28.4 C
Sidoarjo
Tuesday, June 9, 2026
spot_img

Cuaca ‘Bediding’ Intai Kesehatan, Kasus ISPA Berpotensi Melonjak di Kota Malang

Kota Malang, Bhirawa.
Fenomena cuaca bediding atau penurunan suhu udara yang cukup drastis belakangan ini mulai dirasakan masyarakat Jawa Timur. Di balik sensasi dinginnya, kondisi ini menyimpan ancaman serius bagi kesehatan, terutama meningkatnya risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., mengingatkan bahwa suhu dingin menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran virus dan bakteri, sekaligus berpotensi melemahkan sistem pertahanan tubuh manusia.

“Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat suhu udara menurun. Ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan,” ujar Titik Selasa (9/6).

Menurut Titik, udara yang dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan hidup lebih lama di luar tubuh manusia. Kondisi ini mempermudah patogen tersebut menyebar secara cepat melalui partikel udara (airborne).

Lebih lanjut, pakar keperawatan UMM ini menjelaskan bahwa saluran pernapasan manusia memiliki mekanisme pertahanan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Ketika seseorang menghirup udara dingin secara mendadak, tubuh akan merespons dengan menyempitkan saluran napas dan meningkatkan produksi lendir.

“Di saat yang sama, kerja silia atau rambut getar yang berfungsi membersihkan kotoran dan mikroorganisme di saluran pernapasan justru melambat. Akibatnya, proses pembersihan alami tubuh kurang efektif dan risiko infeksi melonjak,” jelasnya.

Berita Terkait :  Pemkot Probolinggo Berangkatkan 214 Calon Jamaah Haji ke Tanah Suci, Termuda Usia 19 Tahun

Titik memaparkan, produksi Extracellular Vesicles (EVs)-komponen pertahanan alami di dalam rongga hidung yang berfungsi menangkap virus-akan berkurang saat cuaca dingin. Ditambah lagi, penyempitan pembuluh darah di area hidung membuat distribusi sel-sel imun ke saluran pernapasan menjadi terhambat. “Beberapa virus pernapasan, termasuk rhinovirus penyebab flu biasa, justru berkembang lebih optimal pada suhu yang lebih rendah dibandingkan suhu normal tubuh manusia,” tambahnya.

Masyarakat juga diimbau untuk jeli membedakan antara alergi dingin dan gejala ISPA. Titik menyebutkan, alergi dingin umumnya ditandai dengan bersin berulang, hidung gatal, dan mata berair yang akan membaik begitu suhu tubuh menghangat. Sementara pada kasus ISPA, gejala klinis biasanya disertai dengan demam sebagai tanda adanya infeksi.

Untuk mengantisipasi penularan, Titik menegaskan bahwa sekadar mengenakan jaket tebal saat keluar rumah tidaklah cukup. Langkah pencegahan internal jauh lebih krusial. “Masyarakat harus menjaga hidrasi tubuh dengan rajin mengonsumsi minuman hangat. Selain itu, penuhi kebutuhan Vitamin A, Vitamin D, serta lemak sehat mengandung omega-3 untuk mendongkrak sistem imun,” tuturnya.

Pihaknya memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, hingga pekerja yang menghabiskan waktu lama di ruangan ber-AC agar lebih waspada selama musim bediding ini. “Memakai jaket itu penting untuk perlindungan luar. Namun, menjaga nutrisi dan daya tahan tubuh dari dalam adalah benteng utama kita menghadapi cuaca ekstrem ini,” pungkasnya.[mut.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!