27.2 C
Sidoarjo
Sunday, July 26, 2026
spot_img

Kemarau Ekstrem, Pasuruan Raya Diserbu 110 Kebakaran, Lahan Kering dan Korsleting Jadi Pemicu

Kota Pasuruan, Bhirawa. – Musim kemarau yang diwarnai cuaca panas terik dan angin kencang meneror wilayah Pasuruan Raya. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 110 peristiwa kebakaran melanda kawasan Kabupaten dan Kota Pasuruan.

Selain melalap puluhan hektare lahan kering, si jago merah juga menghanguskan bangunan hingga memicu kerugian material yang menembus angka Rp10 miliar. Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Pasuruan, terdapat 75 kejadian kebakaran di wilayah kabupaten.

Dari jumlah ini, mayoritas atau sekitar 85% merupakan kebakaran lahan terbuka yang ditumbuhi ilalang, rumput kering, hingga perkebunan tebu.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Peyelamatan Kabupaten Pasuruan, Bambang, menyampaikan, faktor utama penyebab amukan api di lahan terbuka adalah kelalaian warga sendiri. Banyak masyarakat yang masih mengandalkan metode pembakaran untuk membersihkan lahan, namun ditinggalkan begitu saja tanpa pengawasan.

”Penyebabnya kebanyakan karena kurangnya pemahaman pembersihan lahan. Maksudnya, habis dibakar tapi kemudian dibiarkan begitu saja,” ujar Bambang, Minggu (26/7).

Bambang menambahkan, vegetasi yang mengering akibat terik kemarau membuat percikan api sekecil apa pun mudah tersulut dan cepat merembet lantaran terpaan angin kencang. Dan meminta jajaran pemerintah desa hingga kelurahan untuk gencar mengedukasi warga.

”Bila terpaksa dibersihkan dengan cara dibakar, maka harus pastikan aman, ada orang menunggui sampai selesai. Bukan didiamkan kemudian ditinggal,” tambah Bambang mewanti-wanti.

Berita Terkait :  DPRD Jatim Ngebut Pengesahan APBD 2025 pada 10 November

Sementara itu di wilayah perkotaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pasuruan mencatat 35 kejadian kebakaran pada periode yang sama. Meski jumlah kejadiannya lebih sedikit dibanding kabupaten, nilai kerugian di kawasan kota justru melonjak tajam hingga melampaui Rp10 miliar.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kota Pasuruan, Anang Sururin menyebutkan, selain kelalaian membakar sampah, korsleting arus pendek listrik masih mendominasi pemicu kebakaran di kawasan permukiman dan industri.

”Masih banyak kebakaran yang disebabkan oleh korsleting listrik. Selain itu juga karena kelalaian, seperti membakar sampah sembarangan, penggunaan obat nyamuk bakar, lilin yang ditinggalkan menyala, hingga anak-anak yang bermain korek api,” kata Anang.

Dua insiden besar menyumbang angka kerugian paling fantastis. Kebakaran terparah menimpa gudang serbuk kayu milik PT Capital Protech Synergy di Desa Carat, Kecamatan Gempol, pada 11 Mei lalu. Musibah ini menelan kerugian sekitar Rp8 miliar. Tak hanya itu, amukan si jago merah juga meluluhlantakkan Salon Citra di Jl Ir H Juanda, Kecamatan Bugul Kidul, pada 7 Mei dengan estimasi kerugian Rp1,2 miliar.

Rangkaian insiden ini juga mencatat dua korban jiwa mengalami luka-luka ringan. Menghadapi potensi ancaman yang masih tinggi selama puncak kemarau, armada Pemadam Kebakaran terus disiagakan penuh. Petugas berkomitmen menjaga response time cepat demi meminimalkan dampak kerusakan. [hil.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!