29.5 C
Sidoarjo
Tuesday, June 9, 2026
spot_img

Refleksi Kebijakan Vokasi Perpres 68 Tahun 2022

Oleh :
Budi Raharjo
Mahasiswa S3 PSDM Universitas Airlangga Surabaya dan Staf Ahli Gubernur Jatim Bidang Kesmas dan SDM.

Ada paradoks yang diam-diam menggerogoti semangat besar revitalisasi vokasi Indonesia. Di atas kertas, Perpres Nomor 68 Tahun 2022 adalah payung hukum yang komprehensif: mengintegrasikan SMK, pendidikan tinggi vokasi, hingga Lembaga Kursus dan Pelatihan secara nasional. Arahnya jelas, niatnya mulia. Namun di lapangan, energi besar yang seharusnya mendorong penyelarasan kompetensi dengan kebutuhan industri justru banyak terserap di lorong-lorong rapat koordinasi, seremoni penandatanganan MoU, dan pembentukan tim demi tim yang belum tentu berujung pada satu hal yang paling esensial: lulusan yang terserap, kompeten, dan produktif.Forum dan lembaga memang tumbuh. Sosialisasi berjalan.

Nota kesepahaman terus bertambah. Tetapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: apakah kecepatan penyelarasan kompetensi dengan pasar kerja riil ikut tumbuh secepat itu? Ataukah kita masih melatih berdasarkan program yang tersedia, bukan berdasarkan kebutuhan yang sesungguhnya bergerak di lantai-lantai perusahaan, gedung-gedung perkantorsan, digitalisasi, otomatisasi atau di sektor-sektor terbarukan?

Dari Koordinasi Menuju Orkestra
Di sinilah ide besar #eJourney menemukan relevansinya yang paling dalam. Bukan sebagai aplikasi baru di antara ratusan aplikasi pemerintah yang sudah ada. Bukan sebagai platform tambahan yang menambah beban administrasi digital. Tetapi sebagai sebuah rumah besar – ekosistem tata kelola yang memungkinkan pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan individu warganya bergerak dalam satu partitur yang sama: peta perjalanan talenta yang utuh, dari hulu ke hilir.Konsep eJourney atau eastJava Orchestration for Navigating Networking of Employment merupakan rumah besar berisi ikhtiar dan semangat pendekatan yang menempatkan pemerintah daerah sebagai penghubung, navigator, sekaligus orkestrator ekosistem ketenagakerjaan. Meminjam istilah sederhana yang berarti sebagai perjalanan proses, terhubung untuk tumbuh dan berkembang.

Berita Terkait :  Kejari Bondowoso Undang Puluhan Kades Klarifikasi Rekomendasi Inspektorat

Bayangkan sebuah pemerintah daerah yang tidak hanya tahu berapa banyak lulusan SMK yang diwisuda tahun ini, tetapi juga tahu ke mana mereka pergi, apakah mereka bekerja sesuai kompetensinya, seberapa cepat mereka terserap, dan di sektor mana kekosongan justru terjadi. Bayangkan sebuah sistem yang tidak sekadar mencatat angka pengangguran, tetapi mampu memproyeksikan kebutuhan okupasi tiga hingga lima tahun ke depan berdasarkan arah investasi yang masuk. Itulah yang eJourney ingin bangun: bukan sekadar data, melainkan kecerdasan pasar kerja yang bisa dibaca, direspons, dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang nyata.

Revitalisasi vokasi yang sesungguhnya tidak bisa berjalan hanya dengan mempertemukan pihak-pihak di meja rapat. Ia membutuhkan infrastruktur yang memungkinkan setiap aktor – siswa, pelatih, sekolah, industri, pemerintah daerah – untuk melihat dirinya dalam satu ekosistem yang saling terhubung dan saling bergantung. Inilah yang selama ini hilang: bukan semangat, bukan regulasi, melainkan peta perjalanan bersama. Semangat #eJourney lebih ke kemampuan orkestrasi tata kelola dirumah bersama (human centris capability).

Produktivitas sebagai Tujuan Akhir
Ada pergeseran mendasar yang perlu terjadi dalam cara kita mengukur keberhasilan vokasi. Selama ini, indikator kinerja utama sering berhenti pada angka partisipasi: jumlah peserta pelatihan, jumlah lembaga yang terbentuk, jumlah program yang berjalan. Padahal indikator yang jauh lebih jujur adalah produktivitas – seberapa besar kontribusi lulusan vokasi terhadap nilai tambah industri di daerahnya, seberapa signifikan penurunan mismatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan nyata lapangan kerja, seberapa cepat talenta baru bisa mengisi celah yang ditinggalkan oleh perubahan teknologi.Di sinilah lima KPI inti revitalisasi vokasi yang sesungguhnya perlu dijadikan kompas: 1) serapan lulusan sesuai bidang kerja, 2) penurunan mismatch tenaga kerja, 3) keberadaan Labour Market Intelligence System yang aktif dan digunakan, 4) tersedianya competency pathway yang jelas untuk sektor prioritas, dan 5) meningkatnya produktivitas tenaga kerja di sektor unggulan. Kelima indikator ini bukan sekadar target administratif – ia adalah cermin apakah ekosistem talenta daerah benar-benar berfungsi atau tidak.eJourney hadir sebagai infrastruktur rumah bersama yang menghubungkan semua lapisan itu. Ia memungkinkan daerah untuk membaca dinamika pasar kerja secara real-time, merespons perubahan dengan kecepatan yang setara dengan kecepatan industri itu sendiri, dan menempatkan setiap warga – pelajar, pencari kerja, pekerja yang perlu naik kelas – dalam peta perjalanan yang memiliki arah dan tujuan yang jelas. Bukan hanya mengikuti program yang tersedia, tetapi berjalan menuju kompetensi yang benar-benar dibutuhkan.

Berita Terkait :  Dishub Kota Surabaya Hentikan 600 Jukir Akibat Tolak Digitalisasi

Tumbuh Bersama, Bukan Sendiri-Sendiri
Yang paling mendasar dari filosofi eJourney adalah keyakinan bahwa pertumbuhan yang bermakna selalu bersifat kolektif. Tidak ada talenta yang berkembang dalam isolasi. Tidak ada industri yang tumbuh tanpa tenaga kerja yang kompeten. Tidak ada daerah yang maju jika ekosistem SDM-nya berjalan sendiri-sendiri, di kompartemen-kompartemen yang tidak saling berbicara.

Vokasi, dalam kerangka eJourney, bukan lagi urusan satu kementerian atau satu dinas – ia adalah mata rantai strategis yang menghubungkan pendidikan, pelatihan, investasi, dan pembangunan ekonomi daerah dalam satu tarikan napas.Inilah tantangan terbesar sekaligus peluang terbesar yang dihadapi Indonesia hari ini: bagaimana sebuah pemerintahan mengelola perjalanan talenta warganya bukan sebagai program, melainkan sebagai ekosistem yang hidup, belajar, dan terus beradaptasi. Ketika ekosistem itu berjalan, bukan hanya angka pengangguran yang turun – tetapi kualitas pertumbuhan ekonomi itu sendiri yang berubah: lebih produktif, lebih inklusif, dan lebih siap menghadapi gelombang perubahan berikutnya.

Revitalisasi vokasi masih punya ruang besar untuk bergerak lebih cepat. Dan eJourney menawarkan sesuatu yang selama ini absen: bukan satu program lagi, melainkan rumah besar tempat semua program itu akhirnya menemukan makna dan arahnya – perjalanan nyata setiap talenta menuju kerja yang berkualitas, kehidupan yang lebih baik, dan masa depan yang benar-benar disiapkan.

————- *** —————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!