Surabaya, Bhirawa – Tim Hasta dari Departemen Teknik Informatika ITS berhasil meraih prestasi membanggakan berkat inovasi berbasis AI di tingkat nasional. Di kompetisi IOC Forum & Hackathon AI/ML Hulu Migas 2026 yang diselenggarakan oleh SKK Migas di Jakarta, beberapa waktu lalu, tim ITS berhasil menyabet gelar Juara 2 kategori Universitas.
Pada gelaran tersebut, tim Hasta mengusung pengembangan sistem yang membantu penyusunan jadwal pemeliharaan besar di industri migas. Sistem bertajuk Turnaround AI Reinforcement Optimization Scheduler (TAROS).
Inovasi ini digagas oleh Moch Avin, I Gusti Ngurah Arya Sudewa, Hilmi Zharfan Rachmadi SKom, Tegar Ganang Satrio Priambodo SKom, dan Agus Budi Raharjo SKom MKom PhD sebagai dosen pembimbing.
Dijelaskan Ketua Tim Avin, industri migas memiliki jadwal pemeliharaan rutin yang kerap menghentikan seluruh proses produksi untuk sementara waktu. Dalam menyusun jadwal tersebut, proses manual dapat memakan waktu 40 hingga 80 jam. Hal ini disebabkan oleh ribuan tugas yang saling bergantung dan mengikuti berbagai aturan operasional. “Akibatnya, pelanggaran aturan sering luput dari perencana,” ungkapnya.
Memandang celah tersebut, tim Hasta mengembangkan TAROS yang dapat menyusun jadwal secara otomatis dengan mematuhi kapasitas sumber daya dan urutan pekerjaan. Tim ini menggabungkan Deep Reinforcement Learning (DRL), Graph Neural Network (GNN), dan Serial Schedule Generation Scheme (SSGS).
“Metode tersebut awalnya digunakan untuk menjadwalkan pemeliharaan oleh sebuah perusahaan pupuk, kemudian kamis kembangkan dan sesuaikan untuk industri migas,”papar dia
Hasilnya, pengujian dengan data pemeliharaan asli sebanyak 5.000 tugas dan 39 jenis sumber daya memberikan hasil yang efektif. TAROS mampu memangkas waktu penyusunan jadwal menjadi sekitar lima jam serta menemukan pelanggaran yang luput dari perencanaan manual. Sistem ini juga mempercepat penyelesaian jadwal hingga satu hari pada kasus yang masih dapat dioptimalkan.
Lebih lanjut, tim Hasta juga melakukan simulasi untuk menggambarkan potensi yang dapat ditimbulkan. Mengacu pada data Lapangan Pinang East Pertamina Hulu Rokan (PHR) pada Desember 2024, tim mengasumsikan satu lapangan bisa memproduksi 2.350 barel minyak per hari. Penerapan TAROS di 80 lapangan aktif PHR diperkirakan dapat menghindari kerugian produksi hingga Rp 3,2 miliar per siklus pemeliharaan.
“Angka tersebut murni simulasi dan belum diuji langsung di lapangan PHR,” jelas Ketua Tim Hasta tersebut. [ina.wwn]


