27 C
Sidoarjo
Thursday, April 2, 2026
spot_img

Kerapan Sapeh Sakak, Tradisi yang Hidup Kembali di Kabupaten Probolinggo

Kab Probolinggo, Bhirawa
Lapangan sawah berlumpur di Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, mendadak ramai oleh sorak penonton dan derap langkah sapi yang berpacu di lintasan sepanjang 110 meter. Menjelang musim tanam, Kerapan Sapeh Sakak kembali digelar, Sabtu (27/12), menghidupkan tradisi lama masyarakat agraris Probolinggo yang sarat makna dan nilai kearifan lokal.

Sebanyak 34 peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Probolinggo ambil bagian dalam ajang ini. Para peserta dibagi ke dalam dua kategori, yakni Kelas A untuk sapi berukuran kecil dan Kelas B untuk sapi berukuran besar. Berbeda dengan kerapan sapi pada umumnya, Kerapan Sapi Sakak menegaskan prinsip tanpa kekerasan terhadap hewan. Joki dilarang menggunakan benda tajam, penutup mata, maupun perlakuan yang menyakiti sapi selama perlombaan berlangsung.

Bupati Probolinggo, Mohammad Haris atau akrab disapa Gus Haris yang hadir menyaksikan langsung jalannya lomba, menilai Kerapan Sapeh Sakak bukan sekadar ajang adu cepat, melainkan bagian dari tradisi masyarakat tani yang merekam nilai-nilai kehidupan masa lalu. “Kerapan Sapeh Sakak ini memiliki filosofi yang kuat. Ini tentang harapan para petani ketika menanam padi, tentang optimisme, kebersamaan, dan kerja keras. Tradisi ini patut kita jaga,” ujar Bupati Haris.

Ia menegaskan, kerapan sapi tidak harus identik dengan kekerasan. Menurutnya, konsep Kerapan Sapeh Sakak justru menghadirkan wajah baru tradisi yang lebih humanis dan beradab. “Hari ini kita melihat kerapan sapi yang ramah hewan. Tidak melukai, tidak menyiksa. Ini pesan penting bagi pelestarian budaya ke depan,” tegasnya.

Berita Terkait :  Tingkatkan Keselamatan Layanan Kapal Ro-Ro, Pelindo Berkolaborasi dengan KSOP Tanjung Perak

Suasana arena berlangsung semarak. Ratusan warga rela berdesakan di tepi lintasan, bahkan harus menginjak lumpur, demi menyaksikan langsung duel dua pasang sapi yang berpacu menuju garis akhir. Setiap pasangan yang berhasil finis lebih dulu disambut tepuk tangan dan sorak sorai penonton.

Salah satu peserta, Novi Septianto dari tim “Bajing Ireng”, mengaku mengikuti kerapan ini dengan persiapan khusus. “Latihan seminggu sekali, jamu dua hari sekali, dan sapi kami mandikan dua sampai tiga kali sehari. Alhamdulillah hasilnya cukup baik,” ujarnya.

Selain perlombaan, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan lomba foto on the spot Kerapan Sapeh Sakak yang diikuti fotografer dari Kabupaten/Kota Probolinggo hingga luar daerah. Penilaian karya dilakukan oleh dewan juri profesional, yakni Arbain Rambey, Yuyung Abdi, dan Purwanto Rass, sehingga semakin menambah daya tarik event tersebut.

Bupati Haris berharap Kerapan Sapi Sakak dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan dikemas lebih baik ke depan. “Ini bisa menjadi agenda tahunan, mendorong UMKM, sekaligus memperkuat pariwisata daerah. Kerapan Sapi Sakak sejalan dengan konsep Culture and Sport Tourism yang ingin kita bangun di Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya.

Tradisi yang dulu lahir sebagai ajang silaturahmi petani jelang musim tanam itu kini kembali menemukan relevansinya-menjadi simbol harmoni antara manusia, hewan, dan alam, sekaligus wajah budaya Probolinggo yang ramah dan bermartabat.[fir.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!