28.4 C
Sidoarjo
Tuesday, June 9, 2026
spot_img

Waspada Virus Radikalisme di Lingkungan Kampus

Sebagai pusat pencetak generasi penerus bangsa, kampus seharusnya menjadi tempat persemaian nilai-nilai akademis yang kritis, toleran, dan inklusif. Namun, sangat disayangkan belakangan ini kita dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa lingkungan perguruan tinggi justru menjadi salah satu target utama penyebaran paham radikalisme.

Mahasiswa, sebagai agent of change yang berada dalam fase pencarian jati diri, sangat rentan terhadap indoktrinasi kelompok ekstremis. Penyebaran paham ini tidak lagi dilakukan secara terang-terangan, melainkan melalui modus operandi yang halus dan terselubung. Mulai dari diskusi keagamaan eksklusif yang membatasi interaksi dengan kelompok berbeda, penanaman doktrin anti-Pancasila melalui mentor, hingga pemanfaatan ruang-ruang digital. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bahkan sempat menyoroti kerentanan kalangan muda terhadap paparan ideologi ini.

Tentu kita tidak ingin kampus yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir justru disusupi oleh ideologi yang membenarkan kekerasan dan intoleransi. Jika radikalisme dibiarkan berakar, bukan tidak mungkin hal ini akan merusak tatanan sosial, memicu disintegrasi psikologis di kalangan mahasiswa, hingga mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menghadapi ancaman ini, seluruh elemen kampus harus mengambil langkah tegas dan preventif. Pihak rektorat dan jajaran dosen tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan pengawasan tradisional, melainkan harus hadir memberikan ruang dialog terbuka. Mata kuliah umum terkait pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan perlu dikemas lebih relevan agar mampu membentengi mahasiswa dari pemikiran radikal.

Berita Terkait :  Dilepas Wabup, Ribuan Pelari Ikuti Fun Run di Alun-alun Bojonegoro

Selain itu, pengawasan terhadap organisasi kemahasiswaan, khususnya lembaga dakwah atau kelompok kerohanian, perlu dioptimalkan. Bukan untuk membatasi kebebasan berorganisasi, melainkan untuk memastikan bahwa kegiatan yang berlangsung berada dalam koridor moderasi dan nilai-nilai kemanusiaan. Organisasi mahasiswa harus didorong untuk menjadi motor penggerak perlawanan terhadap paham radikal melalui kampanye positif.

Mari bersama-sama menjaga marwah kampus sebagai benteng pertahanan moral dan intelektual bangsa. Peran aktif dari mahasiswa, dosen, alumni, dan orang tua sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan akademik yang aman, damai, dan berlandaskan Pancasila.

Hetty Wulansari
Mahasiswi, Wonocolo Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!