28.9 C
Sidoarjo
Wednesday, October 7, 2026
spot_img

Ternak Sehat, Fondasi Ketahanan Pangan Jawa Timur

Oleh:
Prof. Dr. Rochmah Kurnijasanti, drh., M.Si.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga; bidang keilmuan farmakologi veteriner, bahan alam, dan kesehatan ternak.

Jawa Timur memperoleh kabar baik menjelang akhir September 2026. Produksi jagung untuk Januari-Oktober diproyeksikan mencapai sekitar 3,71 juta ton dengan kadar air 14 persen, sehingga pasokan bahan baku pakan ternak dinilai tetap aman meski musim kemarau berlangsung panjang. Kabar ini penting karena jagung merupakan salah satu komponen utama pakan unggas. Namun, ketersediaan pakan saja belum cukup menjamin produktivitas. Ada satu mata rantai yang sering luput dari pembicaraan ketahanan pangan, yakni kondisi biologis ternak yang harus mengubah pakan itu menjadi daging dan telur.

Pada musim kemarau, ayam menghadapi tekanan yang tidak ringan. BMKG pada awal Oktober masih mencatat dominasi kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Kementerian Pertanian juga mengingatkan bahwa suhu lingkungan tinggi dapat memicu heat stress pada ayam, menurunkan konsumsi pakan, mengganggu pertumbuhan, menekan produksi telur, menurunkan daya tahan tubuh, bahkan meningkatkan risiko kematian jika tidak terkendali. Karena ayam memiliki kemampuan berkeringat yang sangat terbatas, tubuhnya terutama melepaskan panas melalui panting atau peningkatan frekuensi pernapasan.

Konsekuensinya jelas. Ketika suhu kandang terlalu tinggi, ayam akan lebih banyak minum dan mengurangi konsumsi pakan. Energi dan nutrien yang seharusnya dipakai untuk pertumbuhan sebagian dialihkan untuk mempertahankan suhu tubuh dan homeostasis. Pada kondisi berkepanjangan, stres panas dapat berlanjut menjadi stres oksidatif, inflamasi, gangguan respons imun, dan kerusakan jaringan. Jadi, masalah panas bukan sekadar soal kenyamanan ternak. Ia adalah persoalan kesehatan, efisiensi produksi, dan ekonomi peternak.

Berita Terkait :  Polwan Polres Blitar Kota Diduga Selingkuh dengan Anggota DPRD Kota Blitar

Di sinilah pendekatan farmakologi veteriner perlu berkembang. Selama ini farmakologi sering dibayangkan bekerja ketika penyakit sudah muncul: ternak sakit, didiagnosis, diberi obat, lalu diharapkan sembuh. Paradigma tersebut tetap diperlukan, tetapi tidak cukup untuk menghadapi tantangan peternakan modern. Kita juga membutuhkan pendekatan preventif yang membantu ternak mempertahankan kondisi fisiologis sebelum gangguan berkembang menjadi penyakit.

Salah satu pendekatan yang sedang berkembang ialah imunonutrisi, yakni pemanfaatan komponen nutrisi dan senyawa bioaktif untuk membantu mempertahankan keseimbangan respons imun, inflamasi, dan status oksidatif. Dengan perspektif ini, pakan bukan hanya pemasok energi dan protein, tetapi dapat menjadi medium penghantaran komponen bioaktif yang diteliti secara farmakologis. Tentu imunonutrisi bukan pengganti antibiotik ketika infeksi bakterial memang membutuhkan terapi. Nilainya justru terletak pada pencegahan dan penguatan ketahanan biologis ternak sehingga intervensi terapeutik yang tidak diperlukan dapat dikurangi.

Dalam penelitian kami pada ayam broiler, 50 ekor ayam dibagi dalam kelompok kontrol termonetral, kelompok stres panas, serta kelompok stres panas yang mendapat tepung biji mahoni (Swietenia macrophylla) pada kadar 0,5 persen, 1 persen, dan 2 persen. Kelompok stres panas dipapar suhu sekitar 35 ± 2 derajat Celsius selama delapan jam per hari pada umur 14-28 hari. Kami tidak hanya mengukur pertambahan bobot badan dan rasio konversi pakan, tetapi juga indikator stres oksidatif, inflamasi, imunologi, regulasi protein, dan gambaran histopatologi limpa.

Berita Terkait :  Direktur 'Bogank' Antar Tugu Tirta Raih Juara PERPAMSI Awards 2024

Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres panas menurunkan performa dan efisiensi pemanfaatan pakan. Suplementasi tepung biji mahoni, terutama pada taraf 2 persen, menunjukkan respons pertumbuhan dan efisiensi pakan yang lebih baik dibandingkan kelompok stres panas tanpa suplementasi. Perbaikan tersebut berjalan searah dengan perubahan indikator biologis, antara lain keseimbangan antioksidan yang lebih baik, penurunan mediator inflamasi, dukungan terhadap respons imun, serta struktur jaringan limpa yang lebih terpelihara.

Namun, temuan tersebut harus dibaca secara ilmiah, bukan promosi. Biji mahoni belum boleh diposisikan sebagai solusi komersial yang siap digunakan begitu saja. Masih diperlukan standardisasi senyawa bioaktif, hubungan dosis-respons yang lebih presisi, uji bioavailabilitas, keamanan jangka panjang, potensi residu, validasi pada skala peternakan komersial, dan analisis keekonomian. Justru tahapan itulah yang membedakan inovasi berbasis bukti dari sekadar klaim bahan alam.

Bagi Jawa Timur, pesan kebijakannya konkret. Pertama, ketahanan pangan daerah perlu memasukkan kesehatan dan resiliensi ternak sebagai indikator penting, bukan hanya populasi dan volume produksi. Kedua, layanan penyuluhan dan kesehatan hewan perlu memperkuat manajemen stres panas melalui ventilasi, ketersediaan air, kepadatan kandang, waktu pemberian pakan, dan pemantauan tanda klinis. Ketiga, riset pakan fungsional berbasis biodiversitas lokal perlu diarahkan sampai tahap standardisasi dan uji lapang. Keempat, pendekatan preventif harus berjalan beriringan dengan penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab.

Berita Terkait :  Gedung SDN 2 Karangpatihan Rusak, Dinas Pendidikan Ponorogo Siapkan Solusi

Jawa Timur memiliki basis peternakan dan pertanian yang kuat. Surplus jagung tentu modal penting. Tetapi keberhasilan ketahanan pangan tidak berhenti ketika jagung sampai ke gudang pakan. Tantangan berikutnya ialah memastikan ternak tetap sehat sehingga mampu mengubah pakan menjadi pangan secara efisien. Karena itu, kesehatan ternak seharusnya tidak dilihat sebagai biaya tambahan, melainkan investasi produktivitas, keamanan pangan, kesejahteraan hewan, dan ketahanan pangan Jawa Timur.

————- *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!