27 C
Sidoarjo
Wednesday, September 2, 2026
spot_img

Pemkot Probolinggo Uji PM-AAS, Incar Produksi Padi 10 Ton per Hektare


Kota Probolinggo, Bhirawa – Pemerintah Kota Probolinggo mulai menguji penerapan sistem pertanian modern melalui metode Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS).

Teknologi tersebut diterapkan pada lahan percontohan seluas 0,5 hektare di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, untuk mendorong peningkatan produktivitas padi di tengah keterbatasan lahan pertanian perkotaan.

Penanaman padi dengan metode tersebut dilakukan Selasa (1/9). Pemerintah menargetkan produktivitas mencapai sekitar 10 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.

Wali Kota Probolinggo Aminuddin mengatakan penerapan teknologi dan mekanisasi diperlukan untuk meningkatkan produktivitas lahan yang semakin terbatas. Salah satu teknologi yang diterapkan yakni sistem tanam benih langsung (Tabela) melalui PM-AAS.

“Pemerintah Kota Probolinggo memperkenalkan sistem tanam benih langsung atau Tabela melalui Advanced Agricultural System sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas lahan yang kini semakin terbatas,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Probolinggo Fitriawati mengatakan PM-AAS menggabungkan sejumlah teknologi dalam budidaya padi. Di antaranya penggunaan populasi tanaman tinggi, Tabela, mekanisasi, pengelolaan air, pemupukan spesifik lokasi serta pengendalian organisme pengganggu tumbuhan secara terpadu.

Menurut dia, metode tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan hasil panen, tetapi juga menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.

Namun, penerapan teknologi pertanian tersebut masih dalam tahap percontohan. Demplot PM-AAS berada dalam satu kawasan lahan seluas 1,2 hektare milik DKPPP. Selain padi, lahan seluas 0,7 hektare digunakan untuk demplot kacang tanah organik.

Berita Terkait :  Menparekraf Sandiaga Sebut Kurma Park Pasuruan Bisa Jadi Destinasi Wisata Halal Kelas Dunia

Bagi petani, persoalan produktivitas tidak berdiri sendiri. Biaya produksi, harga hasil panen hingga status penguasaan lahan turut menentukan keuntungan yang diperoleh.

Sahri, 60, petani asal Kelurahan Kebonsari Wetan, misalnya, saat ini menggarap sawah seluas setengah hektare dengan sistem sewa. Petani yang telah menggeluti sektor pertanian sekitar 25 tahun itu mengaku rata-rata memperoleh 4-5 ton gabah setiap kali panen.

Untuk menggarap lahan tersebut, Sahri mengeluarkan biaya sewa sekitar Rp17,5 juta. Ia juga melakukan proses penggilingan secara mandiri.

“Alhamdulillah, dengan adanya pendampingan seperti ini petani merasa terbantu. Kalau dua tahun lalu belum seperti sekarang, biaya produksi cukup tinggi dan harga hasil panen kurang menguntungkan,” katanya.

Selain mengandalkan tanaman padi, Sahri mengembangkan usaha lain untuk menopang pendapatan. Ia memiliki sekitar tujuh kolam lele dengan total populasi mencapai 30 ribu ekor. Setiap tiga bulan, lele dipanen dengan hasil sekitar 1,4 ton. Ia juga memelihara 17 ekor kambing.

Aminuddin berharap metode PM-AAS yang saat ini diterapkan melalui demplot dapat menjadi pembelajaran bagi petani sebelum dikembangkan lebih luas.

“Dengan teknologi, mekanisasi dan pendampingan yang tepat, kita berharap produktivitas meningkat, biaya produksi dapat ditekan dan pada akhirnya kesejahteraan petani juga semakin baik,” ujarnya.

Sosialisasi dan gerakan tanam padi dengan teknologi PM-AAS diikuti 30 petani. Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Timur Ismatul Hidayah sebagai narasumber. [fir.gat]

Berita Terkait :  Tarif Masuk Wisata Gunung Bromo Naik, Banyak Wisatawan Batalkan Kunjungan

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!