Pemprov Jatim, Bhirawa – Mewujudkan bangunan yang rendah karbon dan ramah lingkungan tidak semata-mata bergantung pada penggunaan teknologi. Upaya tersebut perlu dipikirkan sejak tahap awal penyelenggaraan bangunan, terutama melalui desain yang mampu mengurangi kebutuhan energi sebelum teknologi digunakan. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting dalam penerapan prinsip Bangunan Gedung Hijau (BGH).
Pemahaman tersebut menjadi landasan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPR KPCK) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Internal Learning Praktik Penerapan Prinsip Bangunan Gedung Hijau (BGH) melalui Rumah Susun Rendah Karbon Jalingkut, Tegal, Jawa Tengah, pada akhir Agustus 2026.
Rumah Susun Rendah Karbon Jalingkut menjadi ruang pembelajaran untuk melihat secara langsung bagaimana prinsip bangunan rendah karbon dapat diterapkan melalui pendekatan yang dimulai dari hulu. Peserta mempelajari pentingnya desain pasif (passive design), termasuk optimalisasi sirkulasi udara silang (cross ventilation), ventilasi dan pencahayaan alami, pengendalian panas, serta pemanfaatan kondisi lingkungan dan alam sekitar untuk menciptakan kenyamanan bangunan sekaligus mengurangi kebutuhan energi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa bangunan rendah karbon tidak selalu harus diawali dengan teknologi yang kompleks. Desain yang tepat sejak awal dapat mengurangi beban energi bangunan, sementara teknologi dan sistem bangunan yang efisien dapat digunakan sebagai bagian dari strategi pendukung untuk mencapai kinerja bangunan yang lebih baik.
Materi dalam kegiatan ini disampaikan oleh Dr. Eng. Muhammad Nur Fajri Alfata dari Kementerian Pekerjaan Umum serta Iman Senoadji Firmansyah, S.T., M.Eng. dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Tegal. Keduanya berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai penerapan bangunan rendah karbon serta prinsip Bangunan Gedung Hijau dalam penyelenggaraan bangunan gedung.
Kegiatan Internal Learning ini tidak hanya melibatkan aparatur DPR KPCK Provinsi Jawa Timur, tetapi juga mengundang *asosiasi profesi dan perguruan tinggi* sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif, mempertemukan pengalaman praktis dengan pengetahuan akademis, serta membangun pemahaman bersama mengenai penerapan BGH.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan, tetapi mampu membawa pembelajaran tersebut ke dalam pelaksanaan tugas masing-masing, baik dalam perencanaan, pembangunan, maupun pemanfaatan dan pengelolaan bangunan gedung. Dengan demikian, penerapan prinsip BGH dapat semakin konkret dan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan di lapangan.
Pada akhirnya, upaya mewujudkan bangunan yang efisien, rendah emisi, dan berkelanjutan membutuhkan perubahan cara pandang dalam penyelenggaraan bangunan gedung. Bangunan rendah karbon perlu dirancang sejak awal dengan memanfaatkan potensi alam dan lingkungan, mengurangi kebutuhan energi melalui desain pasif, serta didukung teknologi yang efisien.
Melalui Internal Learning ini, DPR KPCK Provinsi Jawa Timur berupaya membangun pengetahuan dan jejaring bersama untuk mendorong penerapan prinsip BGH secara lebih nyata. Belajar dari praktik Rusun Rendah Karbon Jalingkut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kompetensi SDM dan mendorong pembangunan bangunan gedung di Jawa Timur yang semakin efisien, rendah emisi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.[aya.kt]


