Magetan, Bhirawa – Tak banyak sekolah yang berada di ujung wilayah provinsi sekaligus menjadi tempat bertemunya siswa dari tiga kabupaten dan dua provinsi. Salah satunya SMAN 1 Parang, Magetan. Berada di jalur penghubung Magetan-Ponorogo dan dekat perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah, sekolah ini mendapat perhatian khusus pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober lalu.
Bukan sekadar datang sebagai tamu, Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai justru menjadi inspektur upacara di sekolah tersebut. Kehadiran orang nomor satu di lingkungan pendidikan Jatim itu menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SMAN 1 Parang.
Pasalnya, kunjungan tersebut menjadi kali pertama Aries menyambangi sekolah yang berada di kawasan perbatasan tersebut. Usai memimpin upacara, Aries tidak langsung meninggalkan sekolah. Ia berkeliling melihat kondisi satuan pendidikan sekaligus meninjau sejumlah program yang dikembangkan sekolah, termasuk Double Track (DT) dan Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP).
“Sekolah ini berada di perbatasan Magetan dan Wonogiri. Siswanya juga berasal dari dua wilayah itu. Sayangnya, sekolah ini belum pernah dikunjungi pejabat pendidikan. Karena itu, saya sempatkan berkunjung untuk melihat kondisi sekolah,” kata Aries, Rabu (7/10).
Bagi Aries, posisi geografis SMAN 1 Parang justru menjadi kekuatan tersendiri. Sekolah tidak hanya melayani siswa dari Kecamatan Parang dan wilayah Kabupaten Magetan, tetapi juga menjadi pilihan bagi anak-anak dari daerah sekitar Ponorogo hingga Wonogiri, Jawa Tengah.
Di balik letaknya yang jauh dari pusat pemerintahan kabupaten, Aries melihat potensi besar yang bisa dikembangkan. Salah satunya melalui program Double Track yang telah berjalan sejak 2018.
Program tersebut dirancang untuk membekali siswa SMA dengan keterampilan nonakademik dan kewirausahaan. Terutama bagi siswa yang setelah lulus tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Sesuai tujuan pendirian program Double Track, siswa yang mayoritas tidak melanjutkan ke perguruan tinggi kami bekali dengan keterampilan sesuai peminatan mereka. Harapannya, ketika lulus nanti mereka bisa langsung bekerja di industri atau mendirikan usaha,” jelasnya.
Karena itu, Aries meminta sekolah terus memperkuat program tersebut. Salah satunya dengan menambah peralatan praktik sehingga pelatihan yang diberikan kepada siswa maupun guru dapat berjalan lebih optimal. “Ini sekolah yang ada di perbatasan antarprovinsi. Saya berharap sekolah bisa lebih baik lagi sarana dan prasarananya,” tuturnya.
Tiga Kabupaten, Dua Provinsi
Kepala SMAN 1 Parang Magetan, Asmaul Khusnah, mengatakan karakteristik peserta didiknya memang berbeda dibandingkan sekolah yang berada di pusat kota. Siswa SMAN 1 Parang berasal dari sejumlah wilayah dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam.
“Anak-anak kami ada yang berasal dari tiga kabupaten dan dua provinsi. Paling banyak memang dari Kecamatan Parang, tetapi ada juga yang berasal dari Kabupaten Wonogiri dan Ponorogo karena daerah kami memang berada di perbatasan,” ungkapnya.
Saat ini SMAN 1 Parang memiliki 631 peserta didik dalam 19 rombongan belajar. Mereka didukung 44 tenaga pendidik dan 10 tenaga kependidikan.
Menurut Asmaul, pemerintah telah memberikan dukungan melalui Dana BOS dan BPOPP. Sekolah juga pernah memperoleh bantuan revitalisasi berupa pembangunan laboratorium kimia pada 2021.
Namun, sejumlah kebutuhan masih harus dipenuhi. Beberapa ruang kelas, toilet, dan fasilitas sekolah lainnya membutuhkan rehabilitasi. Persoalan sumber air juga menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika memasuki musim kemarau.
“Kami sangat memerlukan bantuan untuk rehabilitasi sekolah. Ruang-ruang kelas, toilet, dan sarana lainnya masih perlu perhatian. Terutama sumber air, karena kami agak kesulitan ketika musim kemarau,” ujarnya.
Kondisi sosial ekonomi sebagian siswa juga menjadi perhatian sekolah. Sebagian besar orang tua siswa bekerja sebagai petani dan buruh tani. Bahkan, menurut Asmaul, terdapat anak laki-laki yang harus bekerja terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah.
Kondisi itulah yang membuat program keterampilan seperti Double Track menjadi penting. Sekolah berharap fasilitas praktik dapat diperkuat sehingga keterampilan yang diberikan benar-benar bisa menjadi bekal siswa setelah lulus.
Dari Double Track hingga Karawitan
Tak hanya Double Track. SMAN 1 Parang juga mengembangkan SIKAP melalui kebun dan kandang unggas. Program tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah mengenalkan keterampilan dan ketahanan pangan kepada siswa.
Di bidang akademik, sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Budaya literasi juga dibangun melalui pembiasaan membaca fiksi selama 15 menit setiap pagi sebelum kegiatan belajar mengajar, serta keberadaan pojok baca di kelas.
Hasilnya, Rapor Pendidikan 2026 mencatat kemampuan literasi sekolah berada pada kategori baik dengan skor 95,56, sedangkan numerasi mencapai 86,67. Namun, ada satu hal lain yang membuat SMAN 1 Parang memiliki warna tersendiri: karawitan.
Ekstrakurikuler tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menjaga seni budaya lokal. Bahkan, sekolah menargetkan setiap siswa memiliki kemampuan memainkan setidaknya salah satu alat musik gamelan sebelum meninggalkan bangku SMA.
Persoalannya, perangkat gamelan yang digunakan sudah berusia cukup tua. “Perangkat gamelan kami sudah sangat lama. Tetapi itu tidak mengalahkan semangat anak-anak untuk tetap nguri-uri budaya lokal,” kata Asmaul.
Setiap akhir tahun, penampilan karawitan SMAN 1 Parang bahkan selalu ditunggu masyarakat di lapangan Kecamatan Parang. Bagi sekolah yang berada jauh dari pusat kota, keberadaan kesenian tersebut bukan sekadar ekstrakurikuler. Karawitan menjadi cara sekolah mempertemukan pendidikan, karakter, dan budaya lokal dalam satu ruang.
Kini, setelah Kadindik Jatim datang langsung dan melihat kondisi sekolah dari dekat, Asmaul berharap perhatian terhadap SMAN 1 Parang dapat semakin kuat. “Kami berharap setelah Bapak Kadis hadir di tengah-tengah kami dan melihat langsung kondisi sekolah, sarana prasarana dan fasilitas yang menunjang keterampilan anak-anak bisa lebih diperhatikan,” harapnya.
Di ujung perbatasan Jatim, upacara Hari Kesaktian Pancasila akhirnya bukan sekadar seremoni. Kehadiran Aries menjadi kesempatan bagi sekolah untuk menunjukkan bahwa di balik jarak dan keterbatasan fasilitas, ada potensi siswa yang terus tumbuh-dari keterampilan wirausaha, ketahanan pangan, prestasi akademik, hingga gamelan yang tetap ditabuh untuk menjaga budaya di perbatasan. [ina.wwn]






