohon asam sudah tumbuh besar, masyarakat akan lebih mudah mengenali ruas jalan provinsi. Saat ini, meski sudah ada sosialisasi dan penandaan, masih banyak keluhan masyarakat yang mengira jalan rusak yang mereka adukan adalah jalan provinsi, padahal sebagian besar bukan kewenangan provinsi.
“Nanti suatu saat nanti 5-10 tahun lagi nanti baru akan kelihatan bahwa ini oh nanti kalau di ruas jalan itu paling tidak orang tahu oh ini melalui jalan provinsi. Karena saat ini terus-terusan masyarakat itu belum paham betul mana jalan provinsi, mana jalan kabupaten, mana jalan nasional,” ungkapnya.
Kegiatan ini tidak hanya dilakukan di Surabaya, tetapi juga serentak di 11 UPT DPU Bina Marga di seluruh Jawa Timur. Edy mengucapkan terima kasih kepada seluruh UPT yang telah menyiapkan kegiatan penanaman pohon di wilayah masing-masing.
“Mari kita bersama menanam pohon, baik yang di sini maupun yang di UBT. Ini kita sudah bergabung dengan UBT, nanti kita serempak. Nanti kita mulai bersama untuk menanam pohon di ruang jalan kita,” ajak Edy.
Kegiatan ini ditutup dengan doa agar pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya pengguna jalan provinsi. [aya.kt]






